Tanah Senja Suguhkan Relaksasi Air Sungai Gogor Sambil Nikmati Kopi
Jombang – Berkunjung ke Wonosalam Jombang, rasanya tak lengkap kalau tidak mampir dulu di Warung Tanah Senja. Ya, Tanah Senja, warung berkonsep ramah lingkungan itu ada di Notorejo Desa Wonosalam. […]
Jombang – Berkunjung ke Wonosalam Jombang, rasanya tak lengkap kalau tidak mampir dulu di Warung Tanah Senja. Ya, Tanah Senja, warung berkonsep ramah lingkungan itu ada di Notorejo Desa Wonosalam. Tepatnya di belakang pasar Wonosalam.
Warung yang berdiri sejak 25 Oktiber 2020 itu, sengaja dibuat ramah lingkungan. Bukan karena pengelola warung berlatarbelakang peduli lingkungan. Tidak demikian tampaknya. Memang kalau mengelola warung harus benar-benar ramah lingkungan, pengelola warung dari aktifis lingkungan? Begitu tanya Afrianto Rahmawan, pengelola Warung Tanah Senja ini, Rabu, 16 Oktober 2024.
Afrianto Rahmawan, yang biasa disapa Embus oleh teman-temannya ini kemudian menjelaskan, sesuai konsep kemanusiaan sudah seharusnya untuk menciptakan lingkungan yang ramah. Dengan lingkungan yang ramah akan tercipta manusia ramah pula.
“Itu anjuran kemanusiaan lho. Kalau bicara kemanusiaan tentu semua agama, termasuk menyangkut ideologi sangat dianjurkan untuk ramah lingkungan. Tak menutup kemungkinan termasuk mendirikan warung kopi, “ ucap Embus.
Embus tampaknya gelisah, jika warung yang ia kelola ini tak menunjukkan ramah lingkungan. Hingga dia harus menyediakan straw, -alat sedot minum yang sekarang lagi ngetrend terbuat dari stainless.
“Ini yang kadang kita punya pikiran aneh-aneh ke pelanggan. Meski kita menggunakan stainless straw untuk minum. Masih juga ada pelanggan tak mau menggunakan. Mungkin saja mereka ragu kali ya, kita kurang bersih kalau mencuci, “ kata Embus.
Bagi Embus tak soal jika ada pelanggan saat pesan minuman dalam gelas, baik es teh, redvelvet, buttermilk maupun coklat. Tiba-tiba ia melihat ada pelanggan tak menggunakan straw stenles ketika menikmati minuman yang dipesannya. Ia segera mendekat dan memberi penjelasan kepada pelanggan, bahwa alat sedot minuman ini sudah dicuci bersih. Artinya, sudah melalui berbagai tahapan penyucian, mulai dari direndam dengan air panas hingga wash clean.
“Image bahwa straw dari plastik aman digunakan itu sangat kurang tepat. Kalau kita tahu, bagaimana bahayanya mikro plastik di straw itu. Apalagi straw dibuat secara industrial. Kita juga tak tahu kalau straw yang dijual dari hasil pungutan sekali pakai, “ jelas Embus.
Bukan hanya straw saja yang Embus perhatikan dalam pengelolaan Warung Tanah Senja ini. Ia juga memperhatikan sampah-sampah di sekitar warung. Apalagi warung Tanah Senja berdekatan dengan Sungai Gogor, yang merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS). Yang airnya mengalir hingga Sungai Brantas. Maka itu ia sangat serius dalam menata lingkungan warung.
“Membangun sebuah usaha, kita tak sekadar mencari keuntungan duit. Tapi juga keuntungan batin, “ ujar Embus bernada filosuf.
Benar apa yang dikatan Embus. Warung Tanah Senja yang nampak berdiri vintage dalam pandangan. Berdiri di atas lahan 10 x 25 m itu. Duduk di outdoor sangat terasa kenyamanannya. Sungai Gogor yang suara airnya gemericik, sungguh menambah suasana mirip sedang relaksasi. Semua serasa fresh dan menyenangkan. Belum lagi dibarengi menikmati kopi excelsa, kopi endemik Wonosalam yang tumbuh di hutan-hutan Wonosalam.
Umi Kholifah, dalam pandangan, jauh-jauh dari Gresik datang ke Wonosalam hanya ingin menikmati suasana Warung Tanah Senja. Meski sebutannya warung, kata Umi, tak kalah menarik dalam pengelolaannya dengan kafe-kafe yang ada. Bukan sekadar nongkrong di warung saja. Tapi juga ada kegiatan lain, yaitu pengunjung bisa mengikuti kegiatan tour wisata berbasis penelitian lingkungan.
“Jadi, kami datang ke sini bukan ingin nongkrong. Kami ingin memanfaatkan paket tour wisata lingkungan, “ kata Umi yang sudah dua hari berada di Wonosalam ini.
Dari situlah Umi yang semula tidak tahu, bahwa untuk mengetahui kelayakan air sungai ada metode sensus. Ia sendiri sempat tersenyum kecut, ketika membaca berita-berita maupun postingan warga media sosial tentang sensus sungai.
“Menurutku aneh. Karena yang saya ketahui, istilah sensus itu hanya di kependudukan saja. Artinya, sekarang saya tahu, kalau biota sungai itu bisa diketahui lewat sensus, “ ucap Umi.
Dari sini kemudian Umi tahu, sebagai orang awam bahwa pengetahuan itu tak harus diperoleh dari pendidikan formal.
“Nongkrong di warung kopi, kita ternyata bisa belajar, “ tandas Umi yang dibenarkan lima orang temannya, Sela, Anugrah, Fito, Laily, dan Gita. ***
Writer: Pliplo S
Editor: Pliplo S







