Home Uncategorized Gamelan Diangkut Orang “Jawa”.(Catatan artistik, Besut Jogo Regol- Dewan Kesenian Surabaya).
Uncategorized

Gamelan Diangkut Orang “Jawa”.(Catatan artistik, Besut Jogo Regol- Dewan Kesenian Surabaya).

Jombang, 10 Mei 2026 – Merepost tulisan Cak Meimura Seniman asal Surabaya yang gelisah terhadap nasib berkesenian di Surabaya di media facebook (10/5) . Ada ironi yang kadang terlalu lucu […]

Jombang, 10 Mei 2026 – Merepost tulisan Cak Meimura Seniman asal Surabaya yang gelisah terhadap nasib berkesenian di Surabaya di media facebook (10/5) .

Ada ironi yang kadang terlalu lucu untuk ditertawakan, terlalu menyakitkan untuk ditangisi. Maka ia cocok dijadikan kebudayaan birokrasi.

Di kota yang gemar menyebut dirinya kota pahlawan, kebudayaan rupanya mulai diperlakukan seperti barang pindahan kos: bisa diangkut kapan saja, asal suratnya lengkap dan truknya cukup besar.

Mula-mula dibentuklah lembaga dengan nama gagah: *Dewan Kebudayaan*. Nama yang terdengar seperti hendak menyelamatkan peradaban, menyusun ulang arah estetik kota, merawat ingatan kolektif, hingga mungkin kalau sempat memperbaiki akhlak pejabat yang suka lupa sejarah. Publik pun membayangkan akan lahir ruang dialog, gagasan, riset, dan penghormatan pada ekosistem kesenian.

Ternyata yang lebih dahulu bergerak justru pasukan pengangkut.

Sementara itu, lembaga yang sudah hampir setengah abad ngopeni kesenian kota ini, yaitu Dewan Kesenian Surabaya, justru seperti sedang dipraktikkan teori “penguburan administrasi modern.” Tidak dibubarkan secara resmi, tidak diajak bicara secara bermartabat, tapi ruangannya dikosongkan perlahan seperti kamar kontrakan yang telat bayar tiga bulan.

Yang paling tragis sekaligus absurd adalah adegan pengangkutan gamelan.

Bayangkan.

Perangkat gamelan pelog dan slendro — simbol adiluhung peradaban Jawa, bunyi yang diwariskan lintas generasi, nada-nada yang dulu dipakai mengiringi ritual, ludruk, wayang, hingga doa-doa kebudayaan — diangkut dengan pengawalan aparat lengkap.

Ada Satpol PP.

Ada Kepala UPTD.

Ada aparat dari Kepolisian, Koramil ikut mengawasi.

Entah mengapa adegan itu terasa seperti razia bunyi.

Mungkin gamelan dianggap berbahaya.

Barangkali kendang dicurigai subversif.

Atau mungkin gong dianggap dapat menggulingkan kekuasaan karena suaranya terlalu bulat dan jujur.

Yang lebih lucu lagi: semua dilakukan oleh orang Jawa sendiri.

Ya, oleh orang-orang yang secara kultural lahir dari rahim bunyi gamelan itu juga.

Ironi terbesar Nusantara memang sering lahir bukan dari penjajah, melainkan dari sesama anak kandung kebudayaan yang mendadak alergi pada induknya sendiri.

“ Keciput dirubung Semut. Gak melok tuku, gak melok ngramut,kok pingin ngemut.”😄

Parik-an sederhana itu sebenarnya adalah disertasi kebudayaan paling jujur hari ini.

Tidak ikut membeli.

Tidak ikut merawat, kok ingin menikmati.

Dan merasa paling berhak menentukan nasibnya.

Persis seperti banyak kebijakan kebudayaan modern: jauh dari peluh seniman, tetapi dekat dengan stempel dan berita acara.

Anak-anak yang biasa latihan ludruk kehilangan ruang.

Mereka mungkin belum paham politik anggaran, konflik kelembagaan, atau strategi pencitraan kota. Mereka hanya tahu satu hal sederhana: hari ini mereka tidak bisa latihan.

Dan mungkin di situlah kekalahan kebudayaan dimulai.

Bukan saat gedung dikosongkan.

Bukan saat gamelan dipindahkan.

Tetapi saat anak-anak mulai kehilangan tempat untuk menabuh imajinasi.

Karena kebudayaan tidak mati ketika senimannya miskin.

Kebudayaan mati ketika ruang hidupnya dianggap gangguan ketertiban.

Yang juga menarik untuk dicatat secara akademis adalah fenomena diamnya Dewan Kebudayaan yang baru dibentuk. Diam yang sangat estetik. Diam yang nyaris performatif. Diam yang bila dipentaskan mungkin layak mendapat penghargaan tata hening terbaik tahun ini.

Padahal publik menunggu suara.

Minimal bunyi “ting.”

Atau satu ketukan kenong kecil saja.

Namun yang terdengar justru suara derap sepatu Lars pasukan mengangkut.

Mungkin beginilah model baru pelestarian budaya:

gamelannya diamankan,

senimannya disingkirkan,

ruangnya dikosongkan,

lalu kebudayaan dibahas dalam seminar berpendingin udara.

Kota ini memang hebat.

Bisa memindahkan gamelan dengan pengawalan aparat, tetapi sering gagap memindahkan ego menjadi dialog.

Bisa membentuk Dewan Kebudayaan dalam hitungan minggu, tetapi lupa bahwa kepercayaan seniman dibangun puluhan tahun.

Dan sejarah, seperti gamelan, sebenarnya sederhana:

ia akan terus berbunyi.

Meski dipindah.

Meski disimpan.

Meski coba dibungkam.

Sebab bunyi kebudayaan tidak tinggal di gudang.

Ia tinggal di kepala orang-orang yang pernah mencintainya.

Previously

SAAT DKS DIUSIR ; LUDRUK MASUK GEDUNG KESENIAN JOMBANG

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement