Home Uncategorized Mengkomparasi Klaim Bahwa IQ Rata-Rata Penduduk Indonesia (Termasuk Gen Z) Setara Dengan Gorila
Uncategorized

Mengkomparasi Klaim Bahwa IQ Rata-Rata Penduduk Indonesia (Termasuk Gen Z) Setara Dengan Gorila

Jombang , 30 April 2026 –Tulisan Nightinker Kreator Digital tinggal di Sragen Jurusan Guidance and Counseling di Universitas Sebelas Maret angkatan 2024 begitu yang matajombang.com membaca profilnya di media FB. Matajombang.com […]

Jombang , 30 April 2026 –Tulisan Nightinker Kreator Digital tinggal di Sragen Jurusan Guidance and Counseling di Universitas Sebelas Maret angkatan 2024 begitu yang matajombang.com membaca profilnya di media FB. Matajombang.com merasa tertarik untuk merepost karena sedang hangatnya tentang Klaim bahwa IQ rata-rata penduduk Indonesia (termasuk Gen Z) setara dengan gorila adalah perbandingan yang keliru dan menyesatkan, meskipun sempat viral di akhir 2025. Marah, tersinggung boleh saja tapi pikiran waras untuk untuk mengupasnya menjadi hal penting untuk berkontemplasi tentang sebuah peristiwa . Mungkin tulisan ini bisa dipakai komparasi dalam menanggapi klaim di atas ini.

Menanggapi Pernyataan Ignatius Bambang Sugiharto, bisa dipahami bukan sebagai “penyakit medis”, tetapi sebagai Penyakit Sosial-Kognitif, dimana lemahnya kualitas berpikir, berbahasa, dan berinteraksi di masyarakat.

Membaca adalah fondasi utama kemampuan berbahasa. Dalam ilmu linguistik dan pendidikan, membaca dapat memperkaya kosakata, struktur kalimat, dan cara berpikir manusia.

Semua itu menjadi bahan baku komunikasi (lisan maupun tulisan). 📊Studi literatur menunjukkan bahwa literasi membaca berpengaruh besar terhadap kemampuan komunikasi siswa, atau dalam konteks lebih luas terhadap masyarakat.

Membaca dapat meningkatkan pengetahuan, dari pengetahuan yang luas dapat memperkaya isi komunikasi, akhirnya komunikasi jadi lebih jelas & bernilai (berbobot). Itu artinya, Orang yang jarang membaca, cenderung memiliki kosakata yang terbatas, Sulit menyusun argumen dengan baik sehingga dangkal isi bicaranya, serta cenderung emosional dan reaktif karena mengedepankan irasional, bukan rasional.

Menulis adalah “produk akhir” dari literasi. Tidak mungkin seseorang menulis dengan baik tanpa input bacaan yang cukup. 📊Dalam bukti penelitian ilmiah, Literasi (membaca) terbukti signifikan meningkatkan kemampuan menulis teks (p < 0.005).

Secara khusus, seseorang yang membaca sastra meningkatkan kemampuan menulis secara signifikan, dibandingkan dengan seseorang yang tidak membaca sama sekali.

Kenapa ? 🤔

Ya… Karena saat membaca, otak menyerap berbagai Pola kalimat, Gaya bahasa, serta Struktur argumen pada bacaan. Tanpa itu (membaca), tulisan menjadi Berantakan, Tidak sistematis, bahkan Dangkal secara isi.

Ini yang dimaksudkan oleh Bambang Sugiharto sebagai “JEBLOK” dalam Berkomunikasi dan menulis, akibat tidak Membaca.

Literasi bukan hanya soal bahasa, tapi soal cara berpikir.

Penelitian menunjukkan, bahwa membaca & menulis berkaitan dengan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Jika tingkat literasi saja rendah, maka Orang akan sulit membedakan mana yang Fakta dengan mana yang Opini. Orang dengan literasi yang rendah akan cenderung mudah termakan hoaks, serta tidak terbiasa berpikir secara mendalam. Hal ini yang disebut sebagai “PENYAKIT SOSIAL KOGNITIF”.

Kemampuan membaca pemahaman di Indonesia masih rendah (terlihat dari studi seperti PISA). Bahkan di kalangan guru sendiri, sekitar 47% belum pernah menulis karya ilmiah. Fakta bahwa rendahnya keterampilan menulis berkaitan dengan rendahnya kebiasaan membaca di masyarakat. Hal ini menunjukkan, bahwa masalah literasi bukan hanya pada siswa atau dilembaga pendidikan sekolah, tapi sistemik berada pada lingkungan masyarakat juga.

PENYAKIT INDONESIA HARI INI❔❓

Secara analitis, maksud Bambang Sugiharto ini bisa ditarik pada fenomena sosial, seperti:

🔺Diskursus Publik Dangkal.

Dimana banyak orang-orang berdebat, namun minim data.

Dalam berargumen lebih dominan menyampaikan Opini, bukan argumen yang berlandaskan pada ilmu pengetahuan.

🔺Polarisasi & Emosi Tinggi.

Komunikasi tidak berbasis pemahaman yang mendalam, karena kebanyakan orang cenderung mendahulukan ego yang bersifat reaktif daripada mendahulukan rasio sehatnya. Sehingga, mudah tersulut karena tidak terbiasa membaca secara mendalam sebuah teks dan konteks.

🔺Budaya “Bicara tanpa Membaca”.

Banyak orang bicara dengan cepat bahkan lantang, tetapi tidak punya basis pengetahuan yang kuat, yang fundamental.

⚠️Hal ini sesuai dengan teori: Low Literacy ➡️Low Reasoning ➡️High Emotional Reaction.

SINTESIS

Pernyataan tersebut sebenarnya bisa diringkas menjadi hukum pikiran sederhana, Membaca ➡️membentuk Pikiran ➡️membentuk Bahasa ➡️membentuk Peradaban.

Jika tingkat membaca rendah, sudah dipastikan bahwa seseorang akan memiliki pikiran yang dangkal, kemampuan bahasa yang kacau, serta diskursus menjadi rusak.

➡️Maka muncullah “PENYAKIT SOSIAL”: hoaks, debat kosong, komunikasi kasar, dan miskin makna. 🇮🇩

REFLEKSI

Dalam perspektif yang lebih filosofis.

🔹Membaca = “menyerap makna” (ma’rifah eksternal)

🔹Menulis = “memproyeksikan makna” (ekspresi batin)

Jika seseorang tidak membaca, maka Ia tidak punya “isi batin intelektual”, alhasil yang keluar hanyalah reaksi, bukan refleksi. Ini yang menurunkan nilai peradaban.

✨KESIMPULAN

Pernyataan Bambang Sugiharto valid secara ilmiah, bahwa Membaca terbukti dapat meningkatkan kemampuan komunikasi & menulis.

Literasi, terbukti membentuk cara berpikir atau pola berpikir.

➡️Maka Benar, rendahnya budaya membaca adalah akar dari banyak “PENYAKIT SOSIAL INTELEKTUAL” di Indonesia.

Sumber :

https://www.facebook.com/share/p/1E11JGQq7z

Previously

Seminar Nasional “Dari Prasasti ke Ruang Publik: Menghidupkan Kembali Situs Munggut di Jombang”

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement