“Vertical Film China, Hiburan Cepat yang Diam-diam Mengubah Kita”
Jombang, 18 Mei 2026 – Repost dari tulisan Ahmad Yusuf tentang fenomena Dracin (Drama China) di group LESBUMI NU yang merupakan kepanjangan dari Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia . Sebelumnya, […]
Jombang, 18 Mei 2026 – Repost dari tulisan Ahmad Yusuf tentang fenomena Dracin (Drama China) di group LESBUMI NU yang merupakan kepanjangan dari Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia . Sebelumnya, lembaga ini dikenal dengan nama Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia sejak didirikan pada 28 Maret 1962
Kompilasi KaHaDeepSeek
Pernah nggak sengaja scroll TikTok atau YouTube, terus mata kamu kebetulan liat adegan drama pendek, cewek digampar majikan, lalu tiba-tiba bos tampan berkacamata hitam nyeleret datang pakai mobil mewah? Kamu cuma mikir, “ah, lebay.” Tapi kamu penasaran, lanjut. Satu episode, dua episode, tahu-tahu udah 20 episode. Dan itu cuma dalam satu jam.
Selamat datang di dunia vertical film China. Hiburan instan yang bikin kamu susah berhenti. Bukan cuma di Indonesia, di Amerika dan China sendiri juga lagi demam.
Vertical film atau micro drama adalah tontonan berseri yang difilmkan secara vertikal (portrait) persis seperti video TikTok. Setiap episode hanya 1–3 menit. Ceritanya cepat, penuh konflik, dan setiap episode selalu ditutup dengan cliffhanger adeganmenggantung yang bikin kamu pengen lanjut terus. Platformnya macam Free Reel, Melolo, Dracin, dan aplikasi berbayar seperti ReelShort. Model bisnisnya juga licin kamu nonton gratis beberapa episode, lalu tiba-tiba muncul paywall. Kalau udah kecanduan, kamu rela bayar.
Kenapa ini begitu adiktif? Jawabannya ada di otak kita. Format pendek dengan cliffhanger memicu pelepasan dopamin zat kimia di otak yang bikin merasa senang. Kamu penasaran, lalu kamu lanjut, dapat kepuasan kecil, lalu penasaran lagi. Siklus ini terus berulang. Psikolog menyebutnya instant gratification, kebutuhan akan kepuasan instan. Kamu nggak perlu mikir keras, tinggal geser, tap, dan nikmati.
Hasil survei Litbang Kompas (Agustus 2025) menemukan bahwa 41,79 persen penonton akan tetap menonton film atau drama sampai selesai meski sudah tahu akhir ceritanya. Ini mirip dengan kebiasaan nonton vertical film, kamu tahu endingnya bakal bahagia, tapi kamu tetap penasaran bagaimana caranya sampai ke sana.
Data spesifik untuk Indonesia masih minim, tapi pola global menunjukkan bahwa yang paling rentan adalah kelas pekerja dan anak muda yang punya waktu luang sedikit di sela-sela commute, saat istirahat kerja, atau sebelum tidur. Mereka yang memiliki manajemen waktu buruk lebih mudah terjebak karena otak cenderung memilih hiburan mudah daripada aktivitas yang butuh usaha lebih.
Di China, kampung halamannya, pasar short drama sudah tembus 37,39 miliar yuan (sekitar Rp80 triliun) pada 2023. Diproyeksikan jadi 100 miliar yuan pada 2027. Angka ini bukan iseng-iseng. Di sana, produser bahkan mulai pakai AI untuk nulis skenario. Kecepatan adalah segalanya.
Di Amerika, aktor-aktor mulai berbondong-bondong main vertical film. Nicholas McDonald bilang, 80 persen audisi yang dia ikuti sekarang adalah untuk vertical drama. “Aku bisa ninggalin kerja sampingan. Ini keren banget,” katanya. Produser di AS bahkan nggak merasa bersaing dengan Netflix atau HBO. Mereka bersaing dengan TikTok, YouTube, dan Instagram. Targetnya bukan penonton yang mau nonton film dua jam, tapi orang yang lagi scrolling lima menit.
Di Indonesia, ada sisi positifnya juga. Festival film seperti Madani International Film Festival (MIFF) pernah pakai format vertikal untuk angkat isu toleransi dan anti-radikalisme. Tapi sayangnya, konten-konten positif ini kalah populer sama drama klise China yang diulang-ulang.
Masalah yang Mulai Muncul, Unsur Sensual di Zona Abu-Abu,belakangan banyak vertical film yang mulai menyelipkan adegan sensual. Nggak vulgar sampai melanggar aturan, tapi cukup intim untuk memancing perhatian. Pelukan erat, tatapan lama, adegan “hampir”. Ini masuk zona abu-abu, secara regulasi lolos, tapi secara nilai terutama di Indonesia yang mayoritas religius ini dianggap melampaui batas.
Para produser tahu persis apa yang mereka lakukan. Sutradara Weiyang Li dari FlareFlow bilang jujur: “Penonton bisa langsung kecanduan tanpa perlu mikir keras. Semua orang sudah kelelahan sama hidup.”
Dan karena penonton nggak perlu mikir keras, mereka jadi terbiasa dengan pola sederhana, konflik musuh, cemburu, adegan intim yang diulang, bos kaya yang kejam tapi akhirnya baik, cewek lugu yang akhirnya menang. Pola itu diulang, diulang, dan diulang. Sampai akhirnya selera kamu berubah. Apa yang dulu kamu anggap “lebay” atau “kelewatan”, sekarang terasa… biasa aja.
Fenomena vertical film China bukan sekadar tren hiburan baru. Ini adalah pertemuan antara algoritma yang pintar, desain psikologis yang manipulatif, ekonomi perhatian yang haus uang, dan kelemahan manusia yang susah berhenti.
Selera memang berubah, tapi apakah kita yang mengubahnya, atau kita yang diubah?
Jawabannya ada di tangan kamu. Tepat di tangan yang sedang memegang HP sekarang….







