Home News Kecewa Tak Dapat Kompensasi, Pemilik Lahan Blokir Jalan Menuju Cagar Budaya Nasional di Jombang
News

Kecewa Tak Dapat Kompensasi, Pemilik Lahan Blokir Jalan Menuju Cagar Budaya Nasional di Jombang

Jombang – Sudah dua pekan akses jalan menuju situs Cagar Budaya Nasional Petirtaan Sumberbeji ditutup oleh pemilih lahan. Situs yang berada di Dusun Sumberbeji Desa Kesamben Ngoro itu, kini nampak […]

Palangan bambu alat untuk memblokir akses jalan menuju situs nasional sumberbeji. Foto: Ist

Jombang – Sudah dua pekan akses jalan menuju situs Cagar Budaya Nasional Petirtaan Sumberbeji ditutup oleh pemilih lahan.

Situs yang berada di Dusun Sumberbeji Desa Kesamben Ngoro itu, kini nampak sepi dari biasanya. Padahal situs yang belum lama disahkan sebagai struktur budaya tingkat nasional ini, selalu dikunjungi warga.

Pemilik lahan akses jalan Imaduddin Fitri mengatakan, sengaja memblokir jalan tersebut. Karena selama ini tak pernah mendapat kompensasi apapun dari pengelola situs. Tentu saja ia merasa kecewa dan dirugikan oleh pihak pengeola.

Imaduddin juga mengungkapkan, pemblokiran jalan ini merupakan langkah yang dilakukan kesekian kalinya. Karena ia sudah tak mampu menahan diri dan tentu saja meluapkan emosi dengan cara menutup akses jalan ke situs.

Padahal berbagai cara sudah ia tempuh, agar mendapat kompensasi yang adil, namun hal itu tak kunjung terealisasi.

Dalam kesempatan lain ia juga sudah menyampaikan kepada pemilik toko agar digratiskan tanpa adanya biaya sewa. Jika itu terjadi dengan sukarela, ia pun tidak mempermasalahkan terkait bagi hasil dari lahannya tersebut.

“Begini, jika itu tujuannya untuk kemaslahatan, saya persilahkan penghuni toko tidak usah ditarik biaya sewa. Saya juga sukarela kok membuka dan tidak mempermasalahkan itu,” ucap Imaduddin yang dikutip Tribun Jombang pada Jumat, 8 November 2024.

Namun Imaduddin tetap akan menuntut, jika tetap ada penarikan biaya sewa sebesar Rp 15 ribu. Karena punya hak yang sama untuk mendapat bagian.

Imaduddin mengungkapkan, selama ini hanya paguyuban saja yang memperoleh keuntungan dari penarikan biaya sewa.

“Kalau dimintai tarif sewa sebesar Rp 15 ribu, saya juga minta bagian. Saya minta bagian pun hanya Rp 3 ribu. Karena selama ini pihak paguyuban saja yang untung. Sedangkan kami yang punya lahan untuk akses masuk ke situs ini malah tidak dapat apa-apa,” ujar Imaduddin.

Karena merasa tidak diperhatikan itulah, Imaduddin kemudian meluapkan emosinya dengan cara memblokir jalan. Menuerut Imaduddin, cara ini memang satu-satunya cara yang tepat sebagai tanda protes kepada paguyuban selaku pengelola wisata dan toko-toko yang ada di dalam lokasi situs.

“Saya sudah pikirkan ini matang-matang. Sudah saya rembuk juga dengan keluarga dan saya pelajari aturannya. Untuk sampai sepi ke pedangan di dalam wisata, jangan salahkan saya. Saya sudah memberi solusi ke pengelola dalam hal ini paguyuban tapi tidak ada jawaban,” jelas Imaduddin.

 Sementara itu, ketua paguyuban yang mengelola situs petirtaan Sumberbeji Gus Aan, masih susah untuk dimintai keterangan. Ia selalu tak pernah menampakkan diri, ketika di situs tersebut didatangi wartawan.

Pamong Budaya Ahli Muda dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang, Anom Antoro mengaku,  belum menerima laporan resmi dari tim juru pelihara situs mengenai pemblokiran akses jalan ini.

Ia akan memastikan untuk segera mengambil tindakan jika laporan resmi sudah diterima. “Kami memiliki dua juru pelihara di sana, namun hingga saat ini belum ada laporan resmi yang masuk. Jika nanti sudah ada laporan, kami pasti akan menindaklanjutinya,” kata Anom. ***

Writer: Tim

Editor: Pliplo Supriyadi

Previously

Sebanyak 13.594 Petugas KPPS Dilantik, KPU Jombang: Siap Bertugas

Next

Usai Foya-foya, Pelaku Perampokan di Jombang Dihadiahi Timah Panas

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement