Kuda Hitam dalam Bursa Ketua Umum PBNU Jelang Muktamar ke-35 NU
Jombang,24 Juli 2026 – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026, dinamika bursa calon Ketua Umum […]
Jombang,24 Juli 2026 – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026, dinamika bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin menghangat. Salah satu nama yang kini banyak diperbincangkan adalah Menteri Haji RI, KH Dr. Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, yang oleh sejumlah kalangan disebut sebagai “kuda hitam” dalam kontestasi pemilihan Ketua Umum PBNU.
Penyebutan Gus Irfan sebagai kuda hitam muncul karena namanya menguat dari arus bawah Nahdliyin tanpa adanya deklarasi pencalonan ataupun manuver politik terbuka. Dukungan tersebut lahir dari berbagai kalangan, mulai dari kiai, santri, alumni pesantren, hingga warga Nahdlatul Ulama di berbagai daerah yang menilai Gus Irfan memiliki kapasitas kepemimpinan, rekam jejak pengabdian, integritas, serta kemampuan membangun komunikasi yang baik di tengah keberagaman warga NU.
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Rejoso, KH Zainul Ibad Wijaya As’ad atau Gus Ulib, menegaskan bahwa menguatnya nama Gus Irfan bukanlah hasil upaya pribadi maupun tim tertentu, melainkan murni aspirasi warga Nahdliyin.

“Perlu dipahami bersama bahwa Gus Irfan tidak pernah meminta untuk dicalonkan ataupun menyatakan diri maju sebagai Ketua Umum PBNU. Dukungan yang berkembang saat ini sepenuhnya merupakan harapan dari warga Nahdliyin yang menginginkan beliau bersedia mengemban amanah tersebut,” ujar Gus Ulib dilansir dari beberapa media online.
Menurutnya, fenomena munculnya Gus Irfan sebagai kuda hitam justru menunjukkan adanya keinginan sebagian warga NU menghadirkan figur pemersatu yang mampu menjawab tantangan organisasi di masa depan.
“Yang ada sekarang adalah inisiatif para Nahdliyin. Mereka berharap Gus Irfan bersedia memimpin PBNU. Ini murni permohonan dari warga NU, bukan permintaan dari beliau,” tegasnya.
Gus Ulib menilai dukungan tersebut merupakan ekspresi kepercayaan terhadap sosok Gus Irfan yang dinilai mampu merangkul seluruh elemen NU tanpa sekat golongan maupun kepentingan tertentu.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak salah menafsirkan kemunculan nama Gus Irfan sebagai ambisi pribadi untuk mengejar jabatan. Menurutnya, dinamika yang berkembang merupakan bagian dari proses demokrasi dan musyawarah yang menjadi tradisi dalam tubuh Nahdlatul Ulama.
Muktamar ke-35 NU sendiri diperkirakan akan menjadi momentum penting dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi ke depan. Seiring menguatnya berbagai nama calon, kemunculan Gus Irfan sebagai kuda hitam menjadi salah satu fenomena yang menarik perhatian publik karena berasal dari aspirasi akar rumput, bukan dari deklarasi politik yang terencana.
Pada akhirnya, seluruh warga Nahdlatul Ulama berharap Muktamar ke-35 mampu melahirkan pemimpin terbaik yang dapat menjaga persatuan organisasi, memperkuat khidmah kepada umat, serta membawa NU semakin berperan bagi kemajuan bangsa dan negara.







