Home News MEMBANGKITKAN PANGGUNG, MENGHIDUPKAN INGATAN
News

MEMBANGKITKAN PANGGUNG, MENGHIDUPKAN INGATAN

Ketika Sidokerto Kembali Berdialog dengan Besutan Jombang, 26 Juli 2026 – Pada sebuah desa, ada banyak cara untuk mengukur kemajuan. Jalan yang mulus, lampu penerangan yang terang, saluran irigasi yang […]

Ketika Sidokerto Kembali Berdialog dengan Besutan

Jombang, 26 Juli 2026 – Pada sebuah desa, ada banyak cara untuk mengukur kemajuan. Jalan yang mulus, lampu penerangan yang terang, saluran irigasi yang lancar, atau bangunan-bangunan baru yang berdiri megah sering kali menjadi indikator utama keberhasilan pembangunan. Namun, ada satu ukuran yang kerap luput dari perhatian: apakah desa itu masih mengenali dirinya sendiri? Apakah masyarakatnya masih memiliki ruang untuk merawat ingatan, merayakan identitas, dan mewariskan nilai-nilai yang membentuk mereka sebagai sebuah komunitas?

Barangkali bagi sebagian orang, pertunjukan Besutan dalam rangkaian Kirab Pesta Panen Desa Sidokerto, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang yang digelar pada hari Minggu, 26 Juli 2026 di Balai Desa Sidokerto, hanyalah satu sajian hiburan dalam menyemarakkan perayaan desa. Masyarakat juga disuguhi Remo Boletan, kesenian khas Jombang yang juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Namun bagi Sidokerto, peristiwa itu memiliki makna yang jauh lebih dalam. Siang itu sesungguhnya merupakan sebuah pernyataan: bahwa desa ini masih ingin mengingat siapa dirinya.

Setelah cukup lama vakum, aktivitas Besutan kembali bergeliat melalui Karang Taruna Sido Karya dengan dukungan Pemerintah Desa Sidokerto. Para pelaku seni kembali berkumpul. Dialog kembali dilafalkan. Iringan gamelan kembali ditabuh. Tawa yang lama menghilang mulai terdengar lagi. Panggung yang sempat sunyi perlahan menemukan denyut kehidupannya. Sesungguhnya yang sedang dibangkitkan bukan hanya sebuah kelompok seni, namun keberanian sebuah desa untuk berdialog dengan sejarahnya sendiri.

Besutan bukan sekadar cikal bakal ludruk sebagaimana dikenal masyarakat Jawa Timur. Di Jombang, Besutan memiliki jejak sejarah, gaya tutur, karakter tokoh, dan kekhasan ekspresi yang tumbuh dari pengalaman masyarakatnya sendiri. Ia lahir dari denyut kehidupan rakyat, dari sawah, pasar, langgar, hingga balai desa. Karena itu, menghidupkan kembali Besutan bukan hanya melestarikan sebuah seni pertunjukan, melainkan mengembalikan salah satu penanda identitas budaya Jombang yang nyaris tenggelam oleh perubahan zaman.

Pada panggung Besutan, masyarakat diajak bercermin. Kehidupan sehari-hari dipentaskan dengan segala kelucuannya, kesedihannya, kegelisahannya, sekaligus harapannya. Tokoh-tokohnya berbicara menggunakan bahasa rakyat. Humornya lahir dari pengalaman masyarakat sendiri. Namun kekuatan Besutan sesungguhnya bukan hanya terletak pada kemampuannya membuat orang tertawa.

Sejak dahulu, Besutan dan ludruk identik dengan kritik sosial. Kritik terhadap ketimpangan, perilaku para pemimpin, persoalan ekonomi, maupun dinamika kehidupan masyarakat yang selalu disampaikan melalui satire yang cerdas. Penonton tertawa, tetapi dalam waktu yang sama mereka diajak berpikir. Di situlah seni menjalankan salah satu fungsi tertuanya: menjadi cermin bagi masyarakat untuk melihat dirinya sendiri.

Karena itulah, kehilangan Besutan bukan sekadar kehilangan hiburan. Kita kehilangan salah satu cara masyarakat membaca zamannya. Maka ketika Pemerintah Desa Sidokerto memutuskan memberikan ruang bagi hidupnya kembali Besutan, ini memunculkan pertanyaan. Bukankah kritik sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesenian ini? Apakah pemerintah Desa tidak khawatir apabila panggung itu justru menjadi ruang kritik terhadap kebijakan yang mereka jalankan?

Pertanyaan tersebut dijawab dengan sikap yang justru menjadi pelajaran penting tentang bagaimana kebudayaan dan pemerintahan dapat saling menguatkan. Kepala Desa Sidokerto, Drs. H. Abdul Halim, memandang kritik sosial yang disampaikan melalui Besutan bukan sebagai ancaman bagi pemerintah desa, melainkan sebagai bentuk kontrol sosial sekaligus ruang refleksi terhadap arah pembangunan desa. Pandangan ini menunjukkan bahwa keberanian menghidupkan Besutan juga merupakan sebuah keterbukaan terhadap kritik sebagai bagian dari proses membangun masyarakat yang sehat. Dalam perspektif itu, panggung Besutan tidak lagi hanya menjadi ruang hiburan, tetapi menjadi ruang dialog. Pemerintah tidak berbicara sendirian, masyarakat pun tidak hanya menjadi penonton pembangunan. Keduanya bertemu dalam bahasa budaya yang akrab, jenaka, tetapi sarat makna. Kritik tidak disampaikan dengan kemarahan, melainkan dengan keluhuran seni yang mengajak semua pihak tertawa sebelum akhirnya merenung. Barangkali inilah bentuk demokrasi yang paling membumi. Ketika kritik tidak dibungkam, melainkan diberi tempat untuk tumbuh melalui kebudayaan.

Di tengah derasnya modernisasi, keputusan menghidupkan kembali Besutan menjadi sebuah tindakan yang patut diapresiasi. Ia bukan bentuk penolakan terhadap kemajuan. Sebaliknya, ia merupakan upaya memastikan bahwa kemajuan tidak membuat masyarakat tercerabut dari akar budayanya. Di tengah zaman yang sering mengukur keberhasilan pembangunan melalui angka-angka statistik dan proyek-proyek fisik, Sidokerto menunjukkan bahwa keberanian membangun kebudayaan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari membangun desa itu sendiri.

Tradisi yang hidup bukanlah tradisi yang membeku. Ia terus bergerak mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Karena itu, revitalisasi Besutan tidak boleh dimaknai sebagai usaha mengulang masa lalu secara persis. Yang perlu dihidupkan adalah semangatnya: menjadi media dialog sosial, ruang pendidikan budaya, sekaligus wahana memperkuat kohesi masyarakat.

Jalan dapat menghubungkan antarrumah. Jembatan dapat menghubungkan dua wilayah. Namun kebudayaan menghubungkan antargenerasi. Gedung dapat menjadi tempat berkumpul, tetapi kesenian memberi alasan mengapa masyarakat ingin berkumpul. Karena itu, pembangunan kebudayaan sesungguhnya sama pentingnya dengan pembangunan fisik.

Keberanian Pemerintah Desa Sidokerto memberi ruang bagi Besutan patut dipandang sebagai investasi sosial jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak segera tampak dalam angka pertumbuhan ekonomi, tetapi dapat dirasakan melalui tumbuhnya rasa memiliki terhadap desa, meningkatnya partisipasi masyarakat, serta lahirnya kebanggaan terhadap identitas lokal.

Namun revitalisasi kebudayaan tidak pernah dapat dipikul oleh pemerintah seorang diri. Panggung Besutan hanya akan benar-benar hidup apabila seluruh pemangku kepentingan mengambil bagian sesuai perannya.

Pada akhirnya, revitalisasi Besutan bukanlah proyek pelestarian semata. Pelestarian sering lahir dari rasa takut kehilangan. Revitalisasi lahir dari keyakinan bahwa tradisi masih memiliki sesuatu yang penting untuk disampaikan kepada masa kini. Besutan tidak perlu diperlakukan seperti benda museum yang hanya sesekali dipamerkan untuk mengenang masa lalu. Ia harus tetap menjadi ruang hidup yang mampu berbicara tentang persoalan hari ini: tentang pendidikan, lingkungan, gotong royong, perubahan sosial, hingga dinamika pemerintahan desa. Selama masyarakat masih mampu menemukan dirinya di atas panggung itu, Besutan akan tetap relevan.

Apa yang mulai tumbuh di Sidokerto memberi pesan bahwa sebuah desa dapat membangun masa depan tanpa memutus hubungan dengan sejarahnya. Justru dari akar budaya itulah masyarakat menemukan pijakan untuk melangkah menghadapi perubahan. Mungkin suatu hari nanti, anak-anak Sidokerto tidak lagi mengingat kapan jalan desa mereka selesai diaspal atau kapan balai desa direnovasi. Namun mereka akan mengingat bahwa pernah ada orang-orang yang memilih menjaga suara gamelan tetap berbunyi, membiarkan tokoh-tokoh Besutan kembali bertutur, dan memberi kesempatan desa ini bercerita tentang dirinya sendiri.

Sebab sebuah peradaban tidak hanya dibangun oleh beton dan aspal, tetapi juga oleh cerita yang terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Kirab Pesta Panen tahun ini mungkin hanya berlangsung beberapa saat. Namun apabila semangat yang lahir darinya terus dirawat, ia akan menjadi penanda bahwa Sidokerto telah memilih jalan yang penting: membangun masa depan tanpa meninggalkan ingatan. Dari panggung Besutan yang kembali menyala itu, kita belajar bahwa pembangunan tidak hanya membutuhkan anggaran dan infrastruktur, tetapi juga keberanian untuk mendengar, keberanian untuk bercermin, dan keberanian merawat kebudayaan sebagai jiwa dari sebuah desa.~ Riris D. Nugrahini ~

Previously

Kuda Hitam dalam Bursa Ketua Umum PBNU Jelang Muktamar ke-35 NU

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement