Jangan Panggil Aku Rombongan Liar ; Romli Sejati Bukan Timses
Jombang, 26 Agustus 2026 – Sebuah catatan yang tersebar digroup-group WA (Whatsapp) dan ini menarik untuk dikaji ulang tentang istilah romli (rombongan liar) yang oleh panitia muktamar ke 35 diubah […]
Jombang, 26 Agustus 2026 – Sebuah catatan yang tersebar digroup-group WA (Whatsapp) dan ini menarik untuk dikaji ulang tentang istilah romli (rombongan liar) yang oleh panitia muktamar ke 35 diubah menjadi Muhibbin. Demikian catatan dari Soleh Sofyan tentang Jangan sebut aku romli (rombongan liar) yang memang tidak elok diucap dan diperdengarkan untuk menyebut para Muhibbin (para pecinta NU organisasi yang menaunginya)
Muktamar bukan sekadar agenda lima tahunan. Bagi Nahdlatul Ulama, Muktamar adalah perhelatan akbar yang mempertemukan gagasan, harapan, dan aspirasi warga NU dari berbagai penjuru negeri. Dari sana diharapkan lahir pemimpin, program, dan keputusan yang mampu menjawab tantangan zaman serta membawa NU berkhidmat bagi umat, bangsa, dan negara.
Karena itu, NU tidak pernah dapat dipisahkan dari Indonesia.
Mereka Datang karena Cinta
Jutaan warga NU menaruh harapan kepada Muktamar. Mereka tidak ingin hanya menitipkan suara atau menerima kabar dari media. Mereka ingin hadir dan menyaksikan langsung.
Mereka datang dari pelosok negeri dengan biaya sendiri. Ada yang tidur di serambi masjid, menumpang di rumah warga, atau meninggalkan pekerjaan dan keluarga demi mengikuti rangkaian Muktamar.
Mengapa? Karena mereka mencintai NU.

Mereka mungkin tidak memiliki jabatan, akses kepada elite, atau kendaraan politik. Namun mereka memiliki sesuatu yang lebih penting: rasa memiliki.
Maka, jangan remehkan mereka dan jangan mudah memberi label “rombongan liar.”
Romli: Bukan Rombongan Liar
Jika “Romli” dimaknai sebagai rombongan liar, bagi saya istilah itu justru dapat dimaknai sebagai:
Rombongan Lillahi Ta’ala.
Rombongan yang datang bukan karena iming-iming jabatan, fasilitas, atau kepentingan kandidat tertentu. Mereka hadir karena ingin menjaga amanah dan memastikan NU tetap menjadi rumah besar yang dijaga bersama.
NU bukan hanya milik mereka yang duduk dalam struktur kepengurusan. NU juga milik petani, guru madrasah, kiai kampung, santri, pedagang, aktivis, ibu-ibu Muslimat, pemuda Ansor, kader Fatayat, dan seluruh warga yang merawat tradisinya dari generasi ke generasi.
Mereka semua adalah NU.
Jangan Jadikan Muktamar Sekadar Arena Perebutan Kekuasaan
Yang harus dijaga dalam Muktamar bukan hanya siapa yang menang atau kalah, melainkan marwah NU.
Jangan sampai Muktamar berubah menjadi arena pertarungan kepentingan sempit, transaksi kekuasaan, politik uang, atau konsolidasi untuk memenangkan kandidat tertentu.
Perbedaan pilihan adalah hal wajar. Namun jangan sampai demi memenangkan seseorang, kita mempertaruhkan persaudaraan; demi kursi kekuasaan, kita kehilangan adab; dan demi kepentingan sesaat, kita meninggalkan cita-cita para muassis.
Yang dipertaruhkan adalah masa depan dan marwah NU, Jangan Abaikan Doa Orang Kecil, suara orang kecil mungkin tidak selalu terdengar, tetapi doanya tidak pernah kehilangan jalan menuju langit.
Mereka yang datang dengan biaya sendiri, menempuh perjalanan jauh, tidur di masjid, dan meninggalkan keluarga mungkin tidak memiliki kekuasaan untuk membalas ketika kecewa. Namun mereka memiliki doa—doa orang-orang yang datang dengan niat baik dan berharap NU tetap menjadi tempat berkhidmat, bukan arena perebutan kepentingan.
Jangan sampai doa-doa tulus itu menjadi saksi apabila amanah Muktamar diselewengkan. Sebab sejarah NU juga ditulis oleh jutaan warga yang menjaganya dengan tenaga, pikiran, harta, bahkan air mata.
Muktamar Milik Kita Semua
Pada akhirnya, Muktamar bukan milik tim sukses, kandidat, atau elite, muktamar adalah milik seluruh warga Nahdlatul Ulama, meeka yang hadir dengan niat baik tidak seharusnya dicurigai hanya karena tidak berada dalam barisan kandidat tertentu. Kehadiran mereka adalah tanda bahwa warga NU masih peduli terhadap masa depan jam’iyahnya.
Mereka datang bukan untuk membuat gaduh atau merebut kursi. Mereka datang untuk menyaksikan dan memastikan amanah.
*Mereka bukan rombongan liar.
Mereka adalah Romli—Rombongan Lillahi Ta’ala.*
Saya pun hadir bukan sebagai tim sukses, melainkan sebagai bagian dari warga NU yang ingin melihat rumah besar ini tetap kokoh, bermartabat, dan menjadi rahmat bagi umat, bangsa, dan negara.
Soleh Sofyan
Saya Romli asli.
Rombongan Lillahi Ta’ala.







