Caketum Bermunculan, Demokrasi Warga NU Makin Bergairah
Jombang, 24 Agustus 2026 – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Ke-35 di Tambakberas, Jombang, dinamika bursa calon ketua umum (Caketum) PBNU periode 2026–2031 semakin menarik perhatian. Sejumlah nama mulai muncul […]
Jombang, 24 Agustus 2026 – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Ke-35 di Tambakberas, Jombang, dinamika bursa calon ketua umum (Caketum) PBNU periode 2026–2031 semakin menarik perhatian. Sejumlah nama mulai muncul dengan latar belakang, basis dukungan, pengalaman organisasi, serta sanad keilmuan yang beragam.
Munculnya banyak kandidat tidak hanya menunjukkan semakin dinamisnya kontestasi kepemimpinan di tubuh NU, tetapi juga memberikan semakin banyak pilihan bagi warga Nahdliyin dalam menentukan sosok yang dinilai paling mampu membawa organisasi ke arah yang lebih baik.
Bagi NU, kepemimpinan tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan jaringan atau dukungan struktural. Tradisi pesantren, sanad keilmuan, pengalaman berorganisasi, kemampuan merawat ukhuwah, serta visi terhadap masa depan jam’iyah menjadi bagian penting yang akan menjadi pertimbangan.
Dari Petahana hingga Kiai Muda
Sejumlah figur yang masuk dalam bursa Caketum memiliki karakter dan kekuatan masing-masing. Ada figur petahana dengan pengalaman mengelola organisasi di tingkat nasional, ada pengasuh pesantren besar yang memiliki akar kultural kuat, ada kiai muda dengan latar belakang akademik, hingga tokoh yang membawa gagasan perubahan dan rekonsiliasi.
Di antara nama yang menjadi perhatian adalah KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai petahana yang memiliki pengalaman memimpin PBNU dan jaringan organisasi yang luas.
Kemudian terdapat KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) yang memiliki akar kuat dari tradisi Pesantren Tebuireng, Jombang, serta jejaring kultural yang luas di lingkungan pesantren.
Nama KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) juga menjadi salah satu alternatif dengan basis kuat di kalangan pesantren dan warga NU Jawa Tengah.
Sementara itu, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) membawa narasi perubahan dan rekonsiliasi dengan basis kultural Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang.
Dari kalangan akademisi dan kiai muda, muncul nama KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) yang memadukan tradisi pesantren dengan pengalaman akademik dan pendidikan tinggi.
Ada pula KH Imam Jazuli, pengasuh pesantren di Cirebon yang membawa corak kepemimpinan pesantren modern dan gagasan kemandirian.
Nama KH Zulfa Mustofa hadir dengan kekuatan tradisi keilmuan pesantren, terutama dalam bidang ilmu alat, kitab kuning, dan bahtsul masail.
Selain itu, terdapat KH Nasaruddin Umar, KH Marsudi Syuhud, dan Hary Haryanto Azumi, yang masing-masing memiliki pengalaman, jaringan, serta latar belakang yang berbeda dalam lingkungan NU dan masyarakat luas.
Bukan Sekadar Perebutan Kursi Ketum
Banyaknya nama yang muncul menunjukkan bahwa bursa kepemimpinan PBNU semakin berwarna. Setiap kandidat membawa modal sosial dan intelektual masing-masing: ada yang kuat di jalur struktural, ada yang berakar dari pesantren, ada yang memiliki pengalaman akademik, ada yang dekat dengan akar rumput, dan ada pula yang menawarkan gagasan pembaruan.
Karena itu, kontestasi menuju Muktamar NU Ke-35 tidak semestinya hanya dilihat sebagai perebutan posisi ketua umum. Lebih jauh, momentum ini menjadi ruang bagi warga NU untuk melihat berbagai gagasan tentang bagaimana jam’iyah ke depan akan dikelola, dikembangkan, dan dijaga tradisinya.
Sanad keilmuan, kapasitas kepemimpinan, pengalaman organisasi, kemampuan merawat persatuan, serta visi terhadap tantangan zaman menjadi modal penting bagi siapa pun yang nantinya mendapatkan amanah.
Pilihan Semakin Banyak, Tanggung Jawab Semakin Besar
Semakin banyak Caketum yang muncul, semakin luas pula pilihan yang tersedia bagi warga NU. Namun, banyaknya pilihan juga menuntut kedewasaan dalam menyikapi kontestasi.
Perbedaan pilihan hendaknya tidak berubah menjadi perpecahan. Masing-masing kandidat dan pendukungnya memiliki hak untuk menyampaikan gagasan dan mendapatkan dukungan, sementara seluruh warga NU memiliki ruang untuk menilai dan menentukan pilihan secara rasional, arif, dan tetap menjaga persaudaraan.
Pada akhirnya, Muktamar bukan sekadar tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seluruh proses mampu menghasilkan kepemimpinan yang dapat menjaga marwah NU, merawat tradisi pesantren, memperkuat organisasi, serta menjawab tantangan masyarakat dan zaman.
Semakin banyak Caketum, semakin banyak pilihan. Namun, pilihan terbaik adalah sosok yang mampu menyatukan, bukan memecah; menguatkan jam’iyah, bukan memperlemah; serta membawa NU melangkah maju tanpa kehilangan akar tradisinya.
Kini pertanyaannya bukan hanya siapa yang paling kuat, tetapi juga siapa yang paling mampu mendapatkan kepercayaan dan amanah untuk menahkodai Nahdlatul Ulama lima tahun ke depan?







