Home Esai Ken Arok: Dari Rakyat Jelata Yang Terlahir Cerdas Istimewa Menuju Singgasana
Esai

Ken Arok: Dari Rakyat Jelata Yang Terlahir Cerdas Istimewa Menuju Singgasana

Jombang, 21 Agustus 2026 – Sebelum nge-hits nya cerita Dracin ( Drama China ) atau Drakor ( Drama Korea ) yang mengiris bawang tapi bukan upah mengupasnya. Ada kisah pilu […]

Jombang, 21 Agustus 2026 – Sebelum nge-hits nya cerita Dracin ( Drama China ) atau Drakor ( Drama Korea ) yang mengiris bawang tapi bukan upah mengupasnya. Ada kisah pilu di zaman dulu, seorang anak yang dibuang orang tuanya dan ditemukan kepala perampok,maling,penjudi dan seabrek gelar kejahatan.Dialah Ken Arok. Tetapi menurut Kitab Pararaton, Ken Arok adalah putra Ken Endok yang ayahnya disebut sebagai Dewa Brahma. Kisah tersebut mengandung unsur mitologi yang menggambarkan Ken Arok sebagai tokoh yang memiliki asal-usul istimewa. Dalam cerita tersebut, kelahirannya telah memiliki hubungan dengan takdirnya sebagai orang yang kelak menjadi penguasa.

Ken Endok kemudian menyerahkan Ken Arok kepada Lembong. Setelah itu, Ken Arok tumbuh dengan kehidupan yang penuh gejolak. Ia digambarkan sebagai sosok yang sejak muda memiliki keberanian, kecerdikan, tetapi juga sering terlibat dalam tindakan kriminal.

Dalam kisah Pararaton, perjalanan hidup Ken Arok kemudian berubah setelah ia bertemu dengan Dang Hyang Lohgawe, seorang brahmana yang melihat adanya masa depan besar dalam diri Ken Arok. Lohgawe kemudian membawanya ke lingkungan Tunggul Ametung, penguasa Tumapel.

 Ken Arok merupakan tokoh penting dalam sejarah awal Kerajaan Singhasari. Kisah politiknya terutama dikenal melalui Pararaton dan didukung sebagian oleh sumber lain seperti prasasti. Karena Pararaton ditulis jauh setelah masa Ken Arok dan memuat unsur legenda, beberapa bagian kisahnya perlu dipahami secara kritis.

1. Dari rakyat biasa menuju kekuasaan

Ken Arok berasal dari latar belakang yang sederhana, tetapi memiliki kemampuan membangun hubungan dengan orang-orang yang memiliki pengaruh. Ia kemudian berada di lingkungan Tunggul Ametung, penguasa Tumapel.

Dari sini Ken Arok mulai memasuki dunia kekuasaan. Ia tidak hanya mengandalkan kekuatan pribadi, tetapi juga memanfaatkan jaringan sosial dan politik.

2. Perebutan kekuasaan di Tumapel

Ken Arok kemudian mengambil alih kekuasaan Tumapel dari Tunggul Ametung. Dalam kisah Pararaton, proses ini berkaitan dengan pembuatan keris oleh Mpu Gandring dan serangkaian pembunuhan politik.

Bagian ini menunjukkan bahwa politik pada masa tersebut sangat erat dengan kekuasaan pribadi, loyalitas, konflik elite, dan penggunaan kekuatan.

3. Hubungan dengan Kertajaya dan Kediri

Setelah menjadi penguasa Tumapel, Ken Arok berhadapan dengan Kertajaya, raja Kediri. Konflik tersebut berkembang menjadi pertarungan politik dan militer antara Tumapel dan Kediri.

Ken Arok berhasil mengalahkan Kertajaya dalam Perang Ganter, yang secara tradisional ditempatkan pada tahun 1222 M. Kemenangan ini menjadi titik penting karena kekuasaan Kediri berakhir dan Ken Arok muncul sebagai penguasa yang lebih kuat di Jawa Timur.

4. Berdirinya Singhasari

Setelah kemenangan atas Kediri, Ken Arok mendirikan kerajaan yang kemudian dikenal sebagai Singhasari. Dalam Pararaton, ia menggunakan gelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi.

Dengan demikian, strategi politik Ken Arok dapat dilihat dalam beberapa tahap:

membangun jaringan → masuk ke pusat kekuasaan → mengambil alih Tumapel → memperluas kekuasaan → mengalahkan Kediri → membangun dinasti baru.

5. Dinasti Rajasa

Ken Arok tidak hanya membangun kekuasaan untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi awal dari Dinasti Rajasa. Dinasti ini kemudian diteruskan oleh keturunannya dan memainkan peranan besar dalam sejarah Jawa Timur.

Setelah Ken Arok wafat, kekuasaan dilanjutkan oleh Anusapati, kemudian Tohjaya, dan selanjutnya Wisnuwardhana serta Kertanegara. Pada masa Kertanegara, Singhasari mencapai perkembangan politik yang jauh lebih luas.

Namun, sisi lain kisah Ken Arok juga memperlihatkan bahaya intrik, kekerasan, pengkhianatan, dan ambisi kekuasaan. Karena itu, sejarahnya lebih tepat digunakan sebagai bahan pembelajaran tentang bagaimana politik bekerja, bukan sebagai pola yang harus ditiru.

Previously

Muhammadiyah Jombang Siapkan Layanan Kesehatan dan Dapur Berkah MU Sambut Muktamar NU ke-35

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement