Membaca Zaman, Menciptakan Ruang
Ketika Seni Menjadi Tempat Bertemu, Bertumbuh, dan Menggerakkan Jombang, 13 Jyli 2026 – Di tengah derasnya perubahan sosial, politik, budaya, dan teknologi, seni sering kali dipahami sebagai sesuatu yang selesai […]
Ketika Seni Menjadi Tempat Bertemu, Bertumbuh, dan Menggerakkan
Jombang, 13 Jyli 2026 – Di tengah derasnya perubahan sosial, politik, budaya, dan teknologi, seni sering kali dipahami sebagai sesuatu yang selesai pada sebuah karya. Kita membayangkan lukisan yang tergantung di dinding galeri, pertunjukan teater di atas panggung, tari yang dipentaskan, atau musik yang dimainkan di ruang konser. Padahal, setiap karya hanyalah ujung dari sebuah perjalanan panjang. Di baliknya selalu ada perjumpaan, percakapan, kegelisahan, pertanyaan, dan keberanian untuk membaca kehidupan.
Perspektif inilah yang saya temukan ketika membaca Berkesenian di Tengah Segala Cuaca karya Selvi Agnesia. Buku yang menjadi penyulut utama diskusi yang diadakan di Bait Kata Centre, Jombang pada hari Kamis, 9 Juli 2026.

Buku ini bukan sekadar kumpulan reportase mengenai para seniman dan budayawan Indonesia sepanjang 2011–2026. Lebih dari itu, ia menjadi catatan tentang bagaimana seni bertahan, beradaptasi, dan terus menemukan relevansinya di tengah berbagai “cuaca” kehidupan. Melalui pendekatan jurnalisme budaya, Selvi mengajak pembaca masuk ke ruang-ruang yang jarang terlihat. Ruang tempat para seniman berpikir, meragukan, berdialog, dan memaknai perubahan zaman.
Di dalam buku ini, tokoh-tokoh seperti Afrizal Malna, Karlina Supelli, Romo Magnis, Slamet Abdul Sjukur, Mohamad Sunjaya, hingga berbagai kelompok seni seperti Teater Garasi, Teater Koma, Sanggar Dewata Indonesia, dan banyak lainnya, tidak tampil sebagai sosok yang jauh di atas panggung. Mereka hadir sebagai manusia yang bergulat dengan realitas. Dari mereka kita belajar bahwa seni bukan sekadar menciptakan keindahan, tetapi juga menjadi cara membaca masyarakat, merawat ingatan kolektif, mempertanyakan ketidakadilan, serta menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Karena itulah buku ini penting dibaca, bukan hanya oleh pelaku seni. Aktivis dapat melihat bagaimana seni menjadi bahasa yang mampu membangun empati ketika data dan slogan sering kali gagal menyentuh hati. Akademisi menemukan contoh nyata bahwa pengetahuan tidak hanya lahir dari laboratorium atau ruang kuliah, tetapi juga dari praktik kebudayaan. Para pendidik memperoleh inspirasi bahwa belajar tidak selalu dimulai dari buku pelajaran, melainkan juga dari pengalaman estetik yang mengajak peserta didik berpikir kritis. Bahkan siapa pun yang bekerja bersama masyarakat akan menemukan bahwa seni memiliki kemampuan menjembatani perbedaan dengan cara yang lebih halus sekaligus lebih mendalam.
Namun, membaca buku ini juga memunculkan satu pertanyaan penting. Jika seni telah mampu membaca zaman dengan begitu tajam, bagaimana ia dapat memperbesar dampaknya? Bagaimana karya-karya itu tidak berhenti sebagai ekspresi personal, melainkan berkembang menjadi kekuatan yang mampu membangun pengetahuan baru, memperluas jejaring, dan melahirkan perubahan sosial?
Pertanyaan inilah yang membawa saya kembali pada pengalaman belajar di Cemeti Art House dan Studio Residensi Cemeti di Yogyakarta. Di sana saya menemukan bahwa nilai paling berharga dari sebuah ruang seni ternyata bukan bangunannya, bukan fasilitasnya, bahkan bukan koleksi karyanya. Nilai terbesarnya justru terletak pada kemampuannya mempertemukan orang-orang dengan latar belakang, disiplin ilmu, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda. Dari pertemuan itulah ruang sebenarnya tercipta.
Di Studio Residensi Cemeti, seniman tidak datang hanya untuk menghasilkan karya. Mereka datang membawa pertanyaan. Membawa kegelisahan. Membawa pengalaman hidup yang kemudian dipertemukan dengan pengalaman orang lain. Selama residensi berlangsung, mereka berdialog dengan peneliti, kurator, penulis, aktivis, ilmuwan, maupun masyarakat sekitar. Percakapan yang tampaknya sederhana sering kali berkembang menjadi gagasan yang sama sekali baru. Sebuah karya visual dapat lahir dari diskusi mengenai perubahan iklim. Sebuah pertunjukan teater tumbuh dari cerita warga di sebuah kampung. Instalasi seni memperoleh kedalaman baru setelah bersentuhan dengan teknologi, antropologi, atau pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Dari pengalaman itu saya memahami bahwa karya yang baik hampir tidak pernah lahir dari ruang yang sunyi. Ia tumbuh dari ruang yang dipenuhi percakapan. Di sinilah saya melihat benang merah yang mempertemukan buku Selvi Agnesia dengan pengalaman menciptakan ruang kolaborasi. Bila buku Berkesenian di Tengah Segala Cuaca memperlihatkan bagaimana para seniman membaca zaman melalui karya-karyanya, maka pengalaman residensi menunjukkan bagaimana karya-karya itu sesungguhnya lahir dari proses saling mendengar, saling belajar, dan saling memperkaya.
Kolaborasi, pada akhirnya, bukan sekadar bekerja bersama agar pekerjaan menjadi lebih ringan. Kolaborasi adalah kesediaan melihat dunia melalui mata orang lain. Ketika seorang penari bekerja dengan musisi, mereka sedang belajar menerjemahkan gerak menjadi bunyi. Ketika perupa berdialog dengan penulis, bahasa visual bertemu kekuatan narasi. Ketika seniman bekerja bersama masyarakat, karya tidak lagi berbicara tentang masyarakat, melainkan berbicara bersama masyarakat.
Di era sekarang, batas antar bidang semakin cair. Seni bertemu sains, teknologi digital, psikologi, pendidikan, kesehatan mental, lingkungan hidup, hingga kecerdasan buatan. Yang menarik, identitas masing-masing disiplin tidak menghilang. Sebaliknya, mereka saling memperkaya. Justru di wilayah pertemuan itulah lahir karya-karya yang lebih segar, lebih relevan, dan memiliki daya hidup yang lebih panjang.
Hal lain yang saya pelajari adalah bahwa seni memiliki kemampuan yang sangat unik dalam menyampaikan realitas sosial. Ketika sebuah laporan penelitian mungkin hanya dibaca oleh kalangan tertentu, karya seni mampu menjangkau masyarakat luas. Ketika data berbicara kepada logika, seni berbicara kepada emosi, ingatan, dan pengalaman manusia. Ia mengangkat isu lingkungan tanpa harus berkhotbah. Ia mengkritik ketidakadilan tanpa kehilangan keindahan. Ia berbicara tentang identitas, perempuan, migrasi, sejarah, atau perubahan iklim melalui bahasa yang dapat dipahami siapa saja. Barangkali karena itulah tugas seorang seniman sesungguhnya bukan hanya menghasilkan karya yang indah. Seniman sedang menciptakan ruang dialog. Ruang tempat orang-orang berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda, lalu pulang dengan pemahaman yang baru.
Sayangnya, hingga hari ini masih banyak seniman yang merasa harus menunggu ruang itu tersedia. Menunggu galeri mengundang. Menunggu festival membuka pendaftaran. Menunggu pemerintah menyediakan panggung. Menunggu sponsor datang membawa dukungan. Padahal sejarah kebudayaan justru mengajarkan hal yang sebaliknya. Banyak gerakan seni besar lahir dari ruang-ruang kecil: dari garasi rumah, pendapa desa, halaman sekolah, warung kopi, gudang kosong, hingga teras rumah warga. Yang membuat ruang-ruang itu penting bukanlah kemewahan fasilitasnya, melainkan kualitas perjumpaan yang terjadi di dalamnya.
Hari ini, ketika teknologi digital membuka begitu banyak kemungkinan, makna ruang bahkan menjadi semakin luas. Diskusi daring dapat mempertemukan seniman lintas negara. Sebuah karya dapat dipamerkan melalui media sosial dan menjangkau ribuan orang hanya dalam hitungan jam. Komunitas kreatif dapat tumbuh tanpa harus memiliki gedung permanen.
Artinya, ruang tidak lagi ditentukan oleh lokasi geografis. Ruang ditentukan oleh relasi yang kita bangun.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Siapa yang akan memberikan ruang bagi saya?” dan mulai bertanya, “Ruang seperti apa yang dapat saya ciptakan?” Sebab ruang selalu bisa dimulai dari hal-hal sederhana: percakapan kecil di angkringan, diskusi lintas disiplin, studio yang dibuka untuk belajar bersama, kelas komunitas, atau kolaborasi antara seniman dan warga. Dari ruang-ruang seperti itulah lahir gagasan, jejaring, kepercayaan, dan gerakan kebudayaan yang terus bertumbuh.
Pada akhirnya, tantangan terbesar seni hari ini bukanlah kekurangan ruang, melainkan keberanian untuk menciptakan ruang itu sendiri. Ruang yang inklusif, yang mempertemukan berbagai disiplin ilmu, yang membuka kesempatan bagi masyarakat untuk ikut menjadi bagian dari proses kreatif, dan yang memungkinkan lahirnya percakapan-percakapan baru. Sebab karya yang hebat memang dapat menginspirasi banyak orang. Namun ruang yang mampu mempertemukan orang-orang untuk berpikir, berkarya, dan bertumbuh bersama akan melahirkan jauh lebih banyak karya, lebih banyak pengetahuan, dan lebih banyak perubahan.
Mungkin, sebagaimana ditunjukkan oleh Selvi Agnesia melalui reportase-reportasenya dan ditegaskan kembali oleh pengalaman berbagai ruang residensi seni, warisan paling berharga yang dapat ditinggalkan seorang seniman bukan hanya karya yang dikenang, melainkan ruang yang terus hidup. Ruang yang melahirkan perjumpaan, merawat dialog, menumbuhkan kolaborasi, dan menghidupkan harapan bagi generasi-generasi yang akan datang. Karena pada akhirnya, seni bukan hanya tentang menciptakan sesuatu untuk dilihat, tetapi tentang menciptakan kemungkinan agar lebih banyak orang dapat bertemu, bertumbuh, dan bersama-sama menggerakkan kehidupan. (~ Riris D. Nugrahini ~ Penulis, Sastrawan Jombang)







