Home News Produksi ke – 44  Komunitas Tombo Ati Sesi 1 “Darpana” Sukses Digelar Di Gedung Kesenian Jombang
News

Produksi ke – 44  Komunitas Tombo Ati Sesi 1 “Darpana” Sukses Digelar Di Gedung Kesenian Jombang

Jombang, 1 Agustus 2025- Berkisar antara jam 19.30 Penonton teater sudah diperkenankan masuk oleh petugas. Tampak 199 ticket ludes terjual kalau dilihat dari denah kursi penonton yang ada di aplikasi […]

Jombang, 1 Agustus 2025- Berkisar antara jam 19.30 Penonton teater sudah diperkenankan masuk oleh petugas. Tampak 199 ticket ludes terjual kalau dilihat dari denah kursi penonton yang ada di aplikasi penjualan ticket.

Apresiasi saya selaku penonton yang terpuaskan sejak mulai datang ke lokasi , memasuki gerbang Dinkes sudah ada petugas berkaos putih bergambar seperti flyer yang tersebar dengan ID card tergantung di leher. Dengan senyuman dan memberikan arah gerakan tangannya, kemudian tatkala sepeda motorku masuk ke lokasi sudah ada petugas lagi yang mempersilahkan menuju ruang parkir dan di sana sudah ada petugas parkir yang memberikan kartu tanda penitipan sepeda dan itu gratis lho ( biasanya kita agak risih karena kebiasaan event selalu banyak bayar teng grencil tapi ini tidak ).

Kemudian aku berjalan mendekati gedung dan sudah tampak para penonton duduk di ruang tunggu yang berjajar rapi, akupun bertanya pada 2 orang pemudi yang jadi panitia menyambut penonton letak penukaran ticket dan dengan ramahnya menunjukkan meja petugas penukaran ticket yang berderet rapi di ruang lobi dan dengan cekatan berdasarkan data yang sudah dipegang menyerahkan ticket pada saya dengan ramah.

Karena waktu masih menunjukkan kurang 30 menit, ku manfaatkan say hello dengan beberapa orang yang aku kenal dan selanjutnya ngopi di warung depan gedung kesenian tuk mengusir kantuk. Tampak beberapa senior pegiat seni budaya sudah ngopi di sana. Ku coba diam tidak menegur agar tak mengganggu obrolan mereka . Mungkin perlu kedepannya di depan gedung kesenian disediakan tempat UMKM tapi tetap yang rapi dan jangan teriak-teriak “monggo mbak, bu, bapak ” seperti di stand-stand tempat rekreasi pada umumnya sehingga lebih semarak dan membantu hidupnya ekonomi tapi tidak mengganggu kenyamanan penonton.

Tampak salah satu para senior di warung itu ,kalau tidak salah Cak Rofik yang dulu pernah jadi dosen dan salah satu pimpinan di STKW Surabaya berbicara tentang keberhasilan pementasan salah satunya adalah keberhasilan tim produksi mempromosikan pertunjukkan dan itu haruslah orang yang banyak kenal dan dikenal sehingga antusias penonton akan baik.

Terlihat  para penonton sudah berbaris rapi masuk ke dalam gedung kesenian dan kami pun bergegas mengikutinya. Ku mendapat tempat duduk paling pojok karena memang pesan ticket paling akhir itu pun untung-untungan karena ticket masih satu yang belum terjual.

Sebagai penonton paling ujung belakang, lumayan bisa menikmati pementasan. Memang untuk suara kurang keras sedikit , ku tengok mencari sound system ternyata berada di sebelah kiriku berjarak 4 baris kursi dan agak serong tapi karena penontonnya adalah penonton baik , suara pementasan masih terdengar jelas karena mereka semua diam menikmati.

Pementasan dibuka oleh mbak yang menyapa dan menjelaskan sedikit tentang pementasan dan aturan-aturan selama menonton tapi sayang lampunya kurang terang sehingga mbaknya tidak terlihat jelas di kursi paling belakang.

Setelah mbaknyanya pamitan, pementasan dimulai dengan alunan musik pembuka dan prolog yang disampaikan actor jungkir walik dengan kepala di bawah dan kaki di atas. Keren, itu hanya bisa dibawakan oleh actor teater yang terlatih bahkan suaranya pun keras sampai padaku yang berada di ujung kursi belakang.

Adegan demi adegan dimulai, ku mencoba mengikuti alur ceritanya dengan agak kesulitan. Mungkin karena lama tidak menonton teater sehingga kemampuanku dalam menangkap alur cerita yang terpotong-potong membuatku sempoyongan.

Di Jombang atau mungkin dimanapun sekarang sangat jarang ada pementasan teater yang dimainkan oleh para senior / pelaku teater yang mumpuni seperti mereka, sehingga kemampuan menontonku pun menurun agak grotal gratul , untung saja aku sudah membaca sekilas di beberapa media sosial yang sudah memberikan sinopsis cerita dan hal itu membantuku menikmati pementasan ini.

Apalagi ciuman nyamuk yang mendarat di tangan serta kakiku berulang kali membuat konsentrasiku juga terganggu, mungkin karena gelap sehingga mereka membuat istana di situ (jadi penonton sesi berikutnya bawa autan biar tidak dicium nyamuk).

Untuk udara alhamdulillah sudah baik, walau tidak duingin seperti di kulkas tapi segar jadi tidak perlu membawa jaket tebal.

Selamat kepada Bapak Imam Ghozali selaku sutradara dan Cak Fandi selaku penulis naskah serta actor serta actris yang tidak bisa saya sebut satu persatu. Semoga pementasan  yang ke – 44 ini akan berlanjut terus , tidak hanya pertahun mungkin bisa 6 bulan sekali dan membangkitkan semangat bagi Komunitas-komunitas teater di Jombang atau sekitarnya untuk segera memproduksi dan mementaskannya.

Writer: Kiwasis

Editor: redaktur

Previously

Desa Dukuh Klopo Peterongan Jombang Gelar Pawai Budya Agustusan Lebih Awal, Warga Antusias Meriahkan Acara

Next

Menyelami Jiwa “Darpana”: Bincang Penuh Makna dengan Dua Otak KreatifnyaJombang,

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement