Haul Gus Dur Digelar di Ciganjur: “Menajamkan Nurani dan Membela Mereka yang Lemah”
Jombang – Haul KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur akan berlangsung di Ciganjur Jl Warung Sila Nomor 10 Jakarta Selatan, pada Sabtu, 21 Desember 2024 ini. Ketua Panitia Hj. Zannuba […]
Jombang – Haul KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur akan berlangsung di Ciganjur Jl Warung Sila Nomor 10 Jakarta Selatan, pada Sabtu, 21 Desember 2024 ini.
Ketua Panitia Hj. Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid) mengatakan, acara haul Gus Dur ke-15 akan mengusung tema “Menajamkan Nurani dan Membela Mereka yang Lemah.”
Dipilihnya tema tersebut, sebagai cerminan nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan Gus Dur terhadap kaum mastad’afin.
Yenny mengajak kepada semua masyarakat Indonesia untuk ikut bergabung dan meramaikan haul mantan Presiden Indonesia ini.
“Buat seluruh masyarakat yang ingin hadir pada acara haul Gus Dur ke-15, silakan saja. Untuk hadir dan yang ingin mengetahui tentang banyak detil-detil mengenai hal Gus Dur ke-15 boleh dilihat di medsos saya di Instagram,” ujar Yenny ini dalam Youtube Channel Wahid Foundation.
Sebagaimana terjadi, haul Gus Dur ini digelar satu sekali. Tahun-tahun sebelumnya, haul ini digelar di Jombang tempat lahirnya Gus Dur.
Abdurrahman Wahid sendiri lahir pada 7 September 1940 dengan nama Abdurrahman ad-Dakhil. Dan wafat pada 30 Desember 2009.
Ia adalah putra mantan Menteri Agama Wahid Hasyim di masa pemerintahan Presiden Soekarno (30 September 1945 – 14 November 1945). Dan juga merupakan cucu dari pendiri NU Kiai Hasyim Asy’ari.
Istri Gus Dur bernama Sinta Nuriyah. Dalam pernikahan dikaruniai empat putri, Alissa Qotrunnada, Zannuba Ariffah Chafsoh, Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.
Selama hidupnya, ia dikenal sebagai pembela hak-hak kaum marginal dan juga pemikir Islam yang cukup modern.
Awal 1980-an ia mulai banyak bersinggungan dan secara terbuka menawarkan ide-ide tentang pluralisme, demokrasi, HAM, dan lain-lain.
Tindakan politik Gus Dur semakin tampak sejak terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar 1984 di Situbondo. Ketika NU kembali ke khittah 1926, yaitu menarik diri dari politik praktis.
Hal ini lantaran NU lebih ingin menjalin hubungan dengan pemerintah Orde Baru, yang pada saat itu sempat kurang sedap.
Melalui peran Gus Dur pula NU menjadi ormas Islam pertama yang menerima pemberlakuan Pancasila, sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Meskipun kemudian hubungan Gus Dur dengan pemerintah kembali merenggang karena sikap kritisnya terhadap pemerintahan Soeharto.
Waktu itu posisi Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU tetap dapat bertahan selama dua kali muktamar berturut-turut, pada tahun 1989 dan 1994.
Sejak itu kemudian bergulir reformasi 1998, Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Dan Gus Dur sebagai Presiden Indonesia ke-4 dari pemilu tahun 1999 hingga pemakzulannya pada tahun 2001. ***
Writer: Redaksi
Editor: Pliplo S







