Mengaku Senang, Seorang Bule Belanda Ikut Bersihkan Sungai Balantieng Bulukumba
Sulawesi Selatan – Keterlibatan seorang warga Negara Belanda Christa Nooy dalam bersih-bersih sampah di Sungai Balantieng Desa Batukaropa Kecamatan Rilau Ale Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan, menjadi perhatian warga setempat. Christa […]
Sulawesi Selatan – Keterlibatan seorang warga Negara Belanda Christa Nooy dalam bersih-bersih sampah di Sungai Balantieng Desa Batukaropa Kecamatan Rilau Ale Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan, menjadi perhatian warga setempat. Christa yang juga founder sebuah lembaga NGO di negaranya, dinilai warga telah melakukan perbuatan mulia.
Bersih-bersih sungai yang juga melibatkan Komunitas Merdeka Sampah (KORSA) dan Komunitas Balantieng Warrior SMPN 49 Bulukumba, merupakan sebuah inisiatif akan ditetapkannya bantaran sungai tersebut, sebagai kawasan merdeka sampah.
Dari hasil bersih-bersih bantaran sungai tersebut, diperoleh sampah enam karung. Dan rencana sampah-sampah tersebut akan dikumpulkan kemudian dipilah-pilah disesuaikan kategori sampah.
“Rasanya senang bisa mengikuti kegiatan bersih-bersih di Sungai Balantieng ini bersama komunitas perempuan dan anak-anak sekolah yang semuanya terasa antusiasnya. Semoga semakin banyak orang yang peduli terhadap sungai ini,” kata Christa Nooy, Selasa, 29 Oktober 2024.
Sementara itu Ketua KORSA Andi Fatmawati mengatakan, bahwa aksi bersih-bersih Sungai Balantieng ini, bertujuan untuk meningkatkan kebersihan di bantaran sungai yang selama ini dibuangi sampah oleh masyarakat sekitar.
Sekaligus dari bersih-bersing bangtaran sungai ini, kata Fatma, juga untuk menetapkan bantaran ini sebagai kawasan merdeka sampah.
“Dari kegiatan ini, kami ikut mengedukasi warga setempat untuk tidak membuang sampah sampah ke sungai, apalagi dibakar, dalam waktu dekat ini kami akan membangun bata terawang di lokasi kawasan merdeka sampah yang berfungsi sebagai tempat khusus menampung sampah organik,” ujar Fatma.
Ia juga menjelaskan, sebelumnya KORSA telah melakukan penelitian karakteristik sampah di Batukaropa ini bersama Yayasan ECOTON yang berada di Gresik Jawa Timur. Hasil penelitian ditemukan karakteristik sampah meliputi 47% sampah organik, 32 jenis sampah yang bisa di daur ulang , dan 21% sampah residu seperti popok, sachet dan plastik.

Perlu Pemilahan
Selain itu Fatma juga mengatakan bahwa sampah yang berada di bantaran Sungai Balantieng berasal dari aktivitas rumah tangga. Di antaranya, sampah plastik jenis botol plastik, kemasan sachet sabun, bumbu dapur, jajan, lalu ada popok, kantong kresek hingga minuman gelas plastik banyak dijumpai berceceran.
Peneliti Yayasan Ecoton Firly Mas’ulatul Janah juga menjelaskan salah satu solusi mengurangi persoalan sampah bisa dilakukan dengan pemilahan sampah dari rumah.
“Sebagian besar sampah yang di hasilkan masyarakat merupakan sampah organik, yang sebenarnya bisa di jadikan kompos. Untuk sampah daur ulang seperti kardus, botol plastik dan gelas masih bisa di pakai atau di jual ke Bank sampah. Sedangkan untuk sampah residu pemerintah Desa bisa meminta di fasilitasi Pemerintah Daerah untuk di angkut ke tempat pembuangan akhir,” terang Firly.
Di tempat yang sama Ketua Balantieng Warrior Nur Aina juga mengatakan, sangat antusias mengikuti giat bersih sampah ini.
“Sungai Balantieng adalah tempat kami belajar mengenai ekosistem sungai. Sampah-sampah yang ada di bantaran sungai bisa memicu adanya mikroplastik di sungai. Penelitian yang kami lakukan sebelumnya telah menunjukkan adanya mikroplastik di Sungai Balantieng. Kami tidak mau pencemaran mikroplastik lebih parah terjadi di Sungai Balantieng. Makanya kami ikut dalam kegiatan bersih-bersih sungai ini” kata Aina. ***
Writer: Rilis
Editor: Pliplo Supriyadi







