Home Uncategorized Musim Hujan Banjir Musim Kemarau Kekeringan : Hari Bumi 22 April 2025
Uncategorized

Musim Hujan Banjir Musim Kemarau Kekeringan : Hari Bumi 22 April 2025

Jombang, 22 April 2025  – Setiap tanggal 22 April, dunia memperingati Hari Bumi sebagai bentuk kepedulian terhadap krisis lingkungan global yang kian mengkhawatirkan. Tahun ini, tema Hari Bumi 2025 adalah, […]

Jombang, 22 April 2025  – Setiap tanggal 22 April, dunia memperingati Hari Bumi sebagai bentuk kepedulian terhadap krisis lingkungan global yang kian mengkhawatirkan. Tahun ini, tema Hari Bumi 2025 adalah, “Our Power, Our Planet” atau yang jika diartikan dalam Bahasa Indonesia yaitu “Kekuatan Kita, Planet Kita”.

Ada kata KITA di dalam tema tersebut artinya bahwa permasalahan bumi bukanlah permasalahan orang per orang tetapi semua. Maka sudah barang tentu lumrah jika kemudian hal ini dikampanyekan di dunia pendidikan, instansi pemerintah, swasta dan masyarakat, sehingga tidak menjadi majas satir bahwa Musim penghujan banjir dan kemarau kekeringan artinya sebenarnya hal itu bisa dipelajari dan ditemukan solusinya bukan menjadi peristiwa yang selalu berulang setiap tahun seolah permasalahan itu adalah soal yang tidak bisa terselesaikan dengan AI sekalipun.

Peringatan Hari Bumi bukanlah hal baru. Sejarahnya berakar dari kekhawatiran terhadap polusi udara dan air yang merajalela di Amerika Serikat pada akhir 1960-an.

Dilansir dari laman Earth Day, pada masa itu, warga Amerika terbiasa menggunakan bahan bakar bertimbal dalam kendaraan besar dan boros energi. Asap industri membumbung bebas tanpa regulasi, dan polusi dianggap sebagai simbol kemajuan ekonomi. Kesadaran publik terhadap dampak lingkungan masih sangat minim.

Semua mulai berubah ketika buku Silent Spring karya Rachel Carson diterbitkan pada 1962. Buku ini menggugah kesadaran masyarakat akan bahaya pestisida dan polusi terhadap organisme hidup dan kesehatan manusia. Karya ini menjadi titik awal bangkitnya kesadaran lingkungan secara luas.

Pada Januari 1969, tumpahan minyak besar-besaran di Santa Barbara, California, memicu kemarahan publik. Peristiwa ini menjadi pemicu bagi Senator Gaylord Nelson, yang memang sudah lama prihatin terhadap degradasi lingkungan. Terinspirasi dari semangat gerakan antiperang, Nelson merancang sebuah aksi pengajaran publik tentang lingkungan.

Nelson menggandeng Denis Hayes, seorang aktivis muda, untuk mengorganisasi acara tersebut. Mereka memilih tanggal 22 April, waktu strategis antara libur musim semi dan ujian akhir semester, agar mahasiswa bisa berpartisipasi secara maksimal.

Nama Hari Bumi pun lahir, dan pada tanggal tersebut di tahun 1970, sekitar 20 juta warga Amerika turun ke jalan. Aksi ini mencakup demonstrasi di taman, sekolah, dan ruang publik, sebagai bentuk protes atas pencemaran lingkungan yang sudah terjadi selama 150 tahun akibat industrialisasi.

Kini, Hari Bumi diperingati secara global oleh lebih dari 190 negara setiap tahunnya. Tahun ini, tema Hari Bumi fokus utama adalah mempercepat penggunaan energi bersih seperti tenaga surya, angin, dan air untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dengan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat.

Hari Bumi 2025 menjadi momentum penting untuk menjaga keberlanjutan planet ini bagi generasi mendatang.(redaksi)

Writer: Redaksi

Editor: admin

Previously

Sosialisasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun 2025 SMAM 1 Jombang Di MTsN 16 Jombang

Next

MUI Kabupaten Jombang Gelar Halal Bi Halal dan Rapat Kerja, Perkuat Sinergi Ulama Dan Berbuat Tuk Kemaslahatan Umat

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement