Home Catatan Haul Ke-46 KH Bisri Syansuri Sosok Ulama yang Selalu Haus Belajar dan Tegas Dalam Bersikap
Catatan Haul Ke-46 KH Bisri Syansuri

Sosok Ulama yang Selalu Haus Belajar dan Tegas Dalam Bersikap

Nama KH Bisri Syansuri begitu dekat dengan NU. Sebab atas peran KH Bisri Syansuri NU bisa berdiri dan menjadi oraganisasi Islam terbesar hingga sekarang. NU sendiri berdiri pada 16 Rajab […]

KH Bisri Syansuri | Dok

Nama KH Bisri Syansuri begitu dekat dengan NU. Sebab atas peran KH Bisri Syansuri NU bisa berdiri dan menjadi oraganisasi Islam terbesar hingga sekarang.

NU sendiri berdiri pada 16 Rajab 1334 H atau bertepatan dengan 31 Januari 1926 di Kabupaten Jombang. Lahirnya organisasi ini, bukan sekadar untuk mewadahi umat Islam agar berorginisasi. Tetapi ada yang lebih penting, yaitu untuk melawan pemerintah kolonial yang pada saat itu semakin membuat bangsa ini menderita.

Dalam Kiai Bisri Syansuri Tegas Berfiqih, Lentur Bersikap, lahir pada hari Rabu, 05 Dzulhijjah 1304 H atau 23 Agustus 1887 di Tayu Kecamatan Pati Jawa Tengah. Ia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Syansuri dan Siti Rohmah dengan nama Mustajab.

Dari orangtuanya ini, ia belajar membaca Al Qur’an, tajwid dan makhorijul huruf, sebagai modal untuk belajar ilmu agama di pondok pesantren.   

Beranjak usia 9 tahun ia mengawali menimba ilmu di pondok pesantren, pada kiai di sekitaran desa kelahirannya. KH Abd Salam yang merupakan seorang ahli dan penghafal Al-Qur’an adalah guru tempat mengaji Bisri menimba ilmu agama. Selain belajar Al-Qur’am ia juga mendalami bidang fiqh, yang pada saat itu KH Abd Salam memang dikenal ahli fiqh.

Bukan hanya tentang Al Qur’an dan fiqh, melalui guru KH Abd Salam, Bisri juga banyak mendalami ilmu-ilmu agama yang lain, yaitu nahwu, sorof, tasawuf dan tafsir.

Dalam mendalami ilmu agama tak hanya diperoleh dari guru di kampung sendiri. Bisri pun mendatangi pondok pesantren yang lain. Memasuki usia ke-15 tahun ia berguru pada dua tokoh agama yang cukup mumpuni, KH Kholil Kasingan Rembang dan KH Syu’aib Sarang Lasem.

Haus akan ilmu tergambar dalam pribadi Bisri. Sehingga pada tahun 1906, ia pun meneruskan memperdalam keagamaan kepada Syaikhona Kholil di Demangan Bangkalan Madura.

Bertemu KH Abdul Wahab Chasbullah

Ketika di pondok pesantren Syaikhona Kholil inilah, Bisri bertemu KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971). Bisri muda dan Wahab muda, mempertajam pergaulan dengan diskusi-diskusi soal agama. Catatan Gus Dur (KH Abdurahman Wahid) dalam Kia Bisri Syansuri, Tegas Berfiqih, Lentur Bersikap menyebutkan, jalinan hubungan itu kemudian menjadi tonggak penting bagi tumbuhnya perjalanan agama Islam beberapa puluh tahun setelah itu, di Indonesia.

Namun tak puas belajar di Syaikhona Kholil, Bisri kembali melanglang dan berguru pada Kiai Oemar pada tahun 1907. Di sini ia mempertajam Fathu al Wahhab dan Fathu al Mu’in. Juga belajar agama ke kiai-kiai yang lain.

Tetap pada kehausannya untuk belajar agama kepada kiai yang pernah didatangi. Pada tahun 1908, atas saran karib yang dikenalnya di pondok pesantren Demangan Bangkalan Madura. Bisri berguru pada KH Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng Jombang.

KH Hasyim Asy’ari (1871-1947), yang pada saat itu setelah berguru di pesantren Syaikhona Kholil dan banyak menimba ilmu di Mekkah Arab Saudi. Pada 3 Agustus 1899 mendirikan Pondok Pesantren  di Tebu Ireng Jombang.

Bergulat selama 6 tahun di Pondok Pesantren Tebu Ireng, keilmuan agama Bisri ditempa. Berkat kedisplinannya dan ketekunan Bisri itulah, dari sang guru KH Hasyim Asy’ari. Ia pun mendapat ijazah dan diminta sebagai pengampu mengajarkan kitab-kitab agama, mulai dari hadis Bukhari dan Muslim hingga kitab fiqih Al-Zuhab.

Meski sudah menjadi pengajar, Bisri tetap menunjukkan ketidak-puasan dalam mendalami ilmu agama. Bersama karibnya di Demangan dan Tebu Ireng, Wahab Chasbullah. Bisri meninggalkan Tebu Ireng menuju ke Mekah Arab Saudi.

Di sana ia kembali bergulat dengan ilmu-ilmu agama bersama Syaikh Umar Bajaned, Syaikh Muhammas Said Al Yamani, Syaikh Baker, Syaikh Saleh Bafadlal, Syaikh Jamal Al Maliki, Syaikh Abdullah, Syaikh Ibrahim Al Madani, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Syuaib Daghestani dan Syaikh Mahfudz At Tarmsy.

“Sikapnya selama belajar yang cenderung tekun dan rajin serta menyukai rutinitas, lebih suka membenamkan diri ke dalam pola hidup sebaya daripada menonjolkan kiprahnya, berakibat langsung kepada pola kehidupannya di kemudian hari, dan menjadi kiai ditempatnya sendiri,” tulis Jamal Ghofir dalam tulisannya saat menggambarkan sosok Mbah Bisri, ketika belajar dan mencari ilmu, yang dikutip Radar Jombang Jawa Pos.  

Menikah dan Mendirikan Pondok Perempuan

Hingga pada tahun 1912-1913, Bisri bersama Wahab melancong ke Makkah untuk melanjutkan penimbaan ilmu agamanya. Di sana Bisri berguru pada sejumlah syekh dan guru-guru Kiai Haji Hasyim Asy’ari, yaitu Kiai Haji Ahmad Khatib Padang dan Syekh Mahfudz Tremas.

Melihat keistiqomahan Bisri dalam belajar agama, Wahab akhirnya kepincut untuk menjadikannya sebagai bagian dari keluarga. Kota Mekah adalah saksi pernikahan Bisri dengan Siti Khodijah adik Wahab, yang pada saat itu sedang menjalankan ibadah haji bersama sang ibu.

Bersama istri, Siti Khodijah, Bisri mendirikan Pondok Pesantren Denanyar. Bahkan ia menginisiasi pendirian pondok pesantren perempuan, yang pada saat itu perempuan masih dianggap sekadar teman bagi kaum laki-laki (suami), saat menjadi istri.

Terlibat Berbagai Organisasi

Di sisi pergerakan, berbagai kedalaman ilmu yang ditimba. Pantaslah kemudian Bisri mendapat sebutan KH Bisri Syansuri. Bersama para kiai muda saat itu, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Mas Mansyur, KH Dahlan Kebondalem, dan KH Ridwan. Kiai Bisri membentuk klub kajian yang diberi nama Taswirul Afkar (konseptualisasi pemikiran) dan sekolah agama dengan nama yang sama, yaitu Madrasah Taswirul Afkar.

Saat itu Kia Bsiri adalah peserta aktif dalam musyawarah hukum agama, yang sering berlangsung di antara lingkungan para kiai pesantren, sehingga pada akhirnya terbentuklah organisasi NU.

Keterlibatannya dalam upaya pengembangan organisasi NU antara lain berupa pendirian rumah-rumah yatim piatu dan pelayanan kesehatan yang dirintisnya di berbagai tempat.

Pada masa penjajahan Jepang, Bisri Syansuri ini terlibat dalam pertahanan negara, yakni menjadi Kepala Staf Markas Oelama Djawa Timur (MODT). Kiai Bisri juga aktif dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), mewakili unsur Masyumi (tempat Nahdlatul Ulama tergabung secara politis).

 Selain itu menjadi anggota Dewan Konstituante tahun 1956, hingga ke masa pemilihan umum tahun 1971. Setelah wafatnya KH Abdul Wahab Chasbullah, tahun 1972 ia diangkat sebagai Rais Aam (ketua) Syuriah (pimpinan tertinggi) Nahdlatul Ulama. Ketika NU bergabung ke Partai Persatuan Pembangunan dan menjadi ketua Majelis Syuro partai ini. Juga terpilih menjadi anggota DPR sampai tahun 1980.

Tepat pada hari ini haul KH Bisri Syansuri ke-46 dan juga haul sang istri, Siti Khodijah ke-72 di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang. ***

Writer: Redaksi

Editor: Suwasis

Previously

Pembangunan Tak Berkeadilan akan Membawa Jombang Hancur Pelan-Pelan

Next

MTsN 16 Jombang Berhasil Raih Juara 3 dalam Lomba Profil Madrasah

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement