Roro Kuning dan Lambang Kuning: Menggali Kisah Istri Gajah Mada di Nganjuk
Jombang, 22 Desember 2025 – Situs Petilasan Mahapatih Gajah Mada yang terletak di Desa Lambang Kuning, Kertosono, Nganjuk, telah lama menjadi pusat ziarah dan misteri. Namun, di balik narasi umum […]
Jombang, 22 Desember 2025 – Situs Petilasan Mahapatih Gajah Mada yang terletak di Desa Lambang Kuning, Kertosono, Nganjuk, telah lama menjadi pusat ziarah dan misteri. Namun, di balik narasi umum tentang tempat peristirahatan Gajah Mada, tersembunyi sebuah legenda yang jauh lebih personal dan menyentuh hati. Menurut cerita yang diyakini kuat oleh masyarakat setempat, situs ini sebenarnya adalah bekas tempat tinggal (petilasan) dan peristirahatan terakhir Istri Gajah Mada, yang dikenal dengan nama Roro Kuning atau Putri Kuning. Kepercayaan ini diperkuat oleh kesamaan nama sang putri dengan nama desa itu sendiri, seolah-olah Lambang Kuning adalah penanda dan lambang kehormatan bagi keberadaan sang istri Mahapatih di wilayah tersebut.
Kisah Roro Kuning memberikan perspektif humanis yang unik tentang sosok Gajah Mada yang legendaris. Diketahui bahwa catatan sejarah resmi Majapahit, seperti Nagarakretagama, sangat minim menyebutkan detail kehidupan pribadi Gajah Mada. Oleh karena itu, legenda Lambang Kuning mengisi kekosongan tersebut dengan cerita rakyat yang kaya. Diyakini, Gajah Mada membangun atau menyediakan kediaman di Nganjuk—yang saat itu mungkin merupakan dusun perdikan (daerah bebas pajak)—untuk memastikan sang istri hidup dalam ketenangan dan jauh dari hiruk pikuk intrik politik Keraton Trowulan. Ini mencerminkan upaya perlindungan dan kasih sayang seorang pemimpin besar kepada keluarganya.
Hingga kini, Petilasan di Lambang Kuning tidak hanya diziarahi untuk mengenang ketangguhan Gajah Mada, tetapi juga menjadi tempat bagi mereka yang mencari berkah untuk keharmonisan rumah tangga, ketenangan batin, dan kesetiaan. Keberadaan Roro Kuning di Lambang Kuning mengajarkan bahwa di balik kebesaran seorang pemimpin yang menyatukan Nusantara dengan Sumpah Palapa, ada kekuatan domestik dan spiritual yang menjaganya. Dengan demikian, situs di Nganjuk ini berdiri sebagai monumen cinta, kesetiaan, dan pengorbanan personal yang menguatkan narasi sejarah Majapahit dari sisi yang sering terabaikan.
Penulis : Ki Jenggo , Ketua PCNU Lesbumi Ponorogo







