Home News Parau Dari Balik Pintu.
News

Parau Dari Balik Pintu.

Jombang, 8 Januari 2025 – Peristiwa yang tercatat lalu diketahui banyak orang hingga generasi berikutnya barulah sejarah. Sedang peristiwa yang tidak tercatat menjadi sepenggal kisah dalam waktu yang tak terlupakan […]

Jombang, 8 Januari 2025 – Peristiwa yang tercatat lalu diketahui banyak orang hingga generasi berikutnya barulah sejarah. Sedang peristiwa yang tidak tercatat menjadi sepenggal kisah dalam waktu yang tak terlupakan selalu dan perlu waktu seumur hidup untuk melupakan hal itu.

Teater Tembung Undar Jombang menyiratkan sejarah dan peristiwa sebagai psikologi sosial sekaligus aliansi sentimental individu dalam pentas Parau pada 21 Desember 2025. Parau yang dipentaskan hasil adaptasi naskah babon Ayahku Pulang karya Usmar Ismail.

Pementasan kedua Teater Tembung tersebut diperankan aktor baru sebagai proses hasil penerimaan mahasiswa baru. Sedang aktor sebelumnya telah mementaskan lakon Pertama dalam naskah Tiga Sendok Bumbu pada 8 Februari 2025.

Parau-Ayahku Pulang mengisahkan anak anak yang hidup serumah hanya dengan Sang Ibu. Sedang kamus yang namanya Ayah bagi anak anak tidak ada referensinya karena Sang Ayah pergi meninggalkan keluarga sejak mereka balita, bahkan anak ragil masih dalam kandungan. Ayah bagi mereka hanya ada di cerita teman teman sekolah sepermainan bahwa yang begitu disebut Ayah. Sedang mereka bersama ibunya harus bertahan hidup sekaligus sebagai fatherless masing masing.

Berangkat dari kondisi broken semacam itulah pergolakan naskah ini dibangun. Di mana anak pertama selalu berselisih paham dengan Sang Ibu yang masih merindukan ayah bagi anak anaknya agar pulang. Sementara anak pertama berontak agar ayahnya dianggap telah tiada karena ada dan tidaknya sama saja.
Anak ke dua bersikap netral, andai ayahnya pulang ia merasakan hal setara dengan cerita para temannya yang memiliki ayah. Sedang anak terakhir yang ditinggal sejak dalam kandungan bersikap pasif tentang apa itu ayah, sosoknya, fungsinya.

Perbedaan sikap terhadap sosok ayah antara anak dan ibunya memiliki latar belakang kisah sendiri sendiri. Ibu mengalami kisah tersendiri bersama ayah, bagaimana awal menemukan lelaki pujaan hati, jatuh cinta asmara dan kebersamaan yang butuh waktu seumur hidup untuk melupakan. Namun anak anak tumbuh di jaman berbeda yang kisahnya terhadap sosok Ayah berbeda dengan yang dialami Sang Ibu. Ketidakpahaman terhadap kisah masa lalu bagi individu di luar diri manusia itulah yang menyebabkan perbedaan sikap. Hingga Sinyo Wibisono dalam analisa naskah mengatakan simpulan bahwa ketika seseorang tidak bisa memaafkan orang lain, lantas apa bedanya dengan diri sendiri?

Dalam pementasan Parau, Via berperan sangat apik sebagai Suntiyani anak pertama. Penguasaan teks, ekspresi dan pergerakan tubuh tampil seimbang tiap melontarkan kata dalam persoalan. Upaya Via dalam memaknai naskah Parau cukup berhasil meskipun sebagai aktor baru-mahasiswa baru. Sedang Wulan yang berperan sebagai Ibu menampilkan wajah dan busana pas namun karena Ibu melakukan adegan kerja menjahit yang mesinnya menghadap dinding, suara Ibu terdengar samar ketika tidak menghadap penonton. Hal penguasaan suara terhadap posisi panggung inilah hal yang perlu didalami lebih lanjut oleh Teater Tembung pada pementasan berikutnya.

Perbedaan akting terdapat pada Siska yang memerankan Masyita sebagai anak kedua. Mentalnya cukup tatag dalam demam panggung, namun kemasan gerak tubuh serta arah menghadap masih perlu diperbaiki, masih terdapat gerak dan arah yang patah. Adapun tiga pemeran lain yakni Nanda sebagai Mintarsih anak terakhir, Nino sebagai Wiryo-Ayah yang akhirnya pulang bersama sayup takbir Idul Fitri dan Firman sebagai orang dekat Wiryo cukup datar dalam mementaskan naskah. Tiga aktor terakhir akan lebih baik jika terus belajar dan berproses keaktoran.

Selain enam aktor baru di atas, Hindun sebagai penulis naskah Parau dan Rido Aditya sebagai sutradara cukup tepat berargumen ketika dicecar berbagai pertanyaan penonton dalam diskusi refleksi pementasan yang digelar usai pementasan dan dimoderatori oleh Fialy. Berani menjawab atas pertanyaan atas apa yang dilakukan adalah harga mahal sebagai tanda rasionalisasi atas keilmuan mereka sedang bekerja. Ada banyak orang memiliki satu gagasan namun gagap dan berkilah ketika dimintai pertanggungjawaban. Riris D Nugraiani seniman Mojowarno yang hadir menyebut nada setara bahwa jika rasionalisasi tidak bekerja, tidak mampu memproyeksikan data dan fakta, maka Drama hanyalah pelampiasan belaka dalam situasi data juga bisa disandiwarakan.

[20.20, 8/1/2026] Sabrank: Yu Inex Jati Utami selaku seniman senior dalam perteateran lebih mengupas tentang setting panggung. Dalam Parau panggung disetting tampilan rumah lawas namun jendela berkorden yang menggambarkan rumah tua namun bekas hunian orang kaya. Wiryo dalam hal ini Ayah yang pergi dulunya adalah saudagar kaya. Tampak ketika Wiryo kembali ke rumah itu lagi sambil berkata, “Aku Pulang. Aku pergi dengan harapan ada tambatan lain yang lebih nyaman di luar sana. Tapi aku tak menemukan tempat ternyaman selain rumah ini dan dirimu.” Kalimat Wiryo tersebut membuat wajah sang Ibu bermekeran bunga seribu dan seolah kembali ke masa 20-30 tahun lalu.

Mbah Catur yang juga hadir justru mengembalikan hasil pementasan Parau pada teori Independensi Seni Untuk Seni. Apapun capaiannya itulah orisinalitas dalam pementasan yang siapapun tidak berhak mengkritisi. Orang lain hanya pandai menilai namun belum tentu mampu berproses hingga taraf memproduksi pementasan sebagai copyright.

Namun sebagian besar awak teater senior yang hadir menyarankan penting observasi lebih dalam atas sebuah karya. Tanpa observasi sebagaimana dikatakan Yu Inex menyoal foto yang ditaruh dalam almari hanyalah foto orang yang sudah mati. Foto dalam setting panggung Parau harusnya ditempel didinding.
[20.21, 8/1/2026] Sabrank: Hindun selaku penulis naskah mengatakan bahwa Parau memproyeksikan kesetaraan gender. Di mana anak yang berselisih paham dengan ibunya tidak harus mengikuti pakem tradisional anak harus manut orang tua. Dalam kaitan observasi naskah Parau kaitan dengan kesetaraan gender justru kurang mengena. Riris D Nugraiani selaku aktivis perempuan menyebut dengan istilah mengambang. Naskah Parau dalam kesetaraan gender tidak semata soal pakem tradisional. Bahwa perbedaan lk dan perempuan abadi terletak pada alat vital dan sistem reproduksi. Perangkat seperti lipstik, rok mini dll tetaplah atribut wanita yang berpengaruh pada birahi lk lk yang berpotensi terjadinya pelecehan martabat perempuan.

Monolog Dari Balik Pintu.
Panggung teater yang digelar Teater Tembung UKM mahasiswa Undar Jombang pada 21 Desember 2025 tidak hanya satu pementasan. Satu tiket penonton disuguhi dua pementasan. Sebelum Lakon Parau dimainkan, terlebih dulu diisi pementasan tamu Monolog Dari Balik Pintu oleh Febri Jay seniman Mojoagung yang merampungkan kuliahnya di Surabaya. Selama perjalan ulang alik Jombang-Surabaya dalam berkesenian, Febry Jay menunjukkan keseriusannya dalam mendalami kesenian.

    Naskah monolog Dari Balik Pintu yang ditulis dan dimainkan Febri mengisahkan Gae waria yang diresahkan oleh Bram pasangannya. Waria dalam kamar apartemennya justru dititipi Dion, anak kecil Bram. Waria penasaran pada cerita Dion bahwa ibunya suka menyiksa dirinya dan tampak jelas pada lebam lebah pada fisik Dion. Waria kemudian penasaran dan bertamu pada rumah istri sah Bram-ibu kandung Dion. Dari situlah pergolakan monolog disuspansikan. Di mana Waria ditodong pisau oleh istri Bram yang tersakiti karena diabaikan oleh suaminya lantaran selingkuh dengan seorang waria. Pembunuhan pun terjadi yang esok harinya muncul di halaman koran berita ditemukannya mayat anak kecil bersama ibunya di tempat sampah.

    Tidak gampang bagi Febri Jay memainkan monolog di mana dirinya harus memerankan dua atau tiga tokoh dengan karakter yang berbeda. Sebagaimana monolog para Dalang Wayang Kulit. Keliru menampilkan karakter bisa membingungkan penonton dalam menangkap alur cerita. Namun hadirnya Febri Jay dalam panggung monolog menumbuhkan optimisme seni panggung. Andai, para monolog semisal Andy Setya Wibowo, Cucuk EsPe dan Putu Wijaya sudah tiada pun tidak masalah. Karena sudah hadir Febry Jay sebagai pengganti.

    Baik Naskah Parau atau Dari Balik Pintu keduanya menunjukkan ketangguhan wanita yang ditinggal lelakinya. Wanita yang lebih maskulin menghadapi kehidupan yang ditinggal para lelakinya yang faminim. Dalam theosofi, Adam lebih faminim meratap dan meminta dipenuhi kebutuahannya. Sedang Hawa lebih maskulin dengan ksatria Sudi menemani Adam. Bunda Maria juga lebih maskulin melahirkan Isa sendirian tanpa lelaki yang mendampinginya.

    Penulis): Sabrank Suparno. Mantan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jombang 2017-2021.

    Previously

    Dana Desa 2026 dalam Bayang-Bayang Kebijakan Fiskal Baru: Antara Arah Kemandirian dan Beban Baru Desa

    Next

    Ruang Aman Bernama Musik: Kegelisahan Kolektif dalam Playlist Re;torika

    admin
    Author

    admin

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Mata Jombang
    advertisement
    advertisement