NGOBRAS: DISAPA CHAIRIL ANWAR.
Jombang, 10 Agustus 2026 – Sungguh! Aku tak hendak memunggungi. Bahkan ketika berada di ruang transit panggung Perpustakaan HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, aku merasa seperti disambut seseorang. Entah […]
Jombang, 10 Agustus 2026 – Sungguh! Aku tak hendak memunggungi.
Bahkan ketika berada di ruang transit panggung Perpustakaan HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, aku merasa seperti disambut seseorang. Entah benar atau hanya perasaan seorang pemain yang sebentar lagi naik panggung.
Seorang lelaki dengan jemari yang kokoh, sebatang rokok, dan senyum tipis yang tangguh.
Chairil Anwar.
Aku diam.
Lalu dalam hati berkata, “Wah, ini bukan kebetulan.”

Entah sudah berapa juta orang membaca namamu. Jutaan pasang mata mungkin pernah berhenti pada kalimatmu tentang “binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang.” Tentu Chairil tidak berhenti pada satu kalimat itu.
Di balik puisi-puisinya ada kegelisahan manusia.
Ada perjuangan.
Ada keberanian untuk bertahan.
Ada kemarahan terhadap kedzaliman.
Dan yang paling penting, ada usaha mempertahankan sesuatu yang dianggap benar, indah, dan manusiawi, meskipun zaman sering kali justru menyuruh kita diam, bahkan pergi.
Jamino yang sejak tadi diam tiba-tiba nyeletuk,
“Lha terus koen wedi, Sut?”
Aku menoleh.
“Wedi opo?”
“Wedi karo Chairil.”
Aku tertawa.
“Bukan takut. Justru tertantang.”

Sebab hari itu aku tidak datang untuk berhadapan dengan Chairil Anwar sebagai penyair besar yang harus dipuja-dikaji,direnungkan. Aku datang membawa sesuatu yang juga lahir dari kegelisahan zaman: **Tradisi Lisan Nusantara.**
Di hadapanku ada ratusan orang. Para peneliti, budayawan, pelaku tradisi, akademisi, seniman, anak-anak muda, dan para penjaga ingatan yang datang dari berbagai penjuru Nusantara, bahkan belahan dunia yang lain.
Mereka bukan sekadar penonton.
Mereka adalah pejuang.
Mereka menjaga cerita agar tidak mati.
Menjaga mantra agar tidak hilang.
Menjaga tembang, pantun, kaba, hikayat, dongeng, mantra, petuah, permainan, dan segala macam pengetahuan yang diwariskan dari mulut ke mulut agar tidak dikalahkan oleh suara mesin dan algoritma.
Aku lalu berpikir, mungkin inilah titik temu antara Chairil dan Tradisi Lisan.
Chairil menjaga api melalui kata-kata yang dituliskannya.
Para penjaga tradisi lisan menjaga api melalui suara yang diwariskan.
Medianya berbeda.
Tetapi semangatnya sama:
**Jangan biarkan manusia kehilangan ingatan.**
Rusmini yang mendengar dari belakang kemudian nyeletuk,
“Berarti acara iku …, ?”
“Jangan diplesetkan!”
“ sama-sama melawan zaman,keadaan.”
Aku terdiam sebentar.
“Ya… Chairil bisa jadi saudara dalam semangat.”
Dan tiba-tiba aku merasa tidak sedang berdiri di belakang Chairil.
Aku justru sedang berdiri di sampingnya.
Sebab aku tidak sedang hendak memunggunginya.
Aku hanya membawa Besut dari Jawa Timur untuk bertemu dengan anak-anak Nusantara yang lain.
Membawa Mahyong, Kondobuleng, Babendu, Mamanda, Abdulmuluk, Sandiwara Bangsawan, Ludruk, Dll.
Membawa keluguan.
Membawa humor.
Membawa kritik.
Membawa suara wong cilik.
Dan membawa keyakinan bahwa tradisi tidak harus menjadi benda museum.
Tradisi boleh bergerak.
Boleh tertawa.
Boleh bertanya.
Boleh menggugat.
Bahkan boleh berkelahi dengan zamannya—asal jangan kehilangan manusia.
Maka ketika sebentar lagi Besut naik panggung dalam acara Tradisi Lisan Nusantara, dengan wajah Chairil Anwar di belakangnya, rasanya bukan sebuah pertarungan antara masa lalu dan masa kini.
Bukan pula Besut hendak menutupi Chairil.
Justru sebaliknya.
**Besut sedang menyapa Chairil.**
Dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari puisi ke panggung.
Dari tulisan ke lisan.
Dari seorang penyair yang pernah menyuarakan kegelisahan manusia kepada ratusan penjaga tradisi yang hari ini masih berjuang mempertahankan ingatan bangsa.
Chairil mungkin hanya tersenyum tipis sambil mengisap rokoknya.
Seolah berkata:
“Ayo, bangkitkan. Mari kita jabat tangan.”
Dan Besut menjawab:
“Siap Uda! Tapi aku mau bikin mereka tertawa dulu.”![]()
![]()
![]()
Mungkin itulah cara paling sederhana untuk menjaga api tetap menyala.
Sebab perjuangan tidak selalu benturan atau harus dengan suara keras.
Kadang cukup dengan satu cerita.
Satu tembang.
Satu parikan.
Satu puisi.
Satu pertunjukan.
Atau seorang Besut yang naik panggung dengan segala kesederhanaan.
Karena selama manusia masih mau bercerita, selama itu pula bangsa ini belum kehilangan ingatannya. Meimura.( Facebook)







