Akhyak Guru MAN 3 Jombang ; Pameran Lukisan Pasir Tunggal Empaty Bencana Aceh dan Sumatera
Jombang, 6 Desember 2025 — Pameran tunggal “Pasir, Doa, dan Sholawat untuk Kemanusiaan” karya Akhyak, Pelukis Pasir sekaligus Guru MAN 3 Jombang, berlangsung penuh hikmad dan mendapat apresiasi tinggi dari […]
Jombang, 6 Desember 2025 — Pameran tunggal “Pasir, Doa, dan Sholawat untuk Kemanusiaan” karya Akhyak, Pelukis Pasir sekaligus Guru MAN 3 Jombang, berlangsung penuh hikmad dan mendapat apresiasi tinggi dari tokoh daerah, komunitas seni, guru, dan para pelajar. Pameran yang digelar pada 6–7 Desember 2025 di Aula Terbuka Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang ini menjadi gerakan kecil namun berdampak besar untuk membantu masyarakat Aceh dan Sumatera yang terdampak bencana.
Pameran ini tidak hanya menampilkan karya seni, tetapi menjadi sebuah inspirasi nyata bahwa pasir dapat lahir karya dan juga bisa menjadi jembatan kepedulian bagi bencana Aceh dan Sumatera—gagasan sederhana namun kuat, yang menggerakkan empati lintas usia.

Pada pembukaan pameran, Heru Cahyono, M.Sn., M.Pd., Kasi Kebudayaan Dinas Pendidikan Jombang mewakili Dra. Wor Windari, M.Si. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang, menyampaikan penghargaan mendalam atas kiprah Akhyak.
“Kegiatan kemanusiaan seperti ini adalah bentuk handarbeni rasa peduli sesama, dan bisa dilakukan oleh siapa pun. Kami, bagian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Jombang, mendukung kegiatan seperti ini. Kami mengapresiasi Pak Akhyak yang telah menjadi pelopor berkesenian dan menjadi guru di MAN 3 Jombang. Ia adalah sosok masyarakat yang istiqomah menginspirasi anak didik, guru, dan para seniman dengan gagasan inovatif dalam berkesenian—sebuah inspirasi nyata bahwa dari pasir pun dapat lahir karya,” ujar Heru.

Beliau menegaskan bahwa gagasan Akhyak yang menjadikan pasir sebagai medium seni sekaligus sarana donasi merupakan contoh luar biasa bahwa kreativitas dapat menjadi jalan kepedulian, dan sangat layak diteladani oleh guru, siswa, serta masyarakat.
Banyak pengunjung, terutama pelajar, yang merasakan langsung daya inspirasi dari karya Akhyak.
Irfan, seorang siswa, mengatakan:
“Pak Akhyak itu inspiratif. Karyanya membuktikan pasir yang biasa bisa jadi lukisan indah.”

Hasna Cahya Rahmani, siswi SMPN 1 Tembelang, tampak terpukau ketika mengamati lukisan pasir bergambar Gus Dur tersenyum.
“Keren sekali. Kok bisa ya pasir dibuat lukisan? Setelah melihat pameran ini, saya ingin coba membuat gambar pakai pasir di rumah,” tuturnya.
Respon seperti ini menunjukkan bahwa langkah Akhyak bukan hanya menolong sesama—tetapi juga membangkitkan rasa ingin tahu, semangat berkarya, dan empati sosial pada generasi muda.
Pembukaan Unik: Menaburkan Pasir sebagai Simbol Harapan
Salah satu momen paling menarik adalah prosesi pembukaan pameran. Tidak seperti pameran biasanya, acara ini dibuka dengan menaburkan pasir di atas kanvas hitam.
Prosesi dilakukan oleh Heru Cahyono dan Hartono, Kepala Bappeda Jombang, didampingi langsung oleh Akhyak. Simbol menabur pasir ini menggambarkan bahwa satu butir kreativitas dapat tumbuh menjadi kepedulian, menyalakan harapan bagi korban bencana Aceh dan Sumatera.
Pameran ini mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang, Baznas Jombang, Komunitas Seni, Yayasan Rebung Pring Ori, guru, serta masyarakat luas. Langkah kecil Akhyak telah membuktikan bahwa seni dapat menjadi media gerakan sosial yang kuat:
menginspirasi, menggerakkan, dan mengajak siapa saja untuk peduli.
Ketua Yayasan Rebung Pringori, Ki Wasis menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini layak di apresiasi dan bisa sinergi dengan yang lain, suatu hari kita berkolaborasi dengan MGMP bahasa Indonesia Kementrian Agama karena Kasi Pendma dan Kakemenag Jombang berkomitmen akan agenda ini bahkan akan dilakukan berkeliling per 3 bulan tegasnya.
Semoga langkah ini menjadi teladan bahwa karya seni bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan. (SyS)







