Home Uncategorized Besut “Pulang Kampung” ke Jombang: Bukan Sekadar Pentas, Tapi Ujian Relevansi Ludruk di Era Kini
Uncategorized

Besut “Pulang Kampung” ke Jombang: Bukan Sekadar Pentas, Tapi Ujian Relevansi Ludruk di Era Kini

Jombang, 14 April 2026 – Merepost dari tulisan Budi W di Tim Pikiran Rakyat Jatim. Sumber Artikel berjudul ” Besut “Pulang Kampung” ke Jombang: Bukan Sekadar Pentas, Tapi Ujian Relevansi Ludruk […]

Jombang, 14 April 2026 – Merepost dari tulisan Budi W di Tim Pikiran Rakyat Jatim. Sumber Artikel berjudul ” Besut “Pulang Kampung” ke Jombang: Bukan Sekadar Pentas, Tapi Ujian Relevansi Ludruk di Era Kini “,  Pentas keliling “Besut Jajah Deso Milangkori” akhirnya kembali ke titik asalnya: Jombang. Namun, kepulangan ini bukan sekadar agenda seni. Ia membawa pertanyaan lebih besar apakah ludruk masih hidup sebagai alat kritik, atau hanya tersisa sebagai nostalgia panggung? Pementasan Ludruk Garingan yang digagas Meimura akan digelar di Sanggar Komunitas Rebung, Mojokrapak, Tembelang, Sabtu (18/4/2026) malam. Setelah lebih dulu menyambangi Surabaya dan Sidoarjo, Jombang menjadi titik yang paling simbolik tempat di mana Besut, cikal bakal ludruk, diyakini lahir. Meimura atau Meijono kembali memerankan tokoh Besut. Ia tidak sendirian. Dua pemain lokal, Azis dan Takim, turut dilibatkan. Usai pentas, diskusi budaya digelar, menghadirkan budayawan Nasrulillah dan Ketua Komunitas Rebung Suwasis, dengan moderator Henri Nurcahyo.
Namun, lebih dari sekadar panggung, acara ini adalah bagian dari program Pemberdayaan Ruang Publik Kementerian Kebudayaan RI yang menyasar 10 kota di Jawa Timur. Setelah Jombang, rombongan akan bergerak ke Nganjuk, Mojokerto, Kediri, Madiun, Blitar, Malang, hingga Jember.
Pulang yang Tidak Sederhana Bagi Meimura, “mudik” Besut ke Jombang bukan perjalanan biasa. Ia menyebutnya sebagai perjalanan ideologis. Besut, dalam sejarahnya, bukan sekadar karakter hiburan. Ia adalah simbol kritik sosial—tokoh yang menyuarakan keresahan rakyat kecil lewat humor. Sebelum Indonesia merdeka, peran itu sudah dijalankan: menyindir kekuasaan, membongkar ketimpangan, hingga menyampaikan pesan tanpa harus berhadapan langsung dengan represi.
“Besut bukan hanya pulang ke tanah, tapi pulang ke makna,” kata Meimura. Di Surabaya, karakter Besut kemudian berkembang menjadi ludruk—kesenian rakyat yang selama puluhan tahun menjadi ruang ekspresi sekaligus kritik sosial. Ludruk bukan sekadar tontonan, tetapi juga medium pendidikan publik yang membumi. Jombang: Rumah Besar Pemikiran Kepulangan ini menjadi semakin relevan karena Jombang bukan wilayah biasa. Kota ini dikenal sebagai lumbung pemikiran melahirkan tokoh-tokoh besar seperti KH Hasyim Asy’ari, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholish Madjid, hingga Emha Ainun Nadjib. Dalam konteks itu, Besut tidak hanya kembali ke panggung, tetapi juga ke tradisi intelektual yang kuat: tradisi yang memadukan agama, budaya, dan kritik sosial.
Gus Dur, misalnya, dikenal menggunakan humor sebagai alat kritik kekuasaan—sebuah pendekatan yang sejalan dengan karakter Besut. Sementara Nurcholish Madjid mendorong pemisahan nilai agama dari kepentingan politik praktis, sebuah gagasan yang hingga kini masih relevan. Antara Tradisi dan Tantangan Zaman Pertanyaan utama dari pentas ini menjadi jelas: apakah ludruk masih menjadi alat kritik yang hidup, atau justru terjebak sebagai artefak budaya? Meimura mengingatkan, kampung halaman seperti Jombang tidak membutuhkan nostalgia. Yang dibutuhkan adalah kelanjutan dialektika—ruang berpikir yang terus hidup.
“Besut tidak boleh pulang sebagai sesuatu yang selesai. Ia harus pulang sebagai pertanyaan,” ujarnya.
Pertanyaan itu mencakup hal mendasar: apakah tradisi masih menjadi sumber kebijaksanaan, apakah humor masih tajam sebagai kritik, atau justru kehilangan daya gugahnya di tengah arus hiburan modern. Lebih dari Sekadar Panggung Pentas di Jombang ini menjadi ujian: apakah ludruk masih mampu membumikan gagasan besar ke dalam bahasa rakyat—seperti dulu, ketika ia menjadi “universitas wong cilik”.
Jika berhasil, maka Besut tidak sekadar hidup di panggung. Ia akan kembali menjadi metode cara berpikir yang sederhana, membumi, tapi tajam. Jika tidak, maka ludruk berisiko menjadi sekadar kenangan. Dan mungkin, di titik itulah makna mudik yang sesungguhnya diuji: bukan tentang kembali, tetapi tentang apakah yang kembali itu masih relevan.***

Previously

Bekerjasama dengan Dana Indonesiana , LPDP, Kementrian Pendidikan; Rebung Pringori menggelar FGD Revitalisasi Prasasti Munggut sebagai Ruang Publik Inklusif Selama 3 Hari

Next

Besut Mudik ke Jombang

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement