Ironi Jawa dan Kejayaan Thailand (3) ; Indonesia: Sang Pionir yang Terjebak Nostalgia
Jombang, 2 Juni 2025 – Hari ini, ironi mencapai puncaknya. Indonesia—yang Pulau Jawa-nya pernah menjadi pusat keunggulan pertanian—kini justru mengimpor beras dari Thailand dan Vietnam. Petani kita masih berkutat dengan […]
Jombang, 2 Juni 2025 – Hari ini, ironi mencapai puncaknya. Indonesia—yang Pulau Jawa-nya pernah menjadi pusat keunggulan pertanian—kini justru mengimpor beras dari Thailand dan Vietnam. Petani kita masih berkutat dengan masalah klasik: subsidi pupuk yang tidak tepat sasaran, harga gabah yang tidak stabil, dan lahan produktif yang terus menyusut karena alih fungsi. Sementara itu, Thailand dengan tenang menikmati posisinya sebagai salah satu eksportir pangan terbesar dunia.
Kita seperti seorang koki legendary yang dulunya menciptakan resep rahasia, tapi kemudian lupa cara membuatnya sendiri. Sementara murid-muridnya yang dulu belajar resep itu kini membuka restoran internasional yang sukses besar, sang koki asli malah kebingungan mengapa masakannya tidak lagi selezat dulu.
Lebih tragis lagi, kita sering bangga dengan narasi “guru bangsa” dan “pusat peradaban” tanpa menyadari bahwa kebanggaan historis tanpa inovasi berkelanjutan hanya akan menjadi museum yang indah untuk dikunjungi, bukan kekuatan ekonomi yang riil. Thailand tidak terjebak nostalgia tentang sejarah Kerajaan Sukhothai atau Ayutthaya. Mereka fokus pada masa depan dengan belajar dari masa lalu.
*Refleksi: Ketika Warisan Menjadi Beban*
Mungkin inilah paradoks terbesar dalam sejarah pembangunan: kadang-kadang, menjadi pionir justru menjadi bumerang. Kita terlalu nyaman dengan status sebagai “negara agraris” hingga lupa bahwa agraris yang sukses di abad ke-21 membutuhkan teknologi, manajemen, dan visi yang sama canggihnya dengan sektor industri atau jasa. Kita terjebak dalam romantisme sawah dan petani tradisional, sementara Thailand dengan pragmatis mentransformasi pertanian menjadi agribisnis modern yang berbasis teknologi dan data.
Raja Bhumibol Adulyadej, yang dikenal sebagai “Raja Petani,” tidak hanya turun ke sawah untuk foto. Ia benar-benar melakukan riset pertanian, mengembangkan varietas unggul, dan membangun sistem irigasi yang efisien. Sementara kita? Kita punya banyak menteri yang foto di sawah, tapi berapa banyak yang benar-benar paham tentang soil science, plant breeding, atau agricultural economics?
*Epilog: Kembali Menjadi Guru*
Kisah Jawa dan Thailand mengajarkan kita bahwa dalam dunia yang terus berubah, tidak ada yang namanya “guru selamanya.” Setiap generasi harus membuktikan kembali keunggulannya. Setiap bangsa harus terus belajar, bahkan dari muridnya sendiri yang mungkin sudah melampaui sang guru.
Pertanyaan yang menggantung adalah: sanggupkah kita mengesampingkan ego historis dan kembali belajar—mungkin kali ini dari Thailand yang dulunya belajar dari nenek moyang kita? Ataukah kita akan terus terjebak dalam narasi kejayaan masa lalu sambil mengabaikan realitas bahwa “the kitchen of the world” kini berpindah tangan ke negeri yang dulunya menjadi murid kita?
Seperti kata pepatah Jawa: _”Aja dumeh, aja gumunan, aja aleman”_ (jangan sombong, jangan heran, jangan manja). Mungkin sudah saatnya kita belajar kembali menjadi murid yang baik, bahkan kepada mereka yang dulunya belajar dari kita. Karena sejatinya, keunggulan bukanlah warisan yang bisa diturunkan begitu saja—ia harus diperjuangkan ulang oleh setiap generasi.
_Wallahu a’lam bishawab._
Writer: Halim HD (lahir 25 Juni 1951) yang memiliki nama asli Liem Goan Lay adalah networker kebudayaan berkebangsaan Indonesia
Editor: admin







