Home Esai Ironi Jawa dan Kejayaan Thailand (2) Raja Chulalongkorn: Mahasiswa Teladan yang Melampaui Dosennya
Esai

Ironi Jawa dan Kejayaan Thailand (2) Raja Chulalongkorn: Mahasiswa Teladan yang Melampaui Dosennya

Jombang, 2 Juni 2025 – Sementara Jawa tenggelam dalam rutinitas eksploitasi kolonial, Raja Rama V dari Thailand datang dengan mata yang berbeda. Kunjungannya ke Yogyakarta pada 1871 dan 1896 bukan […]

Jombang, 2 Juni 2025 Sementara Jawa tenggelam dalam rutinitas eksploitasi kolonial, Raja Rama V dari Thailand datang dengan mata yang berbeda. Kunjungannya ke Yogyakarta pada 1871 dan 1896 bukan sekadar diplomasi kerajaan biasa—ia datang sebagai mahasiswa yang haus ilmu. Bayangkan seorang raja yang turun langsung mempelajari peta irigasi Sungai Progo, berbincang dengan mandor tentang rotasi tanaman, bahkan mengamati cara petani Jawa mengelola sawah berdasarkan kalender lunar.

Yang memukau dari Raja Rama V bukanlah fakta bahwa ia belajar dari Jawa, melainkan bagaimana ia _mengkapitalisasi_ pengetahuan itu. Ia tidak sekadar mengimpor bibit dan teknologi, tapi juga mengimpor _manusia_—insinyur, mandor, dan tukang ahli dari Jawa yang kemudian diberi lahan dan status sosial tinggi di Thailand. Kampung Jawa di Bangkok yang masih eksis hingga kini adalah bukti konkret bahwa transfer knowledge tidak cukup dengan membaca buku atau mengirim diplomat. Perlu ada migrasi keahlian, perlu ada _brain gain_ yang dikelola secara sistematis.

Dalam terminologi modern, Raja Rama V melakukan yang sekarang kita sebut sebagai *”aggressive talent acquisition”* dengan “cultural integration strategy.” Ia paham bahwa membangun kejayaan pertanian bukan cuma soal bibit unggul atau pupuk berkualitas, tapi soal _mindset_ dan _know-how_ yang melekat pada manusianya.

*Thailand: Dari Murid Menjadi Guru Dunia*

Apa yang terjadi selanjutnya adalah transformasi yang hampir mustahil dipercaya. Thailand, yang dulunya belajar dari Jawa, kini menjadi *”the kitchen of the world”*—produsen dan eksportir utama berbagai komoditas pangan tropis. Beras Thailand berkualitas premium, buah-buahan tropis yang mencapai supermarket di Eropa, hingga produk olahan makanan yang menguasai pasar ASEAN: semua itu dibangun di atas fondasi yang dipelajari dari Jawa abad ke-19.

Yang lebih menyakitkan lagi, keberhasilan Thailand bukan karena mereka memiliki tanah yang lebih subur atau iklim yang lebih ideal. Kondisi geografis Thailand dan Jawa relatif setara. Perbedaannya terletak pada visi jangka panjang dan konsistensi eksekusi. Sementara kita sibuk berganti paradigma pembangunan setiap ganti menteri—dari revolusi hijau ke agribisnis, dari food estate ke ketahanan pangan—Thailand tetap konsisten dengan satu visi: menjadikan pertanian sebagai tulang punggung ekonomi yang dikelola secara modern dan profesional.

Seperti pepatah Sunda: _”Teu nyaho kacang poho ku kulitna”_ (tidak tahu kacang lupa pada kulitnya). Thailand justru lebih menghargai “kulit kacang” yang mereka pelajari dari Jawa dibandingkan Jawa sendiri yang sudah lupa pada kekuatan aslinya.

Writer: Halim HD (Halim HD (lahir 25 Juni 1951) yang memiliki nama asli Liem Goan Lay adalah networker kebudayaan berkebangsaan Indonesia)

Editor: admin

Previously

Romantisme K-U-H Dalam Menghadapi Era Medsos.

Next

Ironi Jawa dan Kejayaan Thailand (3) ; Indonesia: Sang Pionir yang Terjebak Nostalgia

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement