Home Hiburan Ketika Bendera Bajak Laut Berkibar : Siapa yang Sebenarnya Menenggelamkan Kapal?
Hiburan

Ketika Bendera Bajak Laut Berkibar : Siapa yang Sebenarnya Menenggelamkan Kapal?

Jombang, 6 Agustus 2015 – Beberapa hari terakhir, angin politik berembus kencang dari Senayan. Sejumlah anggota dewan yang terhormat sontak tersedak ketika melihat bendera bajak laut berkibar di berbagai sudut […]

Jombang, 6 Agustus 2015 – Beberapa hari terakhir, angin politik berembus kencang dari Senayan. Sejumlah anggota dewan yang terhormat sontak tersedak ketika melihat bendera bajak laut berkibar di berbagai sudut negeri—dari truk pengangkut sayur hingga delman di pelosok kampung. Dengan nada berapi-api, mereka menyebutnya sebagai “provokasi,” “makar halus,” bahkan ada yang menyarankan agar pelaku dikirim ke pulau sepi—mungkin sekalian dijadikan awak Kapal Hantu.

Tentu saja kita maklum. Di negeri yang simbol sering kali lebih penting dari substansi, mengganti bendera bisa lebih berbahaya ketimbang mengganti konstitusi. Tapi sebelum terlalu jauh menuding rakyat sebagai penyusup atau perongrong negara, mari kita duduk sejenak, seduh kopi, dan bertanya: mengapa bendera bergambar tengkorak lebih banyak berkibar daripada merah putih?

Simbol Tak Pernah Kosong

Dalam ilmu semiotika, simbol tidak pernah netral. Ia adalah wadah dari rasa, memori, dan makna. Ketika rakyat mengganti merah putih dengan bendera bajak laut, barangkali bukan karena mereka ingin mengundang armada Barat menyerang. Bukan pula karena mereka sedang berlatih jadi kru Luffy. Tapi karena mereka merasa negeri ini lebih mirip lautan lepas yang tanpa arah, di mana hukum hanya berlaku bagi yang tak punya kapal besar.

Bendera bajak laut adalah satire. Ia menggambarkan hidup yang harus “membajak” karena negara sibuk memoles lambung kapal tapi lupa tambal kebocoran di ruang mesin. Ia bukan penolakan terhadap Indonesia—ia adalah pertanyaan lirih: di kapal ini, masihkah kami penumpang atau hanya sekedar muatan?

Parodi Nasionalisme yang Terlalu Serius

Beberapa anggota DPR terlihat sangat serius membela simbol negara. Mungkin terlalu serius, hingga lupa bahwa nasionalisme bukan pertunjukan sandiwara kolosal tiap 17 Agustus, melainkan soal roti di meja makan, sekolah gratis yang bukan sekadar baliho, dan hukum yang tidak pilih warna dasi.

Dulu, ketika tukang becak menulis “NKRI Harga Mati” di belakang kursinya, itu bukan hasil pelatihan wawasan kebangsaan. Itu karena ia merasa diperjuangkan. Sekarang, saat ia mengganti benderanya dengan tengkorak, mungkin bukan karena ia benci bangsa ini—tapi karena ia sedang kesepian ditinggal negara.

Nasionalisme, jika boleh diibaratkan, adalah cinta yang tumbuh dari kehadiran. Bukan dari perintah. Cinta itu tak perlu selalu dikatakan, cukup dirasakan. Tapi ketika cinta itu terus diuji oleh ketimpangan, korupsi, dan hukum yang tumpul ke atas, maka jangan heran jika rakyat memilih diam—atau bersajak lewat simbol alternatif.

Mereka yang Merongrong Martabat, Tapi Tak Pernah Dituduh

Kita tentu paham, betapa pentingnya menjaga kehormatan bendera. Tapi izinkan rakyat bertanya balik: siapa yang sesungguhnya merongrong martabat negara? Apakah tukang kayu yang menggantung bendera bajak laut di warungnya, atau mereka yang mencuri uang rakyat dari balik meja rapat ber-AC? Apakah sopir truk yang menempel stiker tengkorak, atau pejabat yang menjual pulau dengan diskon?

Kalau simbol negara harus dijaga, maka lebih dulu kita harus menjaga keadilan, keteladanan, dan amanah. Karena simbol hanyalah kulit. Dan jika kulit dijaga sementara isinya busuk, maka kita tidak sedang menjaga negara, tapi sedang merias bangkai.

Mengembalikan Cinta yang Tak Bisa Dipaksa

Kalau negara ingin merah putih kembali berkibar di kaca truk, di kepala kuda delman, atau di ujung perahu nelayan, maka bukan patroli atau ancaman hukum yang dibutuhkan—melainkan kehadiran yang nyata. Hadir dalam bentuk kebijakan yang adil, dalam perlindungan yang tidak pilih kasih, dan dalam pemimpin yang lebih banyak mendengar daripada bicara soal kebangsaan sambil memandangi peta dari ketinggian.

Jangan paksa rakyat mencintai negara, apalagi dengan todongan pasal. Itu seperti memaksa istri mencintai suami yang pulang hanya saat Pemilu. Cinta, seperti nasionalisme, tidak bisa digerakkan lewat mikrofon. Ia tumbuh lewat laku.

Dan jika suatu hari kelak, bendera merah putih kembali dikibarkan tanpa perintah, tanpa insentif lomba RT, dan tanpa ketakutan—maka saat itulah kita tahu bahwa nasionalisme telah kembali pulang. Bukan karena rakyat takut dituduh makar, tapi karena mereka merasa benar-benar memiliki kapal ini.

Di Mana Kita Berteduh Jika Layar Sobek dan Kompas Rusak?

Rakyat Indonesia bukan bajak laut. Mereka hanya sedang mencoba bertahan di kapal yang oleng. Dan jika mereka mengibarkan bendera tengkorak, mungkin itu bukan karena mereka melawan, tapi karena mereka ingin ditanya— masihkah ada nakhoda di atas geladak?

Atau jangan-jangan, kapalnya sudah dibajak, tapi bukan oleh mereka yang menggantungkan bendera. Melainkan oleh mereka yang tak pernah mengibarkan apa-apa, kecuali kepentingan sendiri.

SAREKAT INLANDER : Majelis Seloso Kliwon Anggoro Kasih

Komunitas bakul kopi pedotan santri magang kyai ora mokal

nDalem SaKayon, 01 Agustus 2025

Writer: Nama asli WIRASTHO Nama pena, dan nama panggilan Sawir Wirastho pernah di bagian riset dan pengembangan warisan budaya lesbumi kota Malang

Editor: Redaktur

Previously

Aktor / Aktris : Penggerak Emosi dan Energi di Panggung ‘Darpana’

Next

Pengobatan Ala Bapak Bambang Guntur Febrianto(56) : Sederhana tapi Ampuh Sembuhkan Banyak Orang

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement