Home Isu Lingkungan Ketika Mikroplastik Ada di Tubuh Manusia: Kenapa Hidup Sehat Belum Jelas?
Isu Lingkungan

Ketika Mikroplastik Ada di Tubuh Manusia: Kenapa Hidup Sehat Belum Jelas?

Jombang – BARU-BARU ini Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada kajian ekologi dan konservasi lahan basah mengungkapkan fakta mengejutkan kepada semua pihak.  Fakta […]

Sampah impor, limbah non-bahan berbahaya dan beracun (B3) untuk kelompok kertas dan plastik masih dilakukan sejumlah negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan Basis Data Statistik Perdagangan Komoditas Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Comtrade), pada 2022 volume impor sampah plastik Indonesia mencapai lebih dari 194.000 ton. Foto : Dok Ecoton

JombangBARU-BARU ini Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada kajian ekologi dan konservasi lahan basah mengungkapkan fakta mengejutkan kepada semua pihak. 

Fakta itu tentang bahaya mikroplastik di tubuh manusia, yang akhir-akhir ini mengancam kehidupan manusia.

Penelitian Ecoton mengungkapkan, mikroplastik yang berukuran kurang dari 5 milimeter bersarang di berbagai organ tubuh manusia. Mencakup otak, paru-paru, hati, ginjal, kulit, testis, sperma, hingga cairan ASI ibu hamil.

Selain itu, mikroplastik yang diteliti Ecoton juga terdeteksi dalam cairan amnion dan plasenta janin. Temuan ini menunjukkan bahwa paparan plastik mulai terjadi sejak ibu hamil mengandung.

Dalam uji polimer yang dilakukan Ecoton, mikroplastik dalam tubuh manusia paling banyak ditemukan dari PET (35,79%), yang berasal dari botol plastik sekali pakai.

Kemudian jenis PS (19,38%) dari styrofoam, PVC (14,38%) dari pipa, dan jenis plastik lainnya, seperti sachet (13,11%), PP (12,98%) dari tutup botol dan wadah microwave.

Ecoton juga menemukan jenis LDPE (2,31%) dari kantong plastik. Namun hanya 1,58% mikroplastik yang terdeteksi berasal dari HDPE (wadah personal care).

Dalam jurnal yang pernah diterbitkan, Ecoton mengungkap Sungai Brantas, Sungai Marmoyo, dan Kali Surabaya, termasuk sungai yang terkontamisasi mikroplastik.  

Bentuk mikroplastik di sepanjang aliran sungai tersebut, ditemukan fiber, film dan fragmen. Bentuk fiber 83%, film 5%  dan fragmen  12%. 

Ukuran  partikel  mikroplastik yang ditemukan adalah 50-4.100 μm dengan  warna  Merah, Biru,  Bening,  Hitam,  Hijau,  Kuning  dan  Putih.

Sumber: Ecoton

Bagaimana dengan Jombang?

Buruknya sistem manajemen dan ketidakpedulian tentang sampah plastik oleh masyarakat, menyebabkan buruknya kualitas lingkungan. Sampah plastik dari pemakaian plastik sekali pakai, tak bisa dielak ternyata menimbulkan masalah baru yang disebut mikroplastik.

Kabupaten Jombang merupakan wilayah yang dihuni 1.376.547 jiwa penduduk, tak lepas juga dari pengguna plastik sekali pakai.

Bahkan di kabupaten yang memiliki 21 kecamatan ini, tercatat hingga 126 ton sampah yang dihasilkan warganya dalam setiap harinya. Meskipun di Kabupaten Jombang sudah diberlakukan Perbup No 52 Tahun 2022 tentang Pembatasan Penggunaan Plastik Sekali Pakai.

Kabid Pengelolaan Sampah dan Ruang Terbuka Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang M Amin Kurniawan mengatakan, dalam sehari total sekitar ada 126 ton sampah yang ditimbun di TPA Banjardowo. ”Kurang lebih 125 atau paling banyak 130 ton per hari,’’ katanya.

Hitungan jumlah sampah yang termasuk sampah plastik tersebut, bisa jadi yang terhitung di TPA saja. Belum sampah plastik yang mengotori sungai dalam kawasan Jombang.

Sungai Brantas, misalnya, sungai terbesar di Jawa Timur yang membagi Kabupaten Jombang menjadi dua bagian, yaitu bagian utara dan Selatan. Dalam penelitian Ecoton juga ditemukan terkontamonasi mikroplastik.

Peneliti Ecoton yang pernah melakukan tim Ekspedisi Sungai Nusantara 2022 Amiruddin Muttaqin mengatakan, banyaknya industri dan munculnya permukiman menjadikan beban sungai semakin berat. Masyarakat masih banyak yang belum sadar bahwa sungai bukan merupakan tempat membuang sampah atau limbah.

“Ini yang menyebabkan Sungai Brantas menjadi yang paling tercemar di Indonesia, ditambah buangan limbah industri,” ucapnya.

Sungai Marmoyo dan Sungai Ngotok Ring Kanal

Begitu juga pada Sungai Marmoyo. Sungai yang melewati kabupaten Jombang dan Mojokerto. Sungai ini berhulu di Desa Marmoyo Kecamatan Kabuh Jombang. Ecoton dalam penelitiannya menemukan jumlah kelimpahan mikroplastik sebanyak  1370  partikel/m3.

Sungai yang memiliki panjang kurang lebih 37 km dengan luas daerah aliran aliran sungai sebesar 1.215 ha, bermuara ke kali Surabaya. Dalam temuan Kelompok studi Community of Aquatic Environment (CAER), mahasiswa Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Trunojoyo Madura, bahwa juga terkontaminasi mikroplastik.

Koordinator Kelompok Studi CAER, Angwildi Anggana mengatakakan bahwa kelompoknya telah melakukan penelitian di Sungai Brantas, Kali Surabaya dan Sungai Marmoyo, pada bulan januari 2021.

“Hasil penelitian menunjukkan, dalam 100L air terdapat 59-100 partikel mikroplastik. Bahkan kelimpahan mikroplastik bersaing dengan kelimpahan plankton yang ditemukan,” kata Angwildi.

Begitu juga pada Sungai Ngotok Ring Kanal. Sungai yang merupakan penopang kawasan Jombang kota, berlokasi di Kecamatan Sumobito ini. Juga banyak dipenuhi sampak menumpuk. Untuk menangani tumpukan sampak di sungai tersebut, Pemkab Jombang melalui Dinas PUPR Jombang, kerap melakukan pembersihan di sungai ini.

Tumpukan sampah plastik juga banyak dijumpai di Sungai Konto, Sungai Gunting, dan Sungai Jurangjero, yang merupakan daerah aliran sungai yang masuk wilayah Kabupaten Jombang.

Selain sampah menumpuk yang mengganggu daerah aliran sungai. Sungai di Jombang juga banyak dijumpai tercemar limbah. Seperti Sungai Konto di kawasan yang memecah Kecamatan Tembelang dan Tambak Beras. Di sungai ini kerap mengeluarkan bau tak sedap dan menampilkan perwajahan sungai cukup kotor.

Beberapa masyarakat sekitar mengeluh dengan kondisi pencemaran sungai tersebut oleh limbah pabrik gula Djombang Baru, industri ayam potong dan pabrik tahu.

Harapan Kepada Bupati Baru

Kabupaten Jombang di antara daerah yang menggelar pilkada, pada Rabu, 27 November 2024 lalu. Dalam hasil pilkada KPU telah menetapkan pasangan calon Warsubi – KH Salmanudin Yazid sebagai bupati dan wakil bupati Jombang.

Saat ini masyarakat Jombang tinggal menunggul pelaksanan berlangsungnya pelantikan pasangan calon tersebut. Dengan kepemimpinan baru Kabupaten Jombang, tentu masyarakat juga menunggu harapan baru.

Terutama dalam penanganan sampah di Kabupaten Jombang. Dalam layanan pengelolaan di kabupaten ini baru mencapai 37%, yakni pada penanganan sampah 24% dan 13% dari 530 ton sampah rumah tangga

Hal ini menjadi isu strategis dilihat dari segi lingkungan, kesehatan, ekonomi dan sosial yang memerlukan penanganan secara komprehensif dan sesuai dengan pendekatan yang terkoordinasi serta berkelanjutan.***

Writer: Redaksi

Editor: Pliplo S

Previously

Aktivis Surati Presiden Prabowo Subinto, Minta Pemerintah Batasi Produksi Plastik

Next

Pembukaan PORSENI MTs Kemenag Jombang Meriah, Ratusan Peserta Antusias

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement