Home News Kisah Pilu Jeglongan Sewu Mojoagung – Jombang
News

Kisah Pilu Jeglongan Sewu Mojoagung – Jombang

foto diambil dari google untuk ilustrasi lokasi

Tentu tak asing bagi warga Jombang jika mendengar bahasa plesetan  Jeglongan Sewu. Bahasa plesetan ini diperuntukkan bagi  kondisi jalan yang rusak sejak lama yaitu jalan sepanjang Jombang Mojoagung atau mungkin kalau diurut bisa sampai perbatasan Mojokerto.

Ada kisah viral baru-baru ini dari cerita yang diunggah teman di aplikasi Facebook bahkan sampai ke group-group Whatsapp , berbagai tanggapan yang muncul dari para netizen  atau ne.ti.zen atau Istilah lain yaitu warganet .

Cerita ini saya copas dan seizin yang bersangkutan di akun Facebook Andhi Setya Wibowo.Selepas ketemu dan berbincang dengan kawan-kawan di Mojoagung, sekitar pukul 23.30 saya pamit pulang. Waktunya berumahtangga, alasan seperti itu yang biasanya saya pakai kalau saya pamit pulang duluan.

Mojoagung Jombang jika keadaan normal bisa ditempuh dalam waktu 20 menitan. Tapi keadaan yang saya hadapi sangatlah tidak normal!

Bagi yang biasa melewati jalur Surabaya-Madiun/Kediri pasti sangatlah hafal. Jika sudah ketemu dengan jalan yang penuh lubang berarti anda sudah sampai di wilayah Jombang.  Sebenarnya ya malu, ya mangkel tapi bagaimana lagi…memang demikianlah keadaannya.

Jalan raya yang penuh lubang, lampu penerangan jalan yang sangat tidak layak dan jalan yang licin selepas hujan adalah kombinasi  yang ampuh untuk bisa mencabut nyawamu .

Dan demikianlah…saat sedang berkendara (dengan sangat hati-hati) tiba-tiba di depan saya ada pengendara sepeda motor yang terjatuh di tengah jalan, hingga berguling-guling. Dengan segera saya berhenti dan segera menolongnya. Beruntung (demikianlah kita yang selalu merasa beruntung dalam kondisi apapun..) orang-orang yang berada di sekitar tempat kejadian juga segera beranjak dan membantu menghentikan laju kendaraan-kendaraam besar yang ada di belakang sepeda motor yang jatuh.

Saya tak berani membayangkan, andai saja kondisi jalannya mulus dan kendaraan-kendaraan besar itu melaju dengan kencang…entah bagaimana  nasib masnya yang  jatuh itu. Nah, beruntung jalannya berlubang-lubang, kan..

Korban langsung diangkat ke tepi jalan, dan beruntungnya lagi (😪) kejadian itu di depan alpamaret hingga saya bisa langsung beli kapas dan alkohol sekedar untuk membersihkan luka-luka di tubuh korban. Saya harus berulangkali meminta maaf karena terlihat ia menahan perih yang sangat saat lukanya saya bersihkan.

Mulai Maghrib tadi, ini sudah kejadian yang ke empat mas di tempat yang sama. Jatuh karena lubang di jalan itu, demikian kata orang-orang yang tadi membantu mengamankan keadaan.

Bayangkan sodara-sodara…kejadian yang ke empat! Di tempat dan sebab yang sama!

“Ini tadi sampean dari Surabaya ta, Mas?”

“Dari Madura, Cak.”

Rasanya pingin nangis saya. Demi yang namanya penghematan, mase naik sepeda motor dari Madura ke Jombang. Sehabis bekerja tanpa istirahat yang cukup dia pulang ke Jombang sepeda motoran!

Setelah semua luka saya bersihkan dan saya temani ngobrol beberapa saat, mase sudah bisa menghubungi keluarganya untuk dijemput.   Saya pamit untuk pulang, setelah menitipkan mase ke orang-orang yang masih ada di sekitar lokasi.

Apalagi yang bisa kita lakukan sebagai rakyat selain saling menghibur, saling membantu, saling menguatkan?

Pingin nambal semua lubang yang ada di jalan, tapi duite sopoo?

Pingin menggugat orang-orang yang harusnya melayani dan melindungi rakyat, tapi aku iki sopooo?

Pingin misuh tiap hari tapi kadung menasehati misuh-misuhnya jangan dihabiskan sekarang…

Embuhlah…atur-aturen situ lah, wong yang penting kalian bahagia. Bahagia buat kami, kapan-kapan sajalah…

Cerita panjang nan apik ini bukanlah narasi fiksi tetapi keluhan dari seorang warga Jombang bahkan mungkin banyak warga Jombang akan buruknya dan berbahayanya kondisi jalan tersebut di atas. Tidak saja luka yang ditimbulkan bahkan mungkin nyawa bisa jadi taruhannya, maka bukan muluk-muluk atau tendensius janji politik H. Warsubi kala itu bahkan mungkin teman-teman anggota dewan saat itu jikalau minta dukungan dari masyarakat Jombang mengatakan bahwa infrastruktur jalan sangatlah penting bukan saja sebagai akses ekonomi tapi rasa kemanusiaan yang harus diutamakan.

Dilansir dari perkataan beliau saat matajombang.com menemani warga Rapahombo mengucapkan selamat atas terpilihnya beliau di kediamannya , bahwa selaku bupati terpilih akan memperhatikan dan menindaklanjuti tentang akses jalan ke dusun tersebut karena boleh dibilang dusun tersebut tidak ada akses jalan karena beliau waktu itu terjun langsung ke sana untuk memahami perasaan dan kebutuhan primer tersebut. Beliau juga menuturkan bahwa laporan yang masuk tentang kondisi jalan di Jombang kurang lebih ada 90 titik dan itu butuh dana besar sehingga beliau memperkirakaan dapat diselesaikan selama 2 tahun .  (SyS)

Previously

Perang Banner dan Medsos  Penerimaan Siswa Baru 2025

Next

2025 MUI kab. Jombang Akan lebih Membumi

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement