Home News Menanggapi Situasi dan Kondisi Negara ; MUI Kabupaten Jombang Gelar Rapat Koordinasi di Islamic Centre Masjid Agung Jombang
News

Menanggapi Situasi dan Kondisi Negara ; MUI Kabupaten Jombang Gelar Rapat Koordinasi di Islamic Centre Masjid Agung Jombang

Jombang, 1 September 2025 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jombang menggelar rapat koordinasi bersama Dewan Pimpinan dan Ketua Komisi di Islamic Centre Masjid Agung Jombang, Senin (1/9). Kegiatan ini […]

Jombang, 1 September 2025 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jombang menggelar rapat koordinasi bersama Dewan Pimpinan dan Ketua Komisi di Islamic Centre Masjid Agung Jombang, Senin (1/9). Kegiatan ini digelar untuk membahas sekaligus menyikapi situasi dan kondisi terkini yang berkembang di Indonesia, khususnya di Kabupaten Jombang.

Rapat koordinasi tersebut dipimpin langsung oleh Dr. Afifuddin Dimyati Lc, MA. Ketua Dewan Pimpinan MUI Kabupaten Jombang. Dalam forum itu, Beliau menyampaikan bahwa MUI harus hadir untuk mendapingi umat, melakukan pengawasan untuk kemaslahatan bersama dan selalu harus husnudzon seperti salah satu kisah unik yang ditemukan dalam Alquran adalah interaksi Nabi Sulaiman as. dengan semut dalam surah Annaml (27:18-19). Ayat ini mengisahkan Nabi Sulaiman, yang dianugerahi kemampuan berbicara dengan hewan, mendengar seekor semut yang memperingatkan koloninya untuk masuk ke sarang agar tidak terinjak oleh pasukan Nabi Sulaiman. Bagaimana kisah ini dipahami? Apakah benar semut dapat “berbicara” seperti manusia? Tafsir dan pandangan ulama memberikan jawaban menarik yang penuh hikmah. 

Konteks Kisah Semut dalam Alquran

Allah berfirman dalam surah Annaml ayat 18-19:

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوۡاْ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمۡلِ قَالَتۡ نَمۡلَةٞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمۡلُ ٱدۡخُلُواْ مَسَٰكِنَكُمۡ لَا يَحۡطِمَنَّكُمۡ سُلَيۡمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari” (QS An-Naml: 18)

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكٗا مِّن قَوۡلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَدۡخِلۡنِي بِرَحۡمَتِكَ فِي عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu, dan dia berdoa: ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku agar tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.’ (QS An-Naml: 19)

Kisah ini menarik perhatian ahli tafsir yang mencoba memahami, apakah dialog semut ini harus dimaknai secara harfiah, metaforis, atau simbolis.

Pelajaran dari Kisah Semut

Kisah dalam ayat di atas mengandung banyak hikmah yang relevan untuk kehidupan. Pertama, kesadaran akan bahaya dan pemimpin yang bertanggung jawab. Semut yang memimpin koloninya menunjukkan sifat kepemimpinan yang bertanggung jawab. Ia memperingatkan koloninya agar menghindari bahaya, meskipun tidak ada niat buruk dari pihak Nabi Sulaiman dan pasukannya. Ini adalah pelajaran tentang kehati-hatian dan tanggung jawab seorang pemimpin dalam melindungi rakyatnya.

Kedua, kerendahan hati Nabi Sulaiman. Meskipun beliau adalah seorang nabi dan raja yang luar biasa, Nabi Sulaiman tetap rendah hati dan bersyukur atas nikmat Allah. Ia tidak sombong atas kemampuannya, tetapi justru merenungkan kebesaran Allah dan memohon untuk tetap menjadi hamba-Nya yang saleh.

Ketiga, harmoni antara manusia dan alam. Interaksi antara Nabi Sulaiman dan semut adalah contoh bagaimana manusia seharusnya menjaga hubungan dengan alam. Dalam Islam, manusia diberi amanah sebagai khalifah di bumi, yang berarti memiliki tanggung jawab untuk melindungi semua makhluk ciptaan Allah.

Dengan mengambil contoh semut tadi Gus Awis berharap MUI kabupaten Jombang hadir sebagai penyejuk umat sekaligus mitra pemerintah dan masyarakat dalam menjaga harmoni serta memperkuat nilai-nilai kebangsaan.

Rapat koordinasi ditutup dengan Seruan Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Jombang Menyikapi Dinamika Penyampaian Aspirasi Masyarakat Dan Stabilitas Keamanan Nomor : 089/MUI/Jom/B/IX/2025 yang akan disampaikan pada pimpinan daerah kabupaten Jombang yaitu Abah Warsubi serta disosialisasikan pada MUI yang ada di kecamatan-kecamatan kabupaten Jombang.(Kws)

Previously

Ribuan Warga Desa Mojokrapak Kec. Tembelang Kab. Jombang Antusias Ikuti Jalan Sehat dan Bazar Mojokrapak

Next

Refleksi Kemerdekaan RI ke-80 di Kedai Rebung: Ruang Diskusi antar Anak Bangsa

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement