Home Artikel Menapak Jejak Kyai Wahab: Haul ke-54 dan Refleksi Kelahiran Lesbumi NU
Artikel

Menapak Jejak Kyai Wahab: Haul ke-54 dan Refleksi Kelahiran Lesbumi NU

Jombang, 11 Mei 2026- Haul ke-54 pendiri sekaligus penggerak Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Chasbullah yang digelar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang di kawasan pesantren setempat, Jumat […]

Jombang, 11 Mei 2026- Haul ke-54 pendiri sekaligus penggerak Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Chasbullah yang digelar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang di kawasan pesantren setempat, Jumat (9/5/225). Mengingatkan akan peran penting Beliau pada berdirinya Lembaga Seni Budaya Muslimin NU.

Seperti yang pernah disampaikan oleh KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) Ketua Umum PBNU bicara soal Sejarah dan keberadaan Lesbumi sebagai Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia, Ahad (05/05/2024) malam pada hajat Harlah Lesbumi yang ke-64 dan pembukaan Rakornas Lesbumi ke-6 di Pondok Pemuda Ambarbinangun Yogyakarta.

Dikisahkan dalam sejarah bahwa sebagaimana diketahui bersama awal mula Lesbumi adalah Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia bukan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia.

Bermula dari KH Wahab Hasbullah yang menggagas aktivitas kesenian yang direkrut seperti Usmar Ismail dari kalangan Sineas, lalu Asrul Sani dari seorang Aktor dan Sastrawan, lalu Djamaludin Malik yang saat itu sebagai produser film dan produsen musik baru.

Namun apa yang digagas oleh KH Wahab Hasbullah menimbulkan reaksi, sejumlah kiai NU protes. Kenapa mengajak orang-orang “ketoprak” ini ada di NU. Pasalnya sebelum ada karya film para seniman (aktor film) disebut “ketoprak”.

Atas hal itu Kiai Bisri Mustofa pun membela. Dengan argumen bahwa saat itu musik barat membanjir. Maka melalui Seni Samroh. Shalawat dan doa-doa pun dikreasi demikian seni sebagai sarana dakwah buat santri-santri terutama NU. Seni Samroh pun sebagai ‘bendungan’ bagi musik barat yang saat itu membanjir.

“Maka Lesbumi bukan bangun ortodoksi seni budaya. Tapi Lembaga ini untuk mewadahi orang-orang yang berbakat mengenai seni yakni seniman. Dan orang-orang yang menjaga tradisi, menebarkan nilai-nilai kearifan dan mengembangkannya, dalam hal ini seperti yang dilakoni salafunashalih Wali Songo yakni budayawan.” terang Gus Yahya. (SyS)

Writer: Suwasis Wakil Ketua LESBUMI PCNU Jombang

Editor: admin

Previously

Respon  Kartiyono Terkait Press Conference Pemkab. Jombang Perihal Isu Oknum TA Intervensi OPD

Next

Rapah Ombo ; Diantara Kemanusiaan dan Peradaban “Sejarah Asal Usul Rapah Ombo” (1)

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement