Home Nasional Peringatan 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer di Pare Kediri,  Soesilo Toer Tekankan Pentingnya Literasi bagi Generasi Muda
Nasional

Peringatan 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer di Pare Kediri,  Soesilo Toer Tekankan Pentingnya Literasi bagi Generasi Muda

Soesilo Toer, adik kandung sastrawan Pramoedya Ananta Toer, saat menjadi pemateri utama. (Foto : Wahyu Ua).

Soesilo Toer, adik kandung sastrawan Pramoedya Ananta Toer, saat menjadi pemateri utama. (Foto : Wahyu Ua).

Kediri, Matajombang.com – Soesilo Toer, adik kandung sastrawan Pramoedya Ananta Toer, menekankan pentingnya literasi bagi generasi muda. Hal ini ia sampaikan dalam acara peringatan 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer di Smart ILC Pare, Sabtu (1/2/2025).

Acara tersebut merupakan bagian dari “Tur Toer Tualang” yang digelar oleh Perpustakaan Pataba Blora, didirikan oleh Soesilo Toer dan Koesala Soebagyo Toer. Kegiatan ini berlangsung di 15 kota di Jawa Timur, termasuk di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

“Anak muda harus gemar membaca, kemudian menuangkannya dalam tulisan,” ujarnya.

Pramoedya Ananta Toer sendiri dikenal sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk menulis dan mengumpulkan kliping sebagai bentuk kecintaannya pada dunia literasi. 

“Pram memiliki semangat membaca dan menulis di mana pun dan kapan pun. Beliau tidak mengenal tempat untuk menulis. Jika ada kesempatan, beliau akan menulis, baik di kertas maupun di mesin ketik,” katanya. 

Dalam diskusi tersebut, Soesilo Toer juga menyampaikan prinsip hidup yang perlu dimiliki generasi muda. 

“Hidup harus berani, soal menang atau kalah itu urusan lain. Hanya orang-orang yang berani yang bisa menaklukkan dunia. Pram juga memiliki jiwa pemberani,” tegasnya. 

Setiap buku yang dibeli juga akan ditandatangani langsung oleh Soesilo Toer. (Foto : Wahyu Ua).

Ia menekankan pentingnya keberanian dalam bekerja dan berkarya. Prinsip berani berkarya ini diwarisi Soesilo Toer dari ayahnya, Mastoer. 

Menurutnya, sang ayah selalu mengajarkan bahwa hidup harus diisi dengan belajar, bekerja, dan berdoa. Prinsip ini kemudian dikembangkan oleh Soesilo Toer menjadi “hidup harus berani, belajar, dan berdoa.”

Soesilo Toer juga menyinggung mengenai pembakaran buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer yang pernah terjadi. Ia  mengecam tindakan tersebut dan menegaskan bahwa membakar buku adalah sebuah kesalahan fatal. 

“Jika ingin cerdas, maka bacalah buku, bukan membakarnya. Waktu itu, sebagian buku karya Pram dibakar oleh oknum-oknum yang tidak menyukai karyanya,” ujarnya.

Kehebatan Soesilo Toer dalam berkarya tidak lepas dari sang kakak yang dianggapnya sebagai guru sekaligus menjadi panutannya dalam berkarya. 

Hal ini dibuktikan dengan jumlah karyanya yang melebihi kakanya atau gurunya. “Murid harus melampaui gurunya dalam segi karya, dan pengetahuan. Saya menulis 100 buku, sedangkan Pram hanya 50 buku,” tandasnya. 

Selain acara diskusi, terdapat lapak buku yang dibawa oleh Perpustakaan Pataba. 

Salah satu volunter lapak buku Pataba, Iwan menjelaskan, jumlah buku dibawa dalam acara memperingati 100 tahun Pramoedya Ananta Toer yang dijadwalkan di 15 titik kota di Hawa Timur ini  ini sekitar 100 buku. 

“Kami membawa sekitar 100 an buku atau bahkan lebih, karena melihat antusiasme pembeli yang sangat ramai,” tambahnya. 

lapak buku yang dibawa oleh Perpustakaan Pataba. (Foto : Wahyu Ua).

Setiap buku yang dibeli juga akan ditandatangani langsung oleh Soesilo Toer. Kegiatan ini ditutup dengan sesi penandatanganan buku oleh Soesilo Toer, yang sekaligus menjadi penutup dari rangkaian acara diskusi 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer. 

Writer: Wahyu UA

Editor: Fio Atmaja

Previously

Warsubi-Salman Bakal Dilantik Presiden Prabowo, Sebagai Bupati dan Wakil Bupati Jombang

Next

Ribuan Alpukat Dibagikan Gratis dalam Tradisi "Andum Apokat" di Wonosalam

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement