Home Esai Moralitas yang Ditundukkan Kekuasaan
Esai

Moralitas yang Ditundukkan Kekuasaan

Jombang, 2 Juli 2025 – Abdul Karim Peneliti Senior PolisInstitute https://chat.whatsapp.com/FZkj9IbMowU8vHfnZgKrje “Apa yang kita harapkan dari studi serius atas masyarakat Barat, dengan teori-teori kompleks dan bahasa penyelidikan yang canggih, juga […]

Jombang, 2 Juli 2025 – Abdul Karim Peneliti Senior PolisInstitute https://chat.whatsapp.com/FZkj9IbMowU8vHfnZgKrje “Apa yang kita harapkan dari studi serius atas masyarakat Barat, dengan teori-teori kompleks dan bahasa penyelidikan yang canggih, juga seharusnya kita harapkan dalam studi dan perbincangan mengenai masyarakat Islam di Barat.” — Edward W. Said PolisInstitute–Ketika Deputi Menteri Luar Negeri Iran, Takht Ravanchi, berkata kepada BBC bahwa “Iran sedang berada di tengah negosiasi. Tiba-tiba Amerika dan Israel menyerang kami! Jika Anda tidak punya keberanian mengkritik Amerika, Anda harus diam!”—pernyataan itu bukan sekadar ledakan emosi diplomatik. Ia adalah kritik keras terhadap watak politik internasional yang pincang, di mana negara-negara tertentu dibiarkan menciptakan kekacauan, lalu menyebut diri sebagai pelindung tatanan.

Ravanchi sedang menampar wajah kemunafikan moral yang selama ini tersembunyi di balik mikrofon media Barat dan teori hubungan internasional yang pura-pura netral. Dalam lanskap dunia yang dikendalikan oleh negara-negara adidaya, pernyataan seperti itu segera dicap sebagai “defensif”, “provokatif”, atau bahkan “retorika radikal”. Tapi jika kita merujuk pada kerangka pemikiran John J. Mearsheimer dalam The Tragedy of Great Power Politics, justru logika realisme ofensif-lah yang menjelaskan mengapa Iran tidak bisa duduk tenang di meja diplomasi tanpa mengantisipasi serangan.

Dalam pandangan Mearsheimer, tidak ada negara besar yang sungguh-sungguh menginginkan stabilitas jangka panjang jika itu menghalangi peluang dominasi. Hegemoni bukan sekadar tujuan, tapi mekanisme bertahan hidup. Maka ketika Iran tengah menjalani proses diplomasi, bagi Amerika dan Israel—yang beroperasi di bawah logika ofensif—itulah justru saat paling tepat untuk menyerang: ketika lawan tidak memegang pedang, ketika perhatian dipalingkan, ketika perlawanan belum disiapkan. Di sinilah kita memahami bahwa kemarahan Ravanchi bukan sekadar sikap personal atau kebijakan sesaat, tapi cermin dari bagaimana kekuasaan global menolak norma yang ia sendiri gembar-gemborkan. Dalam dunia yang digambarkan Mearsheimer, tak ada tempat bagi kepercayaan murni. Setiap tangan yang diulurkan dalam perundingan bisa saja disertai rencana tikaman.

Bagi negara seperti Iran, yang telah berkali-kali merasakan intervensi, sabotase, dan embargo, kecurigaan bukan paranoia—itu adalah nalar realistis. Apa yang disebut diplomasi hanyalah jeda antara dua episode dominasi, dan perdamaian hanyalah alat lain dari penaklukan ketika perang belum menguntungkan. Namun, respons publik Barat terhadap pernyataan Ravanchi sangat berbeda. Alih-alih menanyakan siapa yang memulai serangan, media seperti BBC lebih tertarik mengulang narasi bahwa Iran adalah ancaman. Edward Said telah lama menguraikan bagaimana media Barat memperlakukan dunia Islam seperti panggung eksotis yang penuh kekerasan, tanpa sejarah, tanpa konteks. Dalam Covering Islam, Said mengungkapkan bahwa media tidak sekadar menyampaikan informasi, tapi menciptakan realitas. Islam digambarkan bukan sebagai kompleksitas historis-sosiologis, melainkan sebagai identitas tunggal yang memusuhi Barat.

Ketika Iran bersuara, suara itu otomatis dicurigai. Ketika Amerika menyerang, serangan itu dilapisi justifikasi: demi keamanan, demi demokrasi, demi dunia. Said menegaskan bahwa ketika seorang jurnalis atau pakar Barat membicarakan negara seperti Iran, hampir selalu ada asumsi tak terlihat: bahwa Barat mewakili modernitas, rasionalitas, dan kebajikan; dan bahwa dunia Islam mewakili kebalikan dari semua itu. Maka, ketika Iran mengeluhkan ketidakadilan, keluhan itu dianggap propaganda. Ketika Iran menolak intervensi, penolakan itu dipelintir sebagai ketakutan terhadap transparansi. Dalam lanskap ini, Ravanchi tak mungkin menang. Jika ia diam, maka Iran akan disebut pengecut. Jika ia bicara, maka Iran akan dituduh agresif. Jika ia berunding, maka ia sedang “dijinakkan”. Jika ia melawan, maka ia “ekstremis”.

Dunia Islam, kata Said, telah dikurung dalam kerangka tunggal: sebagai musuh, bahkan sebelum bicara. Pernyataan Ravanchi menyentil titik paling tabu dalam etika jurnalisme Barat: keberanian untuk mengkritik hegemon. Ia mengundang media untuk bertanya bukan hanya “apa yang dilakukan Iran?”, tapi juga “apa yang dilakukan Amerika?” Namun, sebagaimana dijelaskan Said, pertanyaan itu adalah hal paling sulit untuk ditanyakan di ruang media yang sudah disiapkan untuk melayani status quo.

Media bukan ruang netral, tetapi arena di mana dominasi dipoles agar tampak sah. Maka bukan hanya tindakan Amerika yang tidak dikritik, tetapi juga struktur berpikir yang melandasi sikap permisif terhadap serangan mereka. Kritik Ravanchi bukanlah anti-Barat dalam pengertian simplistik. Ia justru mendesak Barat untuk berlaku konsisten dengan nilai-nilai yang ia klaim sendiri. Bukankah negara-negara Barat selalu berkata bahwa mereka menjunjung hukum internasional, diplomasi, dan hak asasi? Tapi ketika Iran menyerukan keadilan berdasarkan prinsip-prinsip itu, suaranya dibungkam, disalahartikan, atau dipelintir menjadi “ancaman terhadap stabilitas global”. Dalam dunia yang didefinisikan oleh relasi kekuasaan, kata Mearsheimer, hanya negara yang kuat yang bisa menentukan siapa yang melanggar aturan—karena aturan sendiri adalah produk dari distribusi kekuatan. Inilah tragedi politik kekuatan: bahwa nilai-nilai menjadi fleksibel, tergantung siapa yang mengartikannya.

Ketika Ravanchi menyuruh BBC diam jika tak berani mengkritik Amerika, itu adalah tuduhan moral yang sangat tajam. Ia tidak sekadar menyalahkan jurnalis, tapi membongkar relasi diam-diam antara media dan kekuasaan. Ia menolak untuk tunduk pada nalar yang melegitimasi pelaku kekerasan dengan narasi demokrasi. Ia menolak untuk masuk dalam arena wacana yang telah disiapkan untuk menelanjangi kelemahannya, sambil melindungi kejahatan lawan. Dalam semesta yang digambarkan Said, pengetahuan itu tidak netral; ia selalu berpihak, dan sering kali berpihak kepada yang berkuasa. Mearsheimer menyatakan bahwa dalam sistem internasional, tidak ada negara yang sungguh-sungguh status quo. Semua adalah revisionis jika ada kesempatan. Maka serangan terhadap Iran di tengah negosiasi bukanlah insiden luar biasa. Itu adalah konsekuensi logis dari logika kekuasaan yang tak percaya pada koeksistensi.

Diplomasi hanyalah instrumen lain dalam permainan kekuatan. Dan media, alih-alih menjadi penyeimbang, justru sering menjadi bagian dari orkestrasi. Mereka mengalihkan perhatian, memutarbalikkan narasi, dan memperkuat posisi negara yang menyerang sambil menyalahkan yang diserang. Dalam struktur ini, Iran akan selalu menjadi subjek untuk dikoreksi, diperiksa, dan dicurigai. Sementara Amerika dan Israel tetap menjadi narator yang tak bisa disentuh, bahkan ketika mereka menyerang secara sepihak. Inilah yang disebut Said sebagai epistemic violence: bukan hanya kekerasan senjata, tapi kekerasan narasi yang menghapus keabsahan sudut pandang lain. Ketika Iran berbicara, narasinya ditanggapi bukan dengan argumen, tapi dengan tuduhan.

Ketika Iran mengeluh, keluhannya dibaca sebagai kelicikan. Ketika Iran membela diri, pembelaannya diterjemahkan sebagai ancaman. Pernyataan Ravanchi juga merupakan pengingat bahwa keadilan bukan terletak pada siapa yang paling kuat, tapi siapa yang bersedia mempertanyakan kekuatan. Dunia hari ini tak kekurangan analis, tapi sangat kekurangan keberanian. Sangat banyak yang tahu bahwa serangan terhadap Iran adalah pelanggaran terang-terangan terhadap norma diplomatik, namun terlalu sedikit yang bersuara. Kebenaran menjadi komoditas langka dalam dunia di mana opini lebih ditentukan oleh siapa yang memiliki pesawat tempur dan jaringan televisi, daripada siapa yang memegang prinsip.

Dalam pandangan Edward Said, satu-satunya cara untuk keluar dari jebakan ini adalah dengan membongkar fondasi-fondasi berpikir yang telah lama dibangun untuk memihak kekuatan tertentu. Kita harus menuntut agar dunia Islam dilihat dengan kompleksitas yang sama seperti dunia Barat. Kita harus menyadari bahwa serangan terhadap Iran bukanlah murni masalah nuklir, tapi bagian dari rangkaian panjang politik hegemoni yang tidak pernah merasa nyaman dengan negara yang tidak tunduk. Kita harus berani mengakui bahwa sistem internasional bukan hanya penuh dengan ketimpangan, tapi juga dibungkam oleh narasi yang menolak mendengarkan suara dari Timur.

Ravanchi tidak sedang meminta belas kasih. Ia sedang menuntut konsistensi. Ia tidak sedang bersembunyi di balik retorika, tetapi sedang membuka wajah sesungguhnya dari sistem internasional yang selama ini disebut “berbasis aturan”. Ia berbicara dari posisi negara yang tahu bahwa kejujuran bisa berbahaya, tetapi diam jauh lebih mematikan. Jika dunia ini ingin punya harapan untuk keadilan sejati, maka pertanyaannya bukan apakah Iran berbahaya, tetapi siapa yang telah diberikan hak untuk memutuskan siapa yang berbahaya dan siapa yang tidak. Dan lebih dari itu, mengapa kita terus percaya pada suara-suara yang tak pernah bersedia mendengar tangisan mereka yang mereka pukuli?

Daftar Pustaka Mearsheimer, John J. The Tragedy of Great Power Politics. New York: W.W. Norton & Company, 2014. Said, Edward W. Covering Islam: How the Media and the Experts Determine How We See the Rest of the World. Vintage Books Digital Edition, 2008.

22.23

Writer: Abdul Karim Peneliti Senior PolisInstitute

Editor: admin

Previously

Demi Kemanusiaan, Abah Warsubi Perjuangkan Akses Jalan Layak di Dusun Terpencil Desa Jipuh Rapah

Next

Anak Turunan Australia Campuran Indonesia Menari Tarian Jawa Lagi -RAMAI PENONTON

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement