Home News Tak Hanya Muktamar, Jombang Punya Destinasi Seni: Pelukis Pasir Jombang Buka Open Studio Sambut Tamu Muktamar NU ke-35
News

Tak Hanya Muktamar, Jombang Punya Destinasi Seni: Pelukis Pasir Jombang Buka Open Studio Sambut Tamu Muktamar NU ke-35

Jombang, 23 Agustus 2026 — Muktamar NU ke-35 tidak hanya menjadi momentum penting bagi warga Nahdliyin, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk memperkenalkan potensi seni dan budaya Jombang. Di […]

Jombang, 23 Agustus 2026 — Muktamar NU ke-35 tidak hanya menjadi momentum penting bagi warga Nahdliyin, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk memperkenalkan potensi seni dan budaya Jombang. Di tengah rangkaian kegiatan dan kedatangan tamu dari berbagai daerah, Jombang memiliki destinasi seni yang menawarkan pengalaman berbeda, yakni open studio lukisan pasir.

Kegiatan tersebut digelar oleh seorang seniman asal Jombang yang dikenal sebagai pelukis pasir sekaligus pemegang Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) lukisan pasir dengan nomor pencatatan 00757133. Hak tersebut berlaku selama 50 tahun dan menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap karya serta inovasi seni yang dikembangkannya.

Sebagai bentuk sambutan kepada para tamu Muktamar NU ke-35, pelukis pasir Jombang tersebut membuka open studio mulai 23 Agustus hingga 31 Agustus. Ruang terbuka ini memberikan kesempatan kepada masyarakat dan para pengunjung untuk menyaksikan secara langsung proses pembuatan lukisan pasir, mengenal teknik yang digunakan, serta melihat beragam karya yang dihasilkan dari media pasir.

Berbeda dengan galeri yang hanya menampilkan karya jadi, open studio menghadirkan proses kreatif sebagai bagian utama dari pengalaman pengunjung. Mereka dapat melihat bagaimana pasir dipilih, ditata, ditempelkan, dan diolah menjadi gambar dengan komposisi warna serta bentuk yang menarik. Pengunjung juga dapat berdialog langsung dengan seniman mengenai ide, teknik, dan tantangan dalam menciptakan sebuah karya.

Dalam wawancara, pelukis pasir Jombang menjelaskan bahwa seni lukisan pasir bukan sekadar aktivitas menggambar. Proses tersebut membutuhkan ketelitian, kesabaran, konsistensi, dan kepekaan artistik. Setiap butiran pasir memiliki karakter tersendiri sehingga penempatannya harus dilakukan secara cermat agar menghasilkan bentuk dan tekstur sesuai dengan konsep yang diinginkan.

“Lukisan pasir memiliki karakter yang berbeda dengan lukisan pada umumnya. Pasir bukan hanya menjadi media, tetapi juga memberikan tekstur, warna, dan kesan alami pada setiap karya,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu keunikan lukisan pasir terletak pada kemampuan seniman dalam memanfaatkan sifat alami material tersebut. Warna pasir, ukuran butiran, tingkat kehalusan, serta cara penataannya dapat memengaruhi tampilan akhir sebuah lukisan. Karena itu, proses pembuatannya tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa.

Ia menambahkan, ketertarikannya terhadap lukisan pasir berawal dari keinginan untuk mengembangkan media seni yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pasir selama ini kerap dipandang sebagai material sederhana yang digunakan dalam pembangunan atau ditemukan di lingkungan sekitar. Namun, melalui kreativitas dan pengolahan yang tepat, material tersebut dapat berubah menjadi karya bernilai estetis, edukatif, dan memiliki daya tarik tersendiri.

“Bagi saya, pasir adalah media yang sangat kaya. Dari material yang sederhana, kita bisa menciptakan karya yang memiliki nilai seni, pesan, dan identitas budaya,” katanya.

Karya-karya yang dihasilkan tidak hanya menonjolkan keindahan visual, tetapi juga dapat memuat cerita tentang lingkungan, kehidupan sosial, budaya, dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Dengan demikian, lukisan pasir menjadi media untuk menyampaikan gagasan sekaligus memperkenalkan cara pandang baru terhadap material yang selama ini dianggap biasa.

Selain aktif berkarya, pelukis pasir tersebut juga berprofesi sebagai guru Seni Budaya di MAN 3 Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Pengalaman sebagai pendidik turut memengaruhi proses kreatifnya dalam mengembangkan lukisan pasir sekaligus mengenalkan seni kepada generasi muda.

Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam menumbuhkan apresiasi terhadap seni dan budaya lokal. Pendidikan seni tidak semestinya hanya berisi teori atau pengetahuan tentang tokoh dan aliran seni. Para siswa juga perlu diberi kesempatan untuk mencoba, bereksperimen, dan menemukan potensi kreatif dari lingkungan di sekitar mereka.

Karena itu, seni lukisan pasir tidak hanya dikembangkan sebagai karya pribadi, tetapi juga menjadi media pembelajaran bagi para siswa. Melalui kegiatan praktik, siswa dapat belajar mengenai komposisi, warna, tekstur, ketekunan, serta pentingnya menjaga kebersihan dan memanfaatkan bahan yang tersedia secara bijak.

“Sebagai guru Seni Budaya, saya ingin siswa tidak hanya mengenal seni dari buku, tetapi juga mengalami langsung proses berkarya. Mereka perlu memahami bahwa lingkungan sekitar dapat menjadi sumber inspirasi,” tuturnya.

Ia berharap lukisan pasir dapat terus berkembang dan dikenal lebih luas, khususnya sebagai salah satu identitas seni Jombang. Menurutnya, daerah ini memiliki kekayaan budaya yang besar, mulai dari tradisi pesantren, kesenian lokal, kerajinan, hingga karya-karya kreatif yang lahir dari masyarakat.

Kehadiran open studio pada 23–31 Agustus dalam rangka Muktamar NU ke-35 diharapkan menjadi ruang perjumpaan antara seniman, masyarakat, dan para tamu dari berbagai daerah. Pertemuan tersebut tidak hanya memperkenalkan karya, tetapi juga membuka peluang terjadinya pertukaran gagasan dan pengalaman mengenai pengembangan seni berbasis potensi lokal.

“Jombang memiliki banyak potensi seni dan budaya. Muktamar ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan bahwa Jombang tidak hanya dikenal sebagai kota pesantren, tetapi juga memiliki seniman dan karya kreatif yang layak diapresiasi,” ujarnya.

Di open studio tersebut, pengunjung dapat melihat koleksi lukisan pasir, berdialog langsung dengan seniman, serta menyaksikan demonstrasi pembuatan karya. Suasana ini diharapkan memberikan pengalaman berbeda bagi para tamu Muktamar NU ke-35 yang berkunjung ke Jombang.

Bagi sebagian pengunjung, pengalaman tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memahami bahwa sebuah karya seni tidak lahir secara instan. Di balik lukisan yang tampak sederhana, terdapat proses panjang berupa pencarian ide, pemilihan bahan, penyusunan komposisi, hingga penyelesaian detail. Proses itu sekaligus menunjukkan bahwa seni membutuhkan ketekunan dan keberanian untuk mengolah sesuatu yang sederhana menjadi bernilai.

Dengan adanya ruang terbuka bagi masyarakat untuk mengenal proses kreatif secara langsung, lukisan pasir diharapkan tidak berhenti sebagai karya visual. Seni tersebut juga dapat menjadi sarana edukasi, promosi budaya, pengembangan kreativitas, dan penguatan identitas lokal.

Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa agenda besar seperti Muktamar NU dapat berjalan beriringan dengan upaya memperkenalkan potensi masyarakat setempat. Para tamu yang datang tidak hanya mengikuti kegiatan utama, tetapi juga dapat mengenal sisi lain Jombang melalui karya seni dan interaksi langsung dengan pelaku kreatif.

Bagi tamu Muktamar NU ke-35 yang ingin menikmati pengalaman seni yang berbeda, open studio pelukis pasir Jombang yang berlangsung mulai 23 Agustus hingga 31 Agustus dapat menjadi salah satu destinasi menarik. Di tempat ini, pengunjung tidak hanya melihat hasil karya, tetapi juga memahami cerita, proses, dan nilai yang terkandung di balik setiap lukisan pasir.

Melalui kegiatan tersebut, Jombang kembali menunjukkan bahwa identitasnya sebagai kota pesantren dapat berjalan berdampingan dengan perkembangan seni dan kreativitas. Lukisan pasir menjadi salah satu contoh bahwa potensi lokal, apabila dikembangkan dengan serius, dapat menjadi karya yang membanggakan sekaligus memperkaya wajah budaya daerah. (Ahyak Pelukis Pasir Jombang)

Previously

Ken Arok: Dari Rakyat Jelata Yang Terlahir Cerdas Istimewa Menuju Singgasana

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement