Home Kesehatan Rumah Lahir Soekarno di Ploso Jombang ?
Kesehatan

Rumah Lahir Soekarno di Ploso Jombang ?

Jombang, 19 Juni 2025 – Isi tulisan ini juga sudah diterbitkan di Radar Jombang, tetapi tidak ada salahnya jika pengetahuan dari tulisan hasil riset Binhad Nurrohmat selaku Inisiator Titik Nol Soekarno […]

Jombang, 19 Juni 2025 – Isi tulisan ini juga sudah diterbitkan di Radar Jombang, tetapi tidak ada salahnya jika pengetahuan dari tulisan hasil riset Binhad Nurrohmat selaku Inisiator Titik Nol Soekarno yang sudah dilakukan selama 6 tahun dipublikasikan lagi (repost) pada masyarakat luas / pembaca matajombang.com sebagai  pengetahuan sejarah bahkan mungkin bisa dijadikan kajian/penelitian baru atau bisa dijadikan referensi pemerintah daerah (Abah Warsubi) Bupati Jombang untuk menentukan kebijakan.

Penulis resmi riwayat Soekarno, Cindy Adams, pada Kamis, 16 Januari 1964 memasuki wilayah Ploso, Jombang. Cindy bertandang ke Ploso bersama timnya.

Cindy menemui Mbok Suwi (Bu Sosro) pengasuh Soekarno kecil di Ploso dan Mbah Joyodipo teman Soekarno kecil di Ploso. Wedana Ploso ketika itu, M Soetomo Dwidjooetomo, mendampingi Cindy saat bertemu dua warga Ploso yang menjadi saksi hidup Soekarno di Ploso. Kemudian mereka semua berfoto bersama di halaman rumah lahir Soekarno di Desa Rejoagung, Ploso, pada hari itu juga.

Sekuel foto yang menandai jejak Cindy Adams di Ploso ini telah berhasil ditemukan dan kini tersimpan menjadi arsip berharga.

Kuburan Mbok Suwi dan Mbah Joyodipo ada di Ploso. Ditemukan juga bekas rumahnya di Ploso dan sebagian kerabatnya di Ploso juga. Sedangkan Wedono Ploso Soetomo diketahui kuburannya di Pesarean Pulo Sampurno Jombang dan sebagian keturunannya.
Buku garapan Cindy Adams, berjudul “Sukarno, an Autobiography as Told to Cindy Adams” terbit perdana di sekitar November 1965.

Lalu terjemahannya berjudul “Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia” terbit perdana pada 1966. Cynthia Heller Adams yang dikenal sebagai Cindy Adams lahir di Manhattan, New York, Amerika Serikat pada 1930. Kolumnis dan wartawan North America Newspaper Alliance ini pertama bertemu Soekarno pada 1961 saat meliput kunjungan rombongan Kesenian Amerika Serikat di Istana Merdeka Jakarta. Cindy mengerjakan buku riwayat Soekarno antara 1961-1964.

Ada kejanggalan di buku riwayat Soekarno itu. Fase titik nol kehidupan Soekarno dan masa kanak-kanaknya di Ploso (1902-1907) dan fase kehidupannya di Sidoarjo (1907-1909) tak ditemukan sama sekali di buku itu. Padahal dua dokumen dari zaman Pendudukan Jepang mencatat Soekarno pertama kali bersekolah di Sekolah Desa (Desascholen/Volkschool) di Ploso Kabupaten Jombang, lalu melanjutkan ke Sekolah Ongko II di Sidoarjo.

Dari “Buku Induk ITB 1920-1930” tertulis R Soekarno lahir 6 Juni 1902 di Surabaya.
Sedangkan wilayah Ploso, Afdeling Jombang bagian dari Karesidenan Surabaya saat itu. Ditambah lagi data di “Stamboek Asal-usul” yang disusun sekitar 1926-1927 pasca Bung Karno lulus dari THS/ITB oleh ayah Soekarno, Raden Soekeni Sosrodihardjo (1873-1945), yang menyatakan Ir Soekarno lahir 6 Juni 1902.

Juga ada dokumen beselit (SK) yang menyatakan Raden Soekeni Sosrodihardjo menjadi Mantri Guru di Sekolah Ongko II di Ploso sejak 28 Desember 1901, berarti 6 bulan sebelum Soekarno lahir, orangtuanya sudah pindah dari Surabaya ke Ploso. Kesaksian Kiai Abdul Mu’thi bin Kiai Syuhada yang bertemu Raden Soekeni di Desa Kedungturi (sekarang Desa Losari) bahwa ketika Raden Soekeni pindah ke Ploso masih punya satu anak perempuan bernama Soekarmini.

Soekarno lahir di Ploso juga sesuai dengan keterangan RMP Sajid Soemodiardjo (1896-1977) yang adalah paman Soekarno dan Kepala Rumah Tangga Kepresidenan dan sekaligus Penasehat Pribadi Presiden Soekarno (1945-1950). Sang paman bercerita, yang membantu proses kelahiran Soekarno adalah Mas Kiai Surosentono dan yang menanam ari-ari Soekarno adalah Sumojani.

Lalu RMP Soemosewojo mengobati Soekarno kecil yang sakit-sakitan dan mengubah nama Koesno menjadi Soekarno.

Soekarno kecil juga mengaji di langgar angkring di Kedungturi (Losari) Ploso.
Nama-nama yang disebutkan oleh RMP Sajid Soemodiardjo itu kemudian didukung bukti dokumen foto dan juga ada keterangan kerabat dan saksi mata. Mas Kiai Surosentono kelahiran Kabuh, rumahnya di Kepanjen, Jombang, dan kuburannya di Yogyakarta. Lalu diketahui Sumojani bertempat tinggal di Lingkungan Geneng, Kelurahan Jombatan Jombang. Sedangkan rumah RMP Soemosewojo dan kuburannya ditemukan di Pojok, Wates Kediri, berdasarkan bukti foto dan keterangan kerabatnya.

Titik Nol Soekarno yang sekretariatnya di Ploso, telah lama melacak jejak Soekarno di Ploso. Dari mulai masa kelahiranya 6 Juni 1902 hingga sebelum kepindahannya ke Sidoarjo pada 23 November 1907. Foto, dokumen, kesaksian dan keterangan lisan yang terkait dengan sejarah Soekarno di Ploso berhasil dikumpulkan setelah lebih dari lima tahun pelacakan. Juga ditemukan bukti foto dan berita koran ketika Presiden Soekarno berkunjung ke Ploso pada Rabu, 24 September 1952.

Di lokasi rumah lahir Soekarno di Ploso serta lokasi sekolahnya dan tempatnya mengaji, kini telah dipasang tiang plakat informasi. Juga di lokasi tempat ayah Soekarno mengajar di Sekolah Ongko II di Ploso .

Titik Nol Soekarno pun mendorong warga Ploso membuat berbagai acara bertema Soekarno. Antara lain menggelar Kirab Titik Nol Soekarno dengan pawai besar napak tilas ke semua jejak sejarah Soekarno di Ploso. Kirab tahunan ini terselenggara sejak 2024 lalu di Ploso.

Situs-situs Soekarno di Ploso dikunjungi banyak orang, baik secara pribadi maupun rombongan. Ada yang dari Jakarta, Jawa Barat, maupun Jawa Timur. Situs-situs tersebut diliput berbagai media cetak dan elektronik serta menjadi konten berbagai platform media sosial.

 Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang pada tahun 2024 mengeluarkan surat rekomendasi Situs Rumah Lahir Soekarno di Ploso sebagai Cagar Budaya Peringkat Kabupaten. Namun Bupati Jombang, hingga saat ini belum berkenan menandatangani SK penetapan cagar budaya Situs Rumah Lahir Soekarno di Ploso. Alangkah mengenaskan nasib Situs Rumah Lahir Bapak Bangsa dan Proklamator Kemerdekaan Indonesia itu. Bulan Juni tahun ini, genap 123 tahun usia Ir Soekarno sejak dilahirkan. Sekaligus haul wafatnya yang ke-55.

Previously

The Root of Java, Soekarno, Abah Bupati

Next

Pasien Gus Dedi Bagai Pengunjung Ponari.

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement