Home Esai Guru Beban Negara? Proxy War kah ?
Esai

Guru Beban Negara? Proxy War kah ?

Jombang, 18 Agustus 2025 – Masih ingat satire Prof Salim Said: Tuhan Saja Tidak Ditakuti di Negeri Ini pada sebuah forum debat di televisi (ILC TV One) 20 Mei 2024 […]

Jombang, 18 Agustus 2025 – Masih ingat satire Prof Salim Said: Tuhan Saja Tidak Ditakuti di Negeri Ini pada sebuah forum debat di televisi (ILC TV One) 20 Mei 2024 , dimana pakar politik dan pertahanan Prof Salim Said saat ditanya mengapa Indonesia tak bisa menjadi negara maju, seperti Singapura, Korea Selatan, hingga Israel. Profesor itu dengan kocak menjawab karena orang-orang Indonesia merasa tak ada pihak yang mengancam atau menakutinya.

Korea Selatan, Taiwan, Singapura maju karena mereka ada yang ditakuti. Taiwan takut sama Cina daratan. Korea Selatan takut sama Korea Utara. Singapura takut karena dia mayoritas masyarkat Tionghoa di tengah lautan Melayu. Israel takut karena berada di tengah ‘lautan’ Arab maka dia takut dikremus. (Tapi) Indonesia, tidak ada yang ditakuti. Tuhan pun tidak ditakuti (di sini),’’ kata Salim disambut tawa terbahak dari para peserta diskusi.

Bicara dekadensi moral ini sudah jadi menjadi pembahasan sejak presiden Jokowi dengan Gerakan Nasional  Revolusi Mental (GNRM). Alih-alih penyakit ini musnah malah semakin menguat, bahkan kini presiden Jokowi sendiri masih mendapat fitnah (karena belum bisa dibuktikan) sampai sekarang tentang ijazah palsu, mobil esemka dan seterusnya. Dulu presiden Soekarno dengan isu PKInya, Gus Dur dengan isu Bulog Gate. Bahkan Gus Dur sempat marah dalam tayangan Kick Andy dengan menyebut “Bangsa ini penakut, karena tidak mau bertindak kepada yang bersalah.”

fitnah bisa menjadi salah satu bentuk atau taktik dalam perang proksi (proxy war). Perang proksi melibatkan pihak ketiga yang bertindak atas nama kekuatan yang lebih besar, seringkali tanpa keterlibatan langsung dari kekuatan tersebut. Dalam konteks ini, fitnah dapat digunakan untuk menyebarkan disinformasi, memicu konflik, atau merusak reputasi individu atau kelompok tertentu, yang pada akhirnya dapat menguntungkan pihak yang berada di balik perang proksi. 

Kini yang terbaru adalah pernyataan Sri Mulyani tentang “ Guru itu beban negara” , video tersebut fyp di tiktok dan platform media online lainnya. Tetapi setelah kita cermati di video full Kompas TV di menit 09.48 tidak ada kalimat guru itu beban negara , melainkan …o menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya nggak besar,ini juga salah satu tantangan bagi keuangan negara apakah semuanya harus keuangan negara ataukah ada partisipasi dari masyarakat…..Jadi video sambutan Sri Mulyani di ITB yang durasi hampir 20.44 bisa disimpulkan tidak ada kalimat bernada ejekan seperti video yang banyak beredar, maka dengan semakin canggihnya editing gambar dan suara ditambah kecanggihan Artificial Intelligence (AI) maka : Verifikasi Sumber,Periksa Fakta,Perhatikan Tanda-tanda Pengenalan Informasi Palsu,Kritis dan Analitis,Cek Keaslian Gambar dan Video,Hindari Penyebaran Tanpa Verifikasi,Ikuti Sumber Berita Terpercaya,Laporkan Informasi Palsu,Edukasi dan Kesadaran,dan seterusnya wajib kita lakukan untuk mendapatkan kebenarannya.

Previously

Jombang Perlu Trek Lari yang Aman, Sehat dan Merdeka dari Was-Was

Next

Jombang Jadi Saksi Lahirnya Pecatur Muda: Turnamen Catur Perdana Cup Berlangsung Meriah

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement