Home Esai Kesadaran Terbalik
Esai

Kesadaran Terbalik

Jum’at, 05 Juli 2025 “Sejarah ditulis oleh para penakluk, dan setiap kemenangan mereka menambahkan satu bab pada kitab besar penderitaan.” — Walter Benjamin PolisInstitute–Ada cara tertentu dunia menyembunyikan luka-lukanya di […]

Jum’at, 05 Juli 2025

“Sejarah ditulis oleh para penakluk, dan setiap kemenangan mereka menambahkan satu bab pada kitab besar penderitaan.” — Walter Benjamin

PolisInstitute–Ada cara tertentu dunia menyembunyikan luka-lukanya di balik narasi gemilang yang diproduksi oleh mereka yang menang. Seolah-olah kemajuan adalah takdir, dan penderitaan hanyalah harga yang lumrah. Tetapi di balik tatanan global yang tertata rapi, ada sesuatu yang terbalik: cara manusia memahami dirinya, sejarahnya, dan maknanya dalam jagat ini. Itulah yang disorot Hamid Dabashi dalam penutup reflektif tentang dua ilusi besar: Islam dan Barat. Ia tak sekadar menyebut bahwa dunia telah dibentuk oleh bayangan kekuasaan, tapi menunjukkan bagaimana kita telah lama hidup di bawah langit ideologi yang menjelma sebagai realitas. Kita tidak hanya melihat dunia melalui cermin yang bengkok; kita telah menjadi bagian dari bengkoknya cermin itu sendiri.

Dabashi tidak menawarkan definisi, melainkan menunjukkan akibat. Ia tidak menyusun teori besar, tapi menggiring kita pada kenyataan: bahwa cara dunia membaca Islam hari ini lebih merupakan produk dari sistem wacana kolonial dan kapitalisme global daripada cerminan dari realitas umat itu sendiri. Islam bukan sekadar agama, tetapi juga ruang kosong yang telah dipenuhi oleh makna-makna yang tidak lahir dari dalam, melainkan dari luar—dipaksakan lewat wacana modernitas, perang, migrasi, dan kehancuran. Demikian juga “Barat”—ia bukan tempat atau nilai, melainkan ilusi tentang universalitas yang diselubungi kekuatan militer dan finansial.

Frantz Fanon, yang menulis dari reruntuhan tubuh dan jiwa bangsa-bangsa terjajah, menunjukkan bahwa kolonialisme lebih dari sekadar pendudukan wilayah. Ia adalah mesin produksi kesadaran. Ia membuat manusia terjajah melihat dirinya sendiri bukan melalui mata mereka, tetapi melalui lensa penjajah. Maka dekolonisasi bukan hanya pengusiran pasukan asing, tetapi juga pengusiran citra asing dari dalam pikiran. Dunia Islam hari ini tidak hanya diperintah oleh kekuatan global, tapi juga oleh kekuatan simbolik yang membatasi kemungkinan berpikir bebas di luar oposisi biner: tradisi atau modernitas, syariat atau sekularisme, terbelakang atau progresif. Ini adalah tirani dualisme yang diperkuat oleh media, akademia, dan institusi yang tampak netral.

Walter Benjamin melihat bahwa sejarah bukanlah catatan kronologis, melainkan medan pertempuran makna. Ia menulis bahwa “setiap dokumen peradaban juga merupakan dokumen kebiadaban.” Kemajuan yang kita rayakan hari ini dibangun di atas tulang-tulang manusia yang tak pernah disebutkan. Dan dalam dunia yang kesadarannya telah terbalik, kekejaman bukan lagi dikecam, tetapi dimaklumi sebagai keniscayaan geopolitik. Dunia seperti ini tidak lagi punya rasa malu ketika menyebut anak-anak yang mati karena bom sebagai collateral damage. Dalam kesadaran terbalik ini, kekuatan dianggap hukum, dan kelemahan dianggap ancaman.

Louis Althusser memperlihatkan bahwa ideologi bekerja tidak dengan cara memaksa, tetapi dengan memanggil. Ia menyebut proses ini “interpelasi”—saat individu dipanggil menjadi subjek oleh sistem. Ketika seorang anak muda Muslim bangga karena lebih fasih dalam bahasa Inggris daripada bahasa ibunya, atau ketika modernitas didefinisikan sebagai kemampuan mengonsumsi, itu bukan sekadar pilihan personal. Itu adalah hasil dari proses panjang di mana dunia dijinakkan oleh institusi-institusi seperti sekolah, media, dan birokrasi yang bekerja secara halus untuk melestarikan tatanan dominan.

Dabashi mengajak kita menengok ke dalam jantung realitas: bahwa yang kita sebut identitas sering kali adalah produk trauma. Dunia Islam pascakolonial tidak hanya memikul sejarah penindasan, tetapi juga sejarah penyesuaian diri terhadap peta dunia yang telah disusun tanpa mereka. Mereka tidak dimasukkan dalam narasi dunia; mereka disisipkan. Dan penyisipan itu penuh syarat. Untuk bisa “diterima”, mereka harus menanggalkan sesuatu: bahasa, keyakinan, bentuk sosial. Maka dunia yang hari ini mengklaim multikulturalisme sebenarnya sedang memproduksi homogenitas dalam bentuk baru—homogenitas konsumsi, homogenitas ekspresi, homogenitas harapan.

Fanon memperingatkan bahwa revolusi tanpa revolusi kesadaran hanyalah pergantian penjaga. Kita bisa mengganti wajah penguasa, tapi tidak mengganti cara kita berpikir tentang kekuasaan. Maka dalam dunia yang kesadarannya telah terbalik, bahaya terbesar adalah ketika kita mengira sudah bebas hanya karena bisa memilih merek, memilih presiden, atau memilih cara berpakaian. Padahal struktur dasar kehidupan tetap sama: relasi eksploitasi yang dibungkus dengan bahasa hak dan kebebasan. Inilah dunia yang dibaca Dabashi—dunia yang kehilangan arah tapi percaya diri, dunia yang bingung tapi merasa tahu, dunia yang merayakan pluralisme tapi menciptakan keseragaman makna.

Benjamin menyebut bahwa tugas kritikus bukan meluruskan narasi sejarah, tetapi menyela arusnya. Di saat dunia bergerak terlalu cepat dalam produksi ilusi, kita butuh momen “jetztzeit”—waktu yang tak bisa dikapitalisasi, waktu yang hadir sebagai gangguan terhadap kemapanan sejarah. Dalam konteks ini, kesadaran terbalik bukan hanya gangguan epistemik, tetapi gangguan ontologis. Ia menyentuh inti dari keberadaan manusia modern: hidup bukan sebagai subjek yang sadar, tetapi sebagai objek dari sistem yang lebih besar, lebih lihai, lebih tak terlihat. Kita tidak lagi tahu apakah kita hidup, atau hanya hidup dalam algoritma.

Althusser mengingatkan bahwa ideologi adalah representasi dari hubungan imajiner terhadap kondisi nyata. Dan inilah yang terjadi ketika umat Islam hari ini memandang dunia mereka melalui peta yang disusun oleh bekas penjajah dan arsitek kekuasaan global. Peta itu tidak menunjukkan jalan keluar. Ia menunjukkan jalan buntu yang digambarkan seolah-olah sebagai jalan bebas hambatan. Maka umat Islam hari ini sering kali terjebak dalam permainan citra: antara meniru atau memberontak, antara menjadi seperti Barat atau melawannya secara simbolik. Pilihan itu palsu. Keduanya tetap berada dalam medan yang telah ditentukan oleh yang lain.

Dabashi tidak menawarkan kepastian. Ia menawarkan ketidaknyamanan. Sebab hanya dalam ketidaknyamanan kesadaran bisa digugah. Dunia yang mapan tidak butuh pikiran; ia hanya butuh repetisi. Dunia yang guncang membutuhkan pemikiran baru. Dan dalam ketegangan antara ilusi dan kenyataan, tugas kita bukan menambal yang bocor, tapi mengganti seluruh wadah berpikir. Maka kesadaran yang benar bukanlah kesadaran yang tahu. Ia adalah kesadaran yang terus bertanya, terus menyela, terus menolak untuk tenang dalam kenyamanan yang disediakan oleh sistem.

Fanon berkata bahwa kolonialisme membunuh dua kali: pertama fisik, kedua melalui pelupaan. Benjamin menambahkan bahwa sejarah sejati adalah sejarah mereka yang belum selesai dikuburkan. Dan Althusser memberi kita alat untuk membaca bagaimana dunia ini menyembunyikan kehancurannya dalam bahasa keindahan. Maka yang kita perlukan bukan utopia, tapi kehendak untuk menggali reruntuhan, menemukan kembali makna, dan menyusun ulang peta hidup yang selama ini ditulis oleh tangan-tangan tak terlihat.

Dalam dunia yang kesadarannya telah terbalik, perjuangan terbesar bukan melawan musuh di luar, tapi membongkar struktur batin yang telah kita anggap sebagai diri. Dan mungkin, seperti kata Benjamin, hanya dalam kesadaran akan reruntuhanlah kita bisa melihat secercah cahaya yang tak dikuasai oleh para pemenang.

Daftar Pustaka:

Althusser, Louis. Lenin and Philosophy and Other Essays. New York: Monthly Review Press, 2001.

Benjamin, Walter. Illuminations: Essays and Reflections. Edited by Hannah Arendt. New York: Mariner Books, 2019.

Dabashi, Hamid. The End of Two Illusions: Islam After the West. Berkeley: University of California Press, 2022.

Fanon, Frantz. The Wretched of the Earth. Translated by Richard Philcox. New York: Grove Press, 1965.

Previously

Anak Turunan Australia Campuran Indonesia Menari Tarian Jawa Lagi -RAMAI PENONTON

Next

Layanan Terapi Gratis Hadir Lagi di Mojokrapak, Kesempatan Emas untuk Warga Jombang,

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement