Saat Bertemu Direktur Eksekutif UNEP, Nina Ungkap Kekecewaan: INC 5 Tak Sesuai Harapan
Busan – Koordinator River Warrior Indonesia Aeshnina Azzahra Aqilani mengungkapkan rasa kecewanya terhadap acara yang digelar intergovernmental negotiating committee 5 (INC 5) di Busan Korea Selatan. ‘ Nina, panggilannya, kecewa […]
Busan – Koordinator River Warrior Indonesia Aeshnina Azzahra Aqilani mengungkapkan rasa kecewanya terhadap acara yang digelar intergovernmental negotiating committee 5 (INC 5) di Busan Korea Selatan. ‘
Nina, panggilannya, kecewa karena acara yang yang sedianya untuk perjanjian guna mengatasi polusi plastik berjalan tidak sesuai harapan. Menurut Nina, hal ini karena sikap delagasi dari negara-negara peserta INC 5 terbelah menjadi dua kelompok.
“Negosiasi berjalan tidak sesuai yang kami harapkan, delegasi negara-negara produsen petrokimia dan kimia, seperti Arab Saudi dan Rusia, berusaha mencegah perjanjian yang kuat untuk pembatasan produksi dan pengaturan bahan kimia tertentu dalam plastik” ungkap Nina di Busan Korea Selatan, Ahad, 1 Desember 2024.
INC 5 yang diselenggarakan mulai 25 November – 1 Desember 2024 tersebut. Kata Nina, ini karena negara-negara penghasil minyak menolak pembatasan penggunaan produk plastik, karena mereka menganggap bisa mengganggu kepentingan ekonomi mereka.
“Pembatasan produksi plastik dinilai bisa mengganggu produksi minyak dan gas karena bahan baku plastik terutama dari bahan bakar fosil” ucap Nina
Negara-negara produsen plastik banyak melakukan intervensi pada sektor hilir. Semisal dengan pengelolaan sampah dan daur ulang untuk mengatasi polusi plastik.
“Padahal daur ulang adalah solusi yang menimbulkan masalah baru berupa pencemaran beracun, selain itu di Eropa banyak industri daur ulang yang kolaps karena mahalnya biaya produksi dan produk daur ulang yang tidak diminati pasar,” jelas Nina.
Mulai dari INC- 1 – INC-5, seperti negara Arab Saudi dan negara-negara lain penghasil minyak dan gas berupaya mencegah perjanjian ini, agar tidak membatasi produksi plastik.
Padahal, menurut Nina, produksi plastik lebih tinggi berarti juga emisi gas rumah kaca yang lebih tinggi. Selain itu dampaknya yang sudah diketahui terhadap pencemaran lingkungan dan kesehatan manusia.
“Delegasi Indonesia juga sepertinya lebih condong pada kemauan negara produsen minyak karena usulan delegasi Indonesia tidak menunjukkan upaya untuk mengurangi produksi minyak,” ujar Nina
Sikap mereka kontras dengan negara-negara Afrika, Kepulauan Pasifik, dan Amerika Latin, yang menurut Nina, sangat terdampak oleh polusi dan melakukan advokasi tindakan tegas. Termasuk dengan membatasi produksi plastik dan penggunaan bahan kimia berbahaya.

”We need strong trearty!, ”
Kekecewaan Nina ini terungkap, di sela jamuan makan malam pada Kamis (28/11/2024) pukul 19.00 waktu Korea Selatan di ruang 121, BEXCO Exhibition II, Busan Korea Selatan, tempat berlangsungnya INC 5.
Ia bertemu dengan Direktur Eksekutif the United Nations Environment Programme (UNEP) Inger Andersen.
Dalam pertemuan itu, Nina meminta kepada Inger Anderson agar perjanjian global untuk mengatasi polusi plastik global, seharusnya mengakomodasi suara anak dari dampak polusi yang saat ini mengancam anak muda di seluruh dunia.
Nina menunjukkan replika bayi-bayi yang terkontaminasi mikroplastik dalam toples, sebagai bukti bahwa dampak pencemaran mikroplastik itu benar terjadi.
Di sela obrolan, Nina mengajak foto bersama. Ia pun membawa bayi dalam toples. Tapi yang terjadi, sikap Inger Andersen tak mengenakkan Nina, karena Inger serta merta menjauh sambil berkata “it is too much! (ini berlebihan)”.
Merasa disepelekan, Nina meyakinkan kepada perempuan kelahiran Jerup, Denmark itu, bahwa dampak buruk plastik sudah menggejala di Indonesia.
Nina pun menunjukan kondisi industri daur ulang kertas yang menggunakan bahan baku kertas impor dari negara Maju. seperti Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Belanda, Kanada dan Australia,
”Daur ulang sampah Impor di Indonesia mencemari lingkungan” kata NIna
Namun tiba-tiba Inger merespon, sambil mengatakan bahwa fakta yang Nina ungkap harus disampaikan kepada pemerintah Indonesia, negara tempat tinggal Nina.
“ ini (fakta) harus ditunjukkan pada negaramu, Saya tahu fakta-fakta yang menakutkan (tentang daur ulang) di negaramu (Indonesia), ” ujar Inger kemudian.
Bernada tegas Nina menimpali dengan meminta kepada Inger Andersen untuk mewujudkan strong treaty dengan melindungi lingkungan dan manusia dari ancaman mikroplastik.
”We need strong trearty!, ” ungkap Nina. Mendengar ungkapan Nina, Inger pun mengiyakan.***
Writer: Rilis
Editor: Pliplo S







