Home Esai Ironi Jawa dan Kejayaan Thailand (1); Jawa: Si Jenius yang Lupa Caranya Sendiri
Esai

Ironi Jawa dan Kejayaan Thailand (1); Jawa: Si Jenius yang Lupa Caranya Sendiri

Jombang, 1 Juni 2025 Mendapat kiriman dari temanku Zainuri Seniman dan budayawan Surabaya, katanya ini copas dari FB, tapi bagiku menarik untuk dipublish jika bersinggungan dengan isu kekinian untuk refleksi […]

Jombang, 1 Juni 2025

Mendapat kiriman dari temanku Zainuri Seniman dan budayawan Surabaya, katanya ini copas dari FB, tapi bagiku menarik untuk dipublish jika bersinggungan dengan isu kekinian untuk refleksi dari kerangka berpikir kita. Dari paparan yang panjang editor matajombang.com mencoba membaginya menjadi beberapa bagian agar mudah dipahami , dinikmati serta dijadikan refleksi. Berikut hasil copas tersebut :

_GWS, 27 Mei 2025_Coba, bayangkan sebentar: Anda seorang petani padi di Klaten yang tengah menatap sawah yang kekeringan di musim hujan. Sementara di kejauhan, berita televisi melaporkan bagaimana Thailand kembali meraih predikat eksportir beras terbesar dunia. Anda mungkin bertanya-tanya dengan nada setengah kesal: “Kok bisa, ya, negeri yang dulunya belajar dari nenek moyang kita malah sekarang jadi ‘guru’ kita?” Seperti pepatah Jawa bilang, _”Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”_—tapi bagaimana jika yang mati adalah visi, sementara namanya justru dipakai orang lain untuk berjaya?

*Jawa: Si Jenius yang Lupa Caranya Sendiri*

Pada abad ke-19, Pulau Jawa bukanlah sekadar “zamrud khatulistiwa” dalam lirik lagu nostalgia. Ia adalah laboratorium pertanian paling canggih di Asia Tenggara—semacam Silicon Valley-nya agrikultur tropis. Sistem irigasi subak yang rumit, teknologi padi terasering yang efisien, hingga jaringan distribusi komoditas yang mencapai pasar global: semua itu lahir dari kepala dan tangan orang Jawa. Bahkan di bawah cengkeraman cultuurstelsel Belanda yang kejam, Jawa tetap melahirkan konglomerat gula dunia seperti Oei Tiong Ham—seorang totok yang paham betul bahwa keunggulan bukan soal darah, melainkan soal otak dan kerja keras.

Jawa kala itu seperti seorang dosen senior yang dikagumi mahasiswa dari berbagai negara. Para raja tetangga datang berkunjung bukan untuk sightseeing, melainkan untuk benchmarking. Mereka tidak cuma membawa oleh-oleh keris atau batik, tapi yang lebih penting: blueprint sistem pertanian yang terbukti mampu menghidupi jutaan manusia sekaligus menghasilkan surplus untuk ekspor.

Ironisnya, seperti dosen senior yang terlalu asyik dengan penelitiannya hingga lupa mengajar, Jawa perlahan kehilangan kemampuannya sendiri. Kita sibuk menggali dan menjual bahan mentah—beras menjadi gabah, gula menjadi tebu—sementara nilai tambahnya dinikmati oleh pedagang dan pengolah di negeri lain. Kita menjadi ahli membuat kue, tapi keahlian itu kita jual dalam bentuk tepung.

Writer: Halim HD (lahir 25 Juni 1951) yang memiliki nama asli Liem Goan Lay

Editor: admin

Previously

PCNU Jombang Siap menyelenggarakan MUSDA dalam rangka Pembentukan Kepengurusan JATMAN Jombang 2025-2029

Next

Romantisme K-U-H Dalam Menghadapi Era Medsos.

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement