Manusia Merupakan Hama Bagi Bumi
Kita sering menganggap tikus sebagai hama bagi kehidupan kita, namun bagaimana jika posisi itu di balik, manusia yang menjadi hama bagi bumi. Pada abad ke 21 ini kita telah menjadi […]
Kita sering menganggap tikus sebagai hama bagi kehidupan kita, namun bagaimana jika posisi itu di balik, manusia yang menjadi hama bagi bumi. Pada abad ke 21 ini kita telah menjadi hama yang sesungguhnya karena aktivitas yang kita lakukan; seperti eksploitasi dan perusakan alam. Namun, apakah kita pernah menyadari hal tersebut? Tentu saja tidak. Kita melakukan eksploitasi dan perusakan alam dengan dalih kebaikan bersama dan pertumbuhan ekonomi. Kita tidak pernah bertanya pada diri kita sendiri tentang alasan yang sebenarnya kita pakai apakah itu valid atau tidak. Termasuk menyebutkan alasan demi kebaikan bersama ini sebenarnya untuk siapa? untuk kita atau untuk seluruh makhluk hidup.
Dengan kejujuran dan refleksi diri tentu mudah bagi kita untuk menjawab; tentu untuk kita. Pembabatan dan pembakaran hutan, pengalihfungsian hutan, rawa, serta sawah menjadi perumahan dan lahan industri. Semua ini kita lakukan untuk kepentingan dan ketamakan manusia. Kita tak pernah memikirkan hak hidup alam. Kita selalu memosisikan mereka sebagai objek. Hal yang demikian itu membuat kita selalu merasa berhak untuk mengeksploitasi mereka tanpa pernah berpikir bahwa alam juga mempunyai otonomi diri dan hak untuk hidup yang tidak bisa seenaknya kita ambil alih dan harus kita hormati. Ketika kita telah melanggar otonominya, alam selalu memiliki mekanisme untuk mempertahankan dirinya dengan cara memberi peringatan akan terjadinya bencana.

Bencana alam bukan semata-mata terjadi tanpa sebuah sebab. Ia terjadi sebagai akibat dari aktivitas manusia dan sebagai cara alam untuk mengingatkan manusia; seberapa berkuasanya manusia ia tetap harus menghormati alam, karena manusia akan tetap hidup dan bergantung dengan alam. Tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan salah satu contoh dari bencana alam yang diakibatkan manusia.
Bencana tanah longsor dan karhutla ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor alam dan manusia. Faktor alam yang dimaksud yaitu kurangnya kepadatan tanah serta curah hujan yang tinggi sehingga mengakibatkan tanah longsor. Sedangkan dalam kasus karhutla, terjadi karena teriknya sinar matahari yang membakar daun-daun kering. Faktor berikutnya, disebabkan oleh manusia. Terjadinya longsor diantaranya disebabkan oleh penggundulan hutan, pemotongan tebing, dan pengalihfungsian lahan sebagai tempat usaha. Tak jauh berbeda dengan tanah longsor, bencana karhutla terjadi akibat dari pembakaran hutan atau lahan yang dialihfungsikan untuk menjadi kawasan industri.
Bencana tanah longsor dan karhutla menimbulkan kerugian materiel dan imateriel. Dampak material yang bisa kita rasakan dari tanah longsor antara lain rusaknya kendaraan dan bangunan tertimbun, sedangkan dampak dari karhutla yaitu rusak dan hilangnya habitat hewan maupun tumbuhan, polusi udara, dan hilangnya mata pencaharian masyarakat. Selain itu terdapat dampak imateriel yang kita alami hilangnya pohon-pohon masyarakat adat yang digunakan untuk ritual, hilangnya mata pencaharian masyarakat, dan hilangnya kenikmatan batin dari para pendaki dan orang-orang yang berpetualang di hutan, bahkan ada yang sampai kehilangan nyawa.
Fenomena bencana alam harus bisa kita cegah. Pencegahan harus kita mulai dari paradigma berpikir kita dalam memosisikan alam itu sendiri. kita harus memposisikan mereka sebagai subjek yang harus kita pertimbangkan hak dan suaranya. Dengan begitu kita tidak lagi menganggap mereka sebagai objek yang tidak memiliki suara dan memiliki hak untuk hidup, sehingga kita dapat mempertimbangkan hak hidup mereka dalam setiap pembangunan dan ekstraksi industri yang kita lakukan dengan melakukan analisis dampak lingkungan dan melakukan ekstraksi alam dengan secukupnya sesuai yang kita butuhkan bukan inginkan. Kita dapat menjaga kelestarian alam kita dan dapat mencegah bencana alam yang disebabkan oleh manusia. (Bilytha)
Writer: Bilytha .penulis muda Mojokrapak
Editor: admin







