Narasi dan Jalan Baru Seorang Warsubi Sebagai Bupati Jombang
Pliplo S*) DITETAPKANNYA Warsubi sebagai Bupati Jombang oleh KPU merupakan jalan baru seorang Warsubi sebagai bupati. Setelah sekian tahun ia menekuni sebagai pengusaha. Tak segampang yang bisa dibayangkan, ketika ia […]
Pliplo S*)
DITETAPKANNYA Warsubi sebagai Bupati Jombang oleh KPU merupakan jalan baru seorang Warsubi sebagai bupati. Setelah sekian tahun ia menekuni sebagai pengusaha. Tak segampang yang bisa dibayangkan, ketika ia memulai menjadi pengusaha. Warsubi selalu berhadapan dengan kenyataan pahit. Dan itu pasti!
Namun semua itu ia jalani dengan suka duka. Toh, akhirnya ia melampui puncaknya sebagai manusia dalam menempuh sebuah karir maupun prestasi.
Warsubi yang semula hanya beberapa gelintir masyarakat Jombang mengenalnya, saat sebagai pengusaha. Kini seluruh masyarakat Jombang, mengenal dan tahu Warsubi. Bahkan masyarakat luar Jombang, hingga dalam masa lima tahun mendatang. Kalau ditanya siapa bupati Jombang? Jawabannya, Warsubi.
Warsubi bukan fenomena sebenarnya dalam kemenangannya mengalahkan petahana Mundjidah Wahab dalam Pilbup Jombang. Tetapi sebuah alternatif atau jalan lain masyarakat Jombang untuk memilihnya sebagai bupati periode 2025-2030.
Ini terlihat saat kampanye berlangsung dalam proses Pilkada Jombang 2024. Para pendukung Warsubi, yang berpasangan dengan KH Salmanudin Yazid sebagai wakil bupati. Kerap menyerukan, “pokoke ganti bupati”.
Narasi itu muncul dengan sendirinya dari pendukung Warsubi, bukan ide besar dari tim pemenangan atau alih-alih dari koalisi partai politik yang mengusung Warsubi-KH Salmanudin Yazid.
Tetapi narasi itu sebentuk cerita sederhana dan mampu merangkum kompleksitas persoalan di Kabupaten Jombang. Karena di saat “pokoke ganti bupati” menggema dalam seruan pendukung, ia adalah lem yang merekatkan barang yang pecah dan sekaligus palu untuk memecahkan benda yang terikat kuat.
Saat itu Warsubi memang telah membentuk lem yang merekatkan masyarakat Jombang dari banyak persoalan yang dihadapi. Bukan hanya kemiskinan, pengangguran, ancaman stunting, bencana. Juga infrastruktur jalan yang kerap terdengar dikeluhkan masyarakat.
Namun lagi, persoalan itu hanyalah persoalan klasik yang banyak terjadi di beberapa tempat, bahkan hingga ganti kepemimpinan pemerintahan sekalipun. Kalau boleh dibilang, kemiskinan dan pengangguran merupakan warna dalam sebuah pemerintahan. Tak bakal terjadi, semampu apapun kemiskinan dan pengangguran dapat dituntaskan oleh sebuah rezim kekuasaan.
Dalam kepemimpinan Warsubi di Jombang, selagi palu untuk memecahkan benda yang terikat kuat, bisa diayunkan, dan memecahkan benda terikat tersebut. Akan mengubah narasi “pokoke ganti bupati. “. Entah dalam pecahannya menggunakan diksi ”alih” atau “tukar” di antara kata “pokoke” dan “bupati”. Ini tentu belum bisa dianalisa atau prediksi pun.
Sebab narasi itu masih dalam pengendalian. Warsubi baru saja ditetapkan oleh KPU sebagai bupati Jombang. Ia belum bekerja menjalankan rencana pembangunan jangka panjang Kabupaten Jombang, yang boleh jadi tak se-visi dengan program yang ia cetuskan.
Apalagi narasi itu masih bekerja pada tingkat perilaku kolektif masyarakat Jombang. Ia masih membentuk serta mengekspresikan perspektif dan persepsi dalam masyarakat, agar mudah cara memahaminya dan memberikan makna ketika sudah terbentuk menjadi narasi.
Bak Virus
Diakui atau ditolak, narasi itu bak virus. Ia memiliki daya tular cukup dahsyat. Melalui ekspresi, mimpi dan melamun, digerakkan oleh narasi. Begitu pula cita-cita, harapan, keinginan, putus asa. Bahkan janji seorang Warsubi kepada masyarakat Jombang, yang diucapkan saat kampanye. Juga akan dituntun oleh narasi hingga pada keputusan dan implementasi.
Karena di titik itu, narasi berperan sangat dominan dalam wacana politik Jombang. Ia mendapatkan posisi sentral dalam perumusan dan pemeliharaan pandangan. Tentu berposisi sebagai sarana yang cukup efektif. Terutama penyederhanaan situasi kompleks dalam sebuah rentetan peristiwa yang terjadi di masyarakat Jombang,
Narasi dengan cepat menjadi sesuatu yang dikenal oleh masyarakat Jombang, bahkan cukup popular. Tak beda dengan daya pikat mirip sinetron Mahabarata di televesi swasta, cerita tentang kejahatan melawan kebaikan yang banyak digemari masyarakat desa. Narasi akan bisa memikat tampak jauh lebih kuat dampaknya, ketimbang paradigma atau “penjelasan logis dan ilmiah” sekalipun.
Mungkin kalau boleh berpendapat, terjadinya dinamika politik tak melulu disebabkan hal-hal elementer oleh sebuah keputusan objektif dan rasional. Namun juga oleh sentimen dan emosi yang dibawa oleh narasi. Ia biasanya menjelajah dalam rentang waktu yang tepat dan pasti.
Peran Pers
Narasi bekerja selayaknya pandemik yang mengancam setiap nyawa manusia. Media online yang menjamur di Jombang adalah tumpangannya. Meski kadang media itu punya keterbatasan dalam mengawasi kebijakan yang dibuat Bupati Warsubi. Salah satu keterbatasan pengawasan media adalah pelemahan, yaitu dengan dibentuknya pokja-pokja media di dinas dan instansi terkait.
Dalam konteks ini pers kehilangan kekritasannya. Alasannya mudah ditebak, sudah berkolaborasi dengan Pemkab Jombang. Sajian berita sekadar rilis atau tersaji dalam bingkai (frame) pemberitaan terkait kebijakan yang dibuat. Padahal jika dilihat dari fungsi pers adalah “”watchdog” atau ”anjing penjaga” yang setia ”menggonggongi” kekuasaan.
Namun dalam perkembangan konteks dunia digital, ketika media sudah tak lagi berfungsi. Narasi menemukan tempat yang tepat dalam penularannya. Penyebarannya sangat esensial, terutama dalam konteks mobilisasi politik. Bagaimana ketika narasi telah bersemayam di kepala “seseorang”, entah pendukung maupun bukan pendukung Warsubi. Bisa jadi juga akan menular ke partai politik koalisi pendukung.
Karena pengguna digital adalah pengguna media sosial dengan jejaring cukup sulit untuk dipahami secara populisme. Ia tampil dalam sebuah gaya politik dengan mamainkan tranformasi kerumunan. Terlebih jika sudah terjadi memainkan sentiment atau emosi politik; ia bergerak dalam satu skema yang kompak: penegasan (affirmation), pengulangan (repetition), dan penularan (contagion).
Hal ini akan tampak benar sekali terasa, jika Bupati Warsubi dalam pemerintahannya dikelilingi kinerja buruk. Para pejabatnya mengandalkan ilusi kegemaran; jual beli jabatan, pelayanan birokrasi yang rumit, mark up anggaran, atau bahkan menggunakan anggaran fiktif. Demikian ini yang Warsubi rasakan tak lagi pahit, seperti saat merintis sebagai pengusaha. Tetapi ia sebagai bupati akan dihadapkan pada “kuasa” dan “pirsa”.***
*) penulis penikmat Jombang
Artikel ini tiga kali melalui proses editing dan sebagai referensi dan inspirasi dari artikel; 1) Berita Jatim “Sah! KPU Jombang Tetapkan Warsubi-Salman Sebagai Bupati-Wabup Terpilih“, 2) Nezar Patria “Narasi dan Politik Kerumunan”, 3) Kompas “Menggaungkan Kolaborasi Media dan Warga Menjadi ”Anjing Penjaga”







