Pentingnya Membangun Kolaborasi Media dan Masyarakat Sipil di Jombang
Oleh: Pliplo S*) DI TENGAH maraknya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim, media di Jombang sepatutnya berperan sebagai ruang diskusi berbagai pihak. Peran ini dapat diwujudkan melalui pemberitaan yang mengangkat suara […]
Oleh: Pliplo S*)
DI TENGAH maraknya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim, media di Jombang sepatutnya berperan sebagai ruang diskusi berbagai pihak. Peran ini dapat diwujudkan melalui pemberitaan yang mengangkat suara publik secara luas, seperti organisasi masyarakat sipil (OMS), akademisi, dan kelompok rentan—bukan cuma dari pihak pemerintah atau politisi.
Dengan menjamurnya media online di Kabupaten Jombang, mustinya mampu memberi ruang soal isu-isu lingkungan, di mana Jombang sendiri merupakan daerah yang juga mengalami kerusakan lingkungan cukup masif.
Data yang terkumpul melalui media daring dari rangkaian pemberitaan soal isu-isu lingkungan di Jombang, yang paling sering diberitakan pencemaran sungai. Itupun dalam pemberitaan masih belum optimal.
Media di Jombang belum berperan menjadi alat kesadaran dan penggerak keterlibatan publik, sekaligus pendorong kebijakan pro-lingkungan. Sajian beritanya masih berupa seputar rilis yang dibuat lembaga NGO kemudian dikonfirmasikan ke pejabat Pemkab Jombang dalam hal ini Dinas Lingkungan Jombang.
Sajian berita sama sekali minim keberlanjutan pemberitaan dengan melakukan investigasi maupun observasi penyebab pencemaran lingkungan. Sekadar memunculkan narasi informasi (straight news) bukan data berita (indept news), yang arahnya bisa memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya peduli lingkungan.
Belum lagi soal kerusakan hutan di wilayah Jombang. Media di Jombang belum ada yang terfokus dalam pemberitaan soal deforestasi, yang tiap tahun marak terjadi. Dari pengalihan fungsi hutan hingga kebakaran hutan di wilayah Perum Perhutani KPH Jombang dan Dinas Kehutanan Jombang.
Banjir Tiap Tahun
Terjadinya banjir yang tiap tahun melanda Kabupaten Jombang, misalnya. Tak bisa dimungkiri penyebabnya adalah sungai dan hutan, yang saling bersinggungan dalam ekosistem lingkungan, belum banyak dipahami oleh masyarakat Jombang.
Sebab media kurang memberi pemahaman kepada masyarakat, tentang fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS) dan hutan bagi masyarakat Jombang. Masyarakat masih banyak terlibat pembuangan sampah di sungai, pencemaran limbah ke sungai, juga perambahan hutan.
Pada isu lain, kegiatan pengeboran iodium di wilayah Desa Jombok Kesamben Jombang. Masyarakat juga banyak tidak tahu dan bahkan cenderung apatis dengan kegiatan yang dilakukan PT Kimia Farma Plant Watudakon Jombang sejak tahun 1926.
Akibat dari kegiatan pengeboran yang dilakukan PT Kimia Farma Plant Watudakon Jombang tersebut, kini menyisakan kerusakan lingkungan di desa yang memiliki empat dusun, yaitu Dusun Beluk, Dusun Plosorejo, Dusun Segunung, dan Dusun Jombok.
Belum lagi warga di desa tersebut, masih dalam ancaman perusakan lingkungan yang diakibatkan, kegiatan eksploitasi dan eksplorasi oleh PT Lapindo Brantas, sejak tahun 2018.
Begitupun yang terjadi, soal Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) belum banyak sebagai pengetahuan masyarakat di Jombang.
Berita Pilkada 2024
Baru saja di Kabupaten Jombang menggelar Pilkada serentak 2024. Ada dua pasangan calon yang bersaing untuk memperebutkan 1.012.800 suara sebagai bupati Jombang.
Nomor urut 01 Munjidah Wahab-Sumrambah dan nomor urut 02 Warsubi-Salmanudin Yazid. Masing-masing pasangan calon tersebut didukung koalisi partai-politik, baik yang memiliki kursi di DPRD Jombang maupun non-parlemen.
Selama proses pilkada berlangsung, dua pasangan calon tersebut minim akan isu lingkungan. Bahkan tidak pernah menyinggung isu lingkungan hingga pilkada dimenangkan pasangan calon nomor urut 02 Warsubi-Salmanudin Yazid.
Seperti rilis yang dibuat Sanggar Hijau, tak ada satupun media Jombang yang merespon, sebagai tindak lanjut pemberitaan isu lingkungan di musim pilkada. Padahal studi yang dilakukan The Conversation, bahwa OMS dapat secara aktif berkolaborasi dengan media melalui dukungan data dan laporan sesuai kebutuhan pemberitaan soal isu lingkungan.
Melihat kenyataan ini, media di Jombang perlu menjangkau OMS guna memantau risiko dan dampak lingkungan dari berbagai program pemerintahan baru di Kabupaten Jombang. Setidaknya dalam hal ini mencermati program pemenang pilkada Jombang, yaitu Warsubi-Salmanudin Yazid yang disampaikan selama kampanye terkait isu lingkungan. ***
*) Penulis adalah penikmat Jombang







