Home Esai *Membaca adalah Tindakan Berani*
Esai

*Membaca adalah Tindakan Berani*

Jombang , 27 juli 2025 – > “To pass from understanding less to understanding more by your own intellectual effort in reading is something like pulling yourself up by your […]

Jombang , 27 juli 2025 –

> “To pass from understanding less to understanding more by your own intellectual effort in reading is something like pulling yourself up by your bootstraps.”

— Mortimer J. Adler

Membaca bukan sekadar menggeser mata ke kiri dan kanan mengikuti deretan huruf-huruf di atas kertas. Membaca yang sejati adalah perjumpaan eksistensial — ruang di mana keberanian menjadi prasyarat, bukan hasil akhir. Membaca adalah tindakan berani, karena dengannya kita menolak warisan bisu dari kebodohan, menggugat dunia yang diwariskan, dan memilih untuk melihat, berpikir, serta merasa dengan mata dan hati sendiri. Dalam dunia yang semakin padat dengan suara, namun hampa makna, membaca menjadi tindakan sunyi yang mengguncang akar-akar ketundukan kolektif.

Keberanian dalam membaca bukan terutama karena bahan bacaan itu sulit atau asing, melainkan karena membaca memaksa kita untuk melihat bahwa pikiran sendiri tidak selalu cukup, bahwa dunia tidak seramah yang diajarkan, dan bahwa kebenaran menuntut proses berpikir yang menyakitkan. Seperti ditegaskan oleh Mortimer J. Adler dan Charles Van Doren dalam How to Read a Book, membaca dengan sungguh-sungguh adalah pekerjaan intelektual aktif yang bertujuan meningkatkan pemahaman. Mereka membedakan antara membaca untuk informasi dan membaca untuk pengertian — dan keberanian dibutuhkan justru ketika kita berada dalam yang kedua. Saat seseorang menghadapi buku yang sulit, ia diundang untuk “mengangkat dirinya sendiri dari keadaan memahami lebih sedikit ke memahami lebih banyak, dengan kekuatan pikirannya sendiri” (Adler & Van Doren, 1972, hlm. 😎.

Namun di sinilah kesulitan sejati dimulai. Dalam masyarakat yang mendewakan kecepatan, efisiensi, dan hasil instan, membaca dengan lambat, menyelami kalimat demi kalimat, mempertanyakan argumen dan logika, dianggap aneh, bahkan tidak produktif. Di tengah budaya yang menyukai kesimpulan cepat dan pendapat siap saji, membaca secara mendalam menuntut perlawanan terhadap kenyamanan. Tidak heran jika James Baldwin pernah berkata, “You think your pain and your heartbreak are unprecedented in the history of the world, but then you read.” Membaca mengoyak ilusi keunikan penderitaan, sekaligus memperlihatkan bahwa kejujuran emosional dan intelektual memiliki sejarah yang panjang dan menuntut tanggung jawab.

Dalam konteks inilah, membaca menjadi tindakan pedagogis dan spiritual, sebagaimana dijelaskan Parker J. Palmer dalam The Courage to Teach. Palmer meyakini bahwa keberanian mengajar adalah keberanian untuk membuka diri, mengakui luka, dan mempertemukan jiwa dengan dunia secara utuh. Tetapi hal yang sama berlaku dalam membaca: kita membaca dengan seluruh keberadaan kita, bukan hanya dengan otak. “We teach who we are,” tulis Palmer (2007, hlm. 10), dan dalam versi lain, bisa dikatakan: kita membaca sebagaimana kita berani menjadi diri sendiri. Jika kita membaca hanya untuk mengkonfirmasi apa yang kita tahu, maka kita tidak pernah sungguh-sungguh membaca. Tetapi jika kita membuka diri untuk diubah, diperbaiki, bahkan diguncang oleh apa yang kita baca — maka membaca menjadi keberanian untuk tumbuh.

Keberanian membaca juga berarti menolak untuk diam terhadap narasi-narasi yang membelenggu. Buku-buku besar seringkali bukan yang menyenangkan, melainkan yang menggugat. Mereka tidak menawarkan pelipur lara, tapi peta menuju pertanyaan-pertanyaan yang telah lama dikubur oleh sistem. Membaca menjadi tindakan politik ketika kita tidak hanya mengonsumsi teks, tapi juga menolaknya, menginterogasinya, dan membangunnya ulang. Adler dan Van Doren menekankan pentingnya analytical reading dan syntopical reading — dua tingkat membaca yang bukan hanya menyerap isi, tetapi membandingkan, menimbang, dan membentuk opini berdasarkan berbagai sumber yang dipahami secara kritis (1972, hlm. 163–205).

Hal ini menuntut pembaca untuk keluar dari zona nyaman intelektual. Mereka tidak lagi menjadi konsumen narasi, melainkan pelaku perlawanan epistemik. Maka keberanian membaca bukan soal berapa banyak buku yang dibaca, tetapi seberapa dalam pembaca berani mendengar suara lawan, seberapa jujur ia terhadap kebodohan dirinya sendiri, dan seberapa sabar ia menempuh jalan sunyi menuju pemahaman. Inilah keberanian yang tak kelihatan, tapi menentukan kualitas peradaban.

Baldwin benar — penderitaan bisa terasa asing dan menyesakkan, sampai seseorang membaca dan menyadari bahwa ada luka yang diwariskan, ada keberanian yang diam-diam terus hidup dalam teks, dan ada ajakan untuk tidak menyerah terhadap kekelaman. Membaca menjadi jembatan antara kesendirian dan sejarah kolektif. Seperti kata Palmer, “truth is an eternal conversation about things that matter, conducted with passion and discipline” (2007, hlm. 105). Membaca adalah keberanian untuk bergabung dalam percakapan itu, meski dengan suara gemetar.

Lebih dari itu, membaca yang berani menolak simplifikasi. Di era media sosial yang membatasi ekspresi pada 280 karakter, membaca adalah bentuk perlawanan terhadap penyederhanaan yang membunuh nuansa. Membaca melatih kita untuk menerima ambiguitas, menimbang dilema, dan hidup dengan ketegangan antara dua kutub makna. Adler menegaskan bahwa seorang pembaca harus “berdiskusi” dengan buku: menyetujui, menolak, bertanya, dan menambahkan (1972, hlm. 163–164). Ini adalah latihan dialog — antara teks dan pembaca, antara masa lalu dan sekarang, antara yang tertulis dan yang tersembunyi.

Dalam dunia yang penuh ketergesaan, keberanian membaca adalah kesediaan untuk berhenti, diam, dan mendengarkan dengan saksama. Dalam dunia yang dijejali fakta, keberanian membaca adalah memilih pemahaman yang mendalam. Dalam dunia yang memuja hiburan, membaca adalah latihan kehadiran yang menantang. Dan dalam dunia yang takut pada kebenaran, membaca adalah panggilan untuk menjadi utuh, jujur, dan bebas.

Jadi ketika kita berkata, “Membaca adalah tindakan berani,” kita sedang berkata bahwa membaca adalah tindakan manusia yang paling radikal — karena ia tidak hanya mengubah cara kita melihat dunia, tapi juga mengubah siapa diri kita dalam dunia itu. Dan dalam keberanian membaca itu, dunia yang diwariskan bisa digugat, dan dunia yang baru bisa dirintis — satu halaman, satu pikiran, satu hati pada satu waktu.

Daftar Pustaka

Adler, M. J., & Van Doren, C. (1972). How to Read a Book: The Classic Guide to Intelligent Reading (Revised and Updated Edition). Touchstone.

Palmer, P. J. (2007). The Courage to Teach: Exploring the Inner Landscape of a Teacher’s Life (10th Anniversary Edition). Jossey-Bass.

Writer: Abdul Karim

Editor: Redaktur

Previously

Jombang Bangkit: Event Musik Nasional Obati Kerinduan Warga Akan Pementasan Musik

Next

Pelawak JTV di Balai Desa Jogoloyo Sumobito.

admin
Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mata Jombang
advertisement
advertisement